BETAPA sulit mencari orang yang jujur. Secara fisik tampilannya alim, sopan santun, ramah, cerdas, rajin beribadah, tetapi belakangan diketahui dia seorang koruptor, penipu dan kriminal. Ternyata, di balik wajah manusianya, tersembunyi perilaku setan yang tidak baik.

Malahan ada yang mengatakan, setan lebih jujur daripada manusia:

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada iblis/setan, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis/setan segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
”Siapa selanjutnya?”
”Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
”Lalu siapa lagi?”
”Orang Alim dan wara’ (Loyal).”
”Lalu siapa lagi?”
”Orang yang selalu bersuci.”

 

Filsafat kejujuran:

1.Kejujuran tidak selalu baik

Sesungguhnya kehidupan ini selalu terbagi dari dua kategori secara ekstrim. Ada siang ada malam. Ada panas ada dingin. Ada pandai ada bodoh. Ada cepat ada lambat. Demikian juga dengan kejujuran. Ada kejujuran yang baik dan ada kejujuran yang tidak baik.

2.Kejujuran iblis/setan tidak baik

Walaupun iblis/setan jujur, namun motivasi ataupun tujuannya tidak baik, yaitu membenci umat penganut Nabi Muhammad SAW juga mempengaruhi manusia untuk berbuat tidak jujur.

3.Kejujuran iblis/setan

Jadi, iblis/setan memang jujur. Dia jujur mengatakan bahwa tugasnya di dunia adalah mempengaruhi manusia untuk tidak berbuat tidak jujur. Antara lain berbohong, korupsi, suap, sogok, pungli, memeras, nepotisme, kolusi, menipu dan perbuatan kriminal lainnya.

Catatan:

Artikel ini artikel filsafat dan mohon dipahami dari sudut ilmu filsafat juga. Sebab jika ilmu filsafat dipahami dari ilmu lain akan terjebak pada kesimpulan yang keliru (category logic error).

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Oleh: ffugm | November 29, 2011

LOGIKA: Logika-Logika Sekitar Kasus Bank Century

SEMALAM, Selasa, 29 Nopember 2011, saya selama hampir tiga jam mengikuti dan mencermati acara Indonesia Lowyer Club (ILC) di TVOne. Ada beberapa pendapat yang masih tersimpan di memori saya.

 Pendapat-pendapat tersebut.

Siapa yang berpendapat bagi saya tidak penting.  Sebab, bagi ilmu logika, yang penting adalah pendapat-pendapat itu sendiri.

1.Pendapat bahwa adanya beberapa kejanggalan yang dilakukan oleh BI (Boediono) dalam proses pembuatan kebijakan bailout Bank Century.

2.Pendapat bahwa Bank Century sudah “cacat sejak dalam kandungan”.

3.Pendapat bahwa uang Bank Century dirampok pemiliknya. Yaitu, sekitar Rp 3 T dirampok dua orang asing (Hesham Al Waraq dan Ravat Ali Rizvi atau HAW dan RAR),dan sekitar Rp 3 T dirampok Robert Tantular .

4.Pendapat nasabah Bank Century yang tertipu ulah Antaboga sekitar 114 orang dan uangnya tetap di Bank Century atas nama Antaboga. Jumlahnya sekitar 1,7 T

5.Pendapat bahwa uang negara Rp 6,7 T masih ada di penerus bank Century, yaitu Bank Mutiara.

Pertanyaannya

1.Kasus Bank Century sudah ada sejak lama, tetapi kenapa Boediono tetap “ngotot” melakukan bailout dengan cara-cara yang tidak lazim? Antara lain mengubah peraturan tentang ketentuan besarnya CAR,dll.? Ada apa?

2.Bukankah uang yang dirampok dua orang asing (HAW dan RAR) dan Robert Tantular nilainya sekitar Rp 6 T? Jika ditambah uang nasabah korban Antaboga sekitar Rp 1,7 T dan jika dijumlah Rp 6,7 T? Apakah benar demikian?

3.Bukankah dengan demikian uang Bank Century yang mengalir liar jumlahnya Dengan demikian dikesankan uang Bank Century-lah yang mengalir liar (kabarnya,termasuk ke salah satu tim sukses capres tertentu) dan bukan uang negara?

4.Bukankah dana talangan semula hanya Rp 689 M kemudian membengkak Rp 6,7 T. Kemana selisinya senilai Rp 6,011 T?

5.Benarkah uang negara Rp 6,7 masih ada dan dikelola Bank Mutiara (penerus Bank Century?).

Logika-logika yang realistis

1.Bank Century sudah cacat/bermasalah sejak awalnya. Tidak mungkin Gubernur Bank Indonesia (Boediono) tidak tahu itu. Terlalu kalau tidak tahu.

2.Gubernur Bank Indonesia, tentu tahu kemana aliran dana dana bailout Rp 6,7 T itu.Terlalu kalau tidak tahu.

3.Gubernur BI pasti tahu dibawa kemana saja penarikan cash sebanyak itu. Gubernur BI dan para deputi gubernur BI wajib tahu kemana uang itu dikirimkan dan siapa yang akan menerimanya di alamat tujuan. Dan Boediono pasti tahu kemana aliran dana bailout yang tidak sampai ke bank Century. Terlalu kalau tidak tahu.

Kuncinya di hasil audit forensik BPK

Rasa-rasanya tak ada gunanya berdebat soal sistemi atau tidak sistemik. Logikanya, uang negara sebesar Rp 6,7 terlanjur mengalir. Jadi, logika yang benar yaitu logika untuk mengetahui aliran dana Bank Century. Tepatnya, kemana uang Rp 6,7 T itu mengalir? caranya, BPK harus melakukan audit forensik.

 

Info hari ini (Senin,28 November), BPK telah menyelesaikam 70% aliran dana Bank Century yang katanya akan selesai 100% pada 23 Desember 2011 dan akan diserahkan ke DPR. msalahnya, Tim Pengawas Bank Century telah habis masa tugasnya pada awal Desember 2011.

Jika BPK benar-benar serius mengurai 100% aliran dana Bank Century (dari siapa untuk siapa), maka kasus ini akan menjadi terang benderang.

Langkah selanjutnya?

Jika laporan hasil audit forensik BP telah diterima DPR, apa langkah selanjutnya?

Sebab, hasil audit tersebut bisa berkata:”Tidak ada kasus korupsi” atau “Ada kasus korupsi”. Jika ada kasus korupsi, DPR bis mendesak KPK untuk menangani kasus-kasus tersebut. Tetapi jika hasilnya “ Tidak ada kasus korupsi”, apa yang akan dilakukan DPR?

Logika terakhir

Ada kasus korupsi atau tidak ada kasus korupsi, Pansus DPR dulu sudah memilih opsi C yang menyatakan adanya kesalahan kebijakan yang dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia (saat itu Boediono). Kalau begitu, DPR perlu mengajukan opsi C tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Jika ditolak MK, kasus Bank Century selesai. Jika diterima, bisa dilanjutkan ke Hak Menyatakan Pendapat (HMP).Jika HMP ditolak, persoalan selesai. Jika diterima, bisa dilanjutkan. Ada pemakzulan atau tidak ada pemakzulan, lain persoalan.

Logika yang benar

Yang penting kasus Bank Century harus segera diselesaikan, baik secara hukum maupun secara politik. Itu logika yang benar.

Kata-kata bijak

1.Sepandai-pandainya orang menyimpan barang busuk, cepat atau lambat, suatu saat nanti akan tercium juga bau busuk itu.

2.Di dunia ini, tidak ada kejahatan yang 100% sempurna.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SYIRIKISME memang merupakan perilaku buruk seseorang. Namun, perilaku itu lebih dipengaruhi cara berpikir yang buruk. Oleh karena itu artikel ini lebih menitikberatkan aspek pemikiran daripada aspek perilaku fisik.

Definisi syrikisme

Definisi umum “syirik” atau “syirikisme” yaitu cara berpikir yang menuhankan sesuatu selain Allah swt”. Ada syirik sosial, ada syirik narsis, ada syirik politik ,ada syirik hedonis, syirik materialis dan masih ada beberapa macam syirik lainnya.

 

Syirik sosial

Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang mengabaikan kepentingan rakyat demi kepentingan dirinya sendiri. Misalnya, pada saat rakyat bergelimpangan terluka, kelaparan, kedinginan dan tewas karena bencana alam, ternyata pemimpin atau wakil rakyat kita jalan-jalan ke luar negeri (ke Jerman, Italia dan lain-lain).

Syirik narsis

Yaitu sikap seorang pemimpin, wakil rakyat atau masyarakat yang menuhankan gelar haji atau gelar hajah maupun gelar akademis maupun pangkat dan jabatan. Seolah-olah mereka merasa tak dihargai dan tidak  oleh orang lain kalau tidak memakai gelar, pangkat atau jabatan tersebut. Baginya, gelar haji/hajah/sarjana, pangkat dan jabatan adalah “tuhan” mereka.

Syirik politik

Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang pergi ke dukun atau paranormal dengan tujuan bisa memenangkan pemilu ataupun pilkada. Artinya, mereka menuhankan dukun atau paranormal daripada menuhankan Allah swt demi kepentingan politiknya.

Syirik hedonis

Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang menuhankan harta dengan cara melakukan korupsi, suap ataupun pemerasan ataupun melalui kejahatan kerah putih untuk memperkaya diri sendiri maupun golongannya. Termasuk syirik hedonis yaitu hidup bermewah-mewah. Mobil menteri yang mewah (padahal bisa pilih yang sederhana), gedung DPR baru yang mewah (padahal bisa memaksimalkan atau memodifikasi gedung yang sudah ada).

Syirik materialis

Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang semata-mata memanfaatkan jabatannya untuk mengejar kekayaan berpa uang, harta benda atau materi secara berlebihan. Dengan kata lain, mereka telah menuhankan uang, harta benda atau materi. Mereka menyembah harta benda atau materi. Seolah-olah mereka tidak bisa hidup dan akan menderita jika tidak hidup kaya raya secara berlebihan.

Agama dipahami hanya kulit-kulitnya saja

Pada dasarnya, mereka yang berpikiran dan berbuat syirik dilakukan oleh sebagian pemimpin dan wakil rakyat yang bermoral syirik karena agama dipahami hanya kulit-kulitnya saja. Mereka merasa suci saat mengikuti ceramah agama. Begitu selesai ceramah agama, mereka kembali ke moral syiriknya lagi.

Rajin shalat saja tidak cukup

Banyak pemimpin dan wakil rakyat merasa cukup bersih manakala shalat. Seolah-olah tak punya dosa. Seolah-olah suci. Padahal, shalat harus diikuti dengan tindakan nyata. Tidak korupsi, tidak melanggar peraturan lalu lintas dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Juga harus bermoral dan beretika yang baik.

Pengertian kurban yang keliru

Banyak pemimpin dan wakil rakyat beranggapan, kalau pada Idhul Adha mengurbankan kambing atau sapi, maka mereka merasa telah berkurban. Padahal, pengertian pengurbanan bagi seorang pemimpin atau wakil rakyat lebih luas. Yaitu, mereka harus rela mengurbankan kepentingan pribadi dan partai politiknya, demi kepentingan rakyat. Sampai hari ini, kita belum memiliki seorang pemimpin atau wakil rakyat seperti itu, kecuali Bung Karno yang rela dipenjara demi kepentingan negara dan bangsa. Juga kecuali para pahlawan yang rela mengurbankan nyawa demi kemerdekaan republik Indoneia.

Hanya bangsa yang benar-benar menghayati agamanya secara benar yang akan terhindar dari berbagai sikap syirik dan sekaligus akan terhindar dari berbagai macam bencana.

Sumber gambar: politik2009.blogspot.com

Catatan:

Artikel ini adalah artikel filsafat. Bukan artikel agama.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku pemikiran

Sejak 1973

 

ORANG Indonesia itu banyak yang asal bicara tetapi tidak didukung argumentasi atau penaaran yang jelas. Misalnya, mengatakan orang lain cara beroikirnya mundur. Tidak maju. Tetapi kalau ditanya cara berpikir mundur itu bagaimana? Cara berpikir maju itu bagaimana? Jawabannya ngawur.

Dunia berpikir atau dunia pemikiran adalah dunia ilmu filsafat. Oleh karena itu telaah pemikiran adalah telaah filsafat. Dan tujuan artikel ini adalah membuka cakrawala pemikiran yang jelas agar kita tidak asal bicara.

Jadi,ada dua macam pemikiran

1.Pemikiran mundur

2.Pemikiran maju

 

ad.1.Pemikiran yang mundur

Pemikiran adalah cara berpikir, cara bernalar atau cara berlogika. Tiap cara berpikir pasti mengandung implikasi atau akibat. Tiap akibat bisa bersifat positif atau negatif. Jika implikasinya banyak negatifnya, maka itulah cara berpikir mundur.

Contoh:

Ada yang  mengusulkan agar jumlah parpol di Indonesia tidak dibatasi dengan alasan demokrasi.Ini cara berpikir mundur sebab semakin banyak parpol, maka implikasi negatifnya cukup banyak. Antara lain, rakyat semakin bingung melihat banyaknya partai. banyaknya partai akan mengakibatkan banyaknya anggota DPR yang harus digaji memakai uang rakyat. gaji diambil dari APBN. Dengan kondisi APBN yang banyak utang, maka semakin banyak anggota DPR semakin berat beban APBN. Dengan demikian, semakin banyak parpol semakin membebani APBN sekaligus membebani rakyat.

Alasan demi demokrasi memang baik. Tetapi kalau implikasi atau dampak negatifnya cukup banyak, maka cara berpikir demikian merupakan cara berpikir yang mundur. Sebab, tidak efisien dan tidak juga efektif.

ad.2.Pemikiran yang maju

Pemikiran adalah cara berpikir, cara bernalar atau cara berlogika. Tiap cara berpikir pasti mengandung implikasi atau akibat. Tiap akibat bisa bersifat positif atau negatif. Jika implikasinya banyak positifnya, maka itulah cara berpikir maju.

Contoh:

Sayalah yang mengusulkan KTP Nasional. Usul tersebut dimuat di Harian Suara Pembaruan/ Sinar Harapan . Dasar pemikirannya yaitu, KTP Nasional yang dilengkapi NIK (Nomor Induk Kependudukan), sidik jari dan microchips dan bahkan barcode akan punya banyak dampak positif. Apalagi jika didukung management information system (MIS) secara online. Memang perlu dana besar, namun dampak positifnya lebih banyak. Antara lain, menghindari adanya KTP palsu, menghindari adanya KTP ganda. Memuat data-data kependudukan yang lengkap atau database kependudukan yang lebih lengkap dan mudah diupdate. NIK juga berguna untuk menertibkan administrasi kependudukan dan administrasi surat-surat penting (sertifikat tanah, surat pernikahan, dan surat-surat penting lainnya).

Kesimpulan

1.Pemikiran yang mundur yaitu maksudnya baik tetapi memiliki banyak dampak negatif

2.Pemikiran yang maju yaitu maksudnya baik dan memiliki banyak dampak yang positif pula.

Dunia pemikiran adalah dunia filsafat. Oleh karena itu, bila Anda berbicara tentang dunia pemikiran, Anda harus memahami dunia ilmu filsafat. Dengan demikian argumentasi atau penalaran Anda akan punya basis yang kuat.

 

Hariyanto Imadha

Alumni Fakultas Filsafat

SAYA dapat pertanyaan bagus dari salah seorang Facebooker:” Apa Sih Beda Cara Berlogika Sarjana dan Bukan Sarjana?”. Pertanyaan tersebut penting untuk saya jawab. Sebab, saya sebagai alumni fakultas filsafat sangat sering mendengar penalaran-penalaran yang seharusnya tidak diucapkan oleh orang yang berpredikat sarjana, baik S1, S2 maupun S3.

Banyak orang berkata sinis:” Buat apa belajar ilmu logika? tanpa belajar ilmu logika saya juga berlogika”. Atau :”Ilmu logika itu kan silogisme. Apa sulitnya?” Pendapat tersebut tentu diucapkan oleh orang yang sangat awam ilmu logika.

Secara umum, ada dua macam logika,yaitu:

1.Logika spekulatif (logika awam) : Tidak mengerti, tetapi berkomentar

Bersifat subjektif.

2.Logika ilmiah (logika sarjana) : Mengerti dan berkomentar

Bersifat objektif.

 

ad.1.Logika spekulatif

Yaitu logika yang tidak didukung formula-formula logika yang benar. Semua orang bisa berlogika secara spekulatif, termasuk tukang ojek, pelacur, perampok, koruptor, anggota DPR, pengkhianat, polisi, pengemis dan lain-lain. namun, karena mereka berlogika secara spekulatif, maka cara berlogikanya banyak salahnya.

 

Ciri-ciri logika spekulatif:

-A priori dan subjektif

Apriori yaitu, belum tahu atau belum mengerti, tetapi langsung memberikan penilaian

 

-Contoh 1:

Si A adalah ahli pembuat kanopi/atap motor.

Si B yang bukan ahli kanopi motor berkomentar:” Ah, kanopi motor kan tidak tahan angin”

 

Tentu, logika Si B bukan logika sarjana, sebab dia tidak memahami ilmu yang berhubungan dengan cara membuat kanopi (antara lain: aerodinamika, ergonomi, antropometri, estetika produk, aspek hukum dan lain-lain).

 

-Contoh 2:

Banyak sarjana menggunakan gelar S-1 dan S2 sekaligus. Misalnya: SH,MH dan lain-lain. Tentu, itu cara berlogika yang salah. Sebab, sesudah S1, kemudian S2. maka, S1 tidak perlu dipakai karena sudah S2. Analogikanya: Sesudah Letkol, adalah Kol. Jadi yang dipakai bukan LetkolKol, tetapi Kol atau Kolonel saja.

 

ad.2.Logika ilmiah

Yaitu logika yang disusun berdasarkan kaidah-kaidah ilmu logika. Tidak hanya silogisme, tetapi juga ada sekitar 1.000 formula logika yang harus diikuti. Dengan kata lain, logika ilmiah adalah logika berdasarkan fakta terutama fakta empiris. Empiris bisa berarti fisik bisa berarti nonfisik.

 

Ciri-ciri logika ilmiah

-Empiris atau aposteriori , faktual dan objektif

Yaitu, cara berpikir berdasarkan pengalaman benar yang bisa diulangi dan diuji berkali-kali, baik secara fisik maupun melalui pemikiran. Berdasarkan fakta atau memiliki nilai kebenaran yang tinggi. Biasanya ddukung ilmu pengetahuan yang relevan.

 

-Contoh 1:

Si A adalah sarjana filsafat dan memahami ilmu logika. Semua artikel ataupun status di Facebook tentu ditulis secara tidak ngawur. Sudah melalui proses berlogika sebelumnya, sehingga apa yang ditulis sudah pasti benar. Misalnya, Si A membuat artikel psikologi berdasarkan referensi-referensi ilmiah yang sebelumnya sudah dibacanya dan referensi-referensi itu juga sudah terbukti kebenarannya. Jadi, Si A menulis karena “tahu”, dan karena “mengerti”.

 

-Contoh 2:

Si A adalah seorang mantan konsultan manajemen. Berdasarkan pengalaman kerjanya, tentu dia tahu apa bedanya “manajemen” dan “sistem”. tahu bedanya “sistem yang baik” dan “sistem yang tidak baik”. Tahu bedanya “subsistem” dan bukan “subsistem”. Tahu bahwa istilah “Inggris” itu salah. Tahu bahwa kata “fotocopi” itu salah. Dia tahu yang benar sebab dia memahami ilmu yang bersangkutan, antara lain ilmu manajemen, ilmu bahasa, dll.

 

Kesimpulan

1.Logika spekulatif (logika orang awam) yaitu cara berlogika berdasarkan “ilmu kira-kira”. Jadi, bernada snob )sok tahu, sok mengerti dan sok pintar)

2.Logika ilmiah (logika sarjana atau logika akademis) yaitu cara berlogika berdasarkan kaidah-kaidah ilmu logika didukung pengetahuan dan atau ilmu pegetahuan yang relevan

 

Catatan:

Logika sarjana tidak harus sarjana filsafat.Tidak harus sarjana. Melainkan seseorang yang benar-benar memahami kaidah-kaidah ilmu logika ilmiah dan memiliki pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan yang mendukung. Bisa diperoleh dengan cara membaca banyak buku tentang ilmu logika ilmiah dan berbagai buku-buku ilmu pengetahuan.

 

Semoga bermanfaat

 

Sumber gambar: antilogin.blogspot.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Oleh: ffugm | November 17, 2011

LOGIKA: Faktor Kebetulan di Dalam Sebuah Kehidupan

ADA yang berpendapat bahwa kehidupan ini semuanya ditentukan Tuhan (determinisme). Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan ini tergantung manusianya (freedom). Padahal yang benar adalah perpaduan antara determinisme dan freedom. Juga adanya faktor-faktor kebetulan (by accident).

Bahkan Carl Gustav Jung mengatakan “Hanya orang bodoh yg percaya kepada kebetulan”. Sementara Albert Eistein mengatakan “Tuhan tidak bermain dadu”. Harus dipahami bahwa Carl Gustav Jung adalah pakar psikologi, bukan pakar ilmu logika. Sementara Albert Eistein adalah pakar Ilmu Fisika, bukan pakar ilmu logika. Artinya, apa yang mereka katakan harus dipahami dalam konteks yang benar. Keduanya hanya berpikiran berat sebelah, yaitu hanya percaya adanya determinisme. Sebuah logika yang tidak sempurna.

Determinisme
Sesungguhnya semua ciptaan Tuhan sudah dilengkapi dengan “program” yang akan terjadi dengan sendirinya. Untuk alam sudah dilengkapi dengan “logika alam” atau “hukum alam” dan untuk manusia dilengkapi dengan “logika manusia” atau hukum manusia.

Freedom
Kalau Nabi Aam dan Siti Hawa memakan buah terlarang, itu bukan karena determinisme, tetapi karena Nabi Aam dan Siti Hawa menggunakan freedom yang dimilikinya.

By Accident
Kenapa SBY yang terpilih sebagai presiden? Kebetulan, SBY (yang memiliki freedom) ikut dalam pemilu. Secara kebetulan pula 62% pemilihnya masih buta politik.Mereka memilih presiden hanya berdasarkan “ilmu kira-kira” yang bersifat spekulatif.

Perpaduan determinisme,freedom dan by accident
Sesungguhnya semua ciptaan Tuhan memiliki ketiga aspek tersebut. Dan ini hanya bisa dipahami di dalam konteks Logika Tuhan. Bukan di dalam konteks Logika Manusia

Perlu mendalami ilmu filsafat
Artikel saya tentang filsafat sebenarnya sudah menggunakan istilah sederhana yang mudah dipahami. Namun, kalau dibaca oleh orang yang tidak punya basis ilmu filsafat, tentu dianggap aneh. Bahkan mungkin dianggap salah dan ditertawakan. Tidak apa-apa. Sebagai penulis pencerahan (sejak 1973) saya sering menemukan adanya komen-komen oleh orang yang sesungguhnya tidak memahami artikel yang saya buat.

Catatan:
Kata “determinisme”,”freedom” dan “by accident” harus digunakan pada “case” yang tepat.

Sumber foto: jelajahunik.blogspot.com

Hariyanto Imadha
Facebook/Blogger

Oleh: ffugm | November 15, 2011

FILSAFAT: Indonesia Dilanda Kufur Ayat

JAKARTA-Pimpinan Pondok Pesantren “Al Kautsar”, Ustadz Purnama Girsang mengatakan bangsa Indonesia saat ini dilanda kufur ayat. Ritual hanya terlihat di fisik, tapi hatinya belum ritualis.

Saat dihubungi “Harian Terbit” di Jakarta, Girsang mengatakan, Indonesia hanya tampak kesalehannya ritual, tapi jauh dari kesalehan sosial. Akibatnya, dekadensi moral, rusaknya etika dan akhlak,hilangnya perilaku sopan-santun,terkikisnya rasa malu dan menurunnya rasa kepedulian sosial kini mulai melanda hebat bangsa kita.

Umat Islam di Indonesia, kata Girsang, diharapkan segera kembali ke jalan Allah dan takut kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ustadz Girsang yang saat ini berkiprah di Desa Panei Tongah, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara ini mengatakan berbagai kemunkaran sekarang ini tengah melanda di masyarakat. Hal ini sangat meresahkan kita semua. Karena sekalipun kita tahu pemerintah banyak menghadapi berbagai hal, namun UU Pornografi yang sudah disahkan sejak lama, sudah saatnya diberlakukan secara nyata. Hali ini penting, demi menjaga keselamatan generasi kita dari kehancuran,sekarang maupun di masa mendatang.

Lebih lanjut, P Girsang mengingatkan kalau sekarang ini masih ada kalangan selebritis dan kalangan pejabat yang melanggar, tidak menjalankan amanah, bahkan kalaupun ada yang melakukan perbuatan tidak terpuji, kita berharap agar segeralah kembali ke jalan yang benar dan menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, sebelum Allah ‘menutup’ pintu bagi seseorang untuk bertobat.

Indonesia kini dilanda berbagai krisis. Antara lain krisis pendidikan agama di sekolah umum, krisis kepemimpinan, kepercayaan, bahkan krisis keulamaan. Akibatnya, Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim banyak yang kurang memahami Islam secara kaffah (H.Zainal).

Sumber:Harian Terbit, Senin, 21 Juni 2010.

 

Komentar:

1.Shalatnya pura-pura (kelakuan aslinya tidak berubah)

2.Puasanya pura-pura (kelakuan aslinya tidak berubah)

3.Membaca Al Qur’annya pura-pura (kelakuan aslinya tidak berubah)

4.Sopan santunnya dan pakaian muslim/muslimahnya pura-pura (kelakuan aslinya tidak berubah)

5.Haji/hajahnya pura-pura (kelakuan aslinya tidak berubah)

 

Hasilnya:

-Penegakan hukumnya pura-pura

-Pemberantasan korupsinya pura-pura

-Pemerintahnya dan wakil rakyatnya pura-pura

-Demokrasinya pura-pura

-Reformasinya pura-pura

-Kemakmurannya pura-pura

-Kemajuan ekonominya pura-pura

-Anggaran pro-rakyatnya pura-pura

-Nasionalismenya pura-pura

-Pancasilanya pura-pura

 

Sumber gambar/foto: cahaya-iman.web.id

 

Hariyanto Imadha

Penulis Kritik Pencerahan

Sejak 1973

 

DISKUSI yang menjadi bahan pembicaraan minggu ini adalah banyaknya anggota DPR yang menggunakan mobil mewah dengan harga di atas Rp 1 M. Menanggapi hal tersebut, tentu ada pihak-pihak anggota DPR yang “membela diri”.

Pembelaan anggota DPR:

1.Cuma sedikit
Katanya, yang punya mobil mewah cuma sedikit.
2.Sudah kaya sejak dulunya
Katanya, anggota DPR yang membawa mobil mewah sudah sejak dulunya kaya. Apalagi dia juga pengusaha besar.
3.Urusan pribadi
Katanya, mau memakai mobil mewah atau tidak itu urusan pribadi. Bukan urusan orang lain.

Analisa
1.Cuma sedikit
Iya,sih.Paling hanya sekitar 30% anggota DPR yang menggunakan mobil mewah. namun, yang dipersoalkan bukan sedikit atau tidak sedikitnya, tetapi soal pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau sedikit lantas bisa dibenarkan?

2.Sudah kaya sejak dulunya
Memang, banyak anggota DPR yang sebelum menjadi anggota DPR sudah kaya. Namun, yang dipersoalkan bukanlah sudah kaya sebelumnya atau belum kaya sebelumnya, tetapi soal pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau sudah kaya sebelumnya bisa dibenarkan?

3.Urusan pribadi
Katanya, memakai mobil mewah adalah hak setiap orang yang memiliki. Namun, yang dipersoalkan adalah pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau itu hak pribadi seseorang lantas bisa dibenarkan?

Krisis penalaran
Jawaban-jawaban anggota DPR tersebut di atas merupakan indikator adanya “krisis penalaran” di sebagian anggota DPR. Tampak sekali mereka mengalami “error logic” yang tidak mereka pahami.

Pendapat dari sudut psikologi
Pemikiran psikologi mengatakan bahwa, sikap-sikap di atas termasuk sikap-sikap antisosial. Tidak ada rasa empati terhadap masyarakat. Tidak punya hati nurani. bahkan termasuk gejala adanya pengidap psikopat. Demikian pendapat Prof.Dr.Hare dalam bukunya berjudul “Without Conscience” (“Tanpa Hati Nurani”)
Pendapat dari sudut filsafat sosial
Argumentasi-argumentasi anggota DPR yang bernada membela diri itu jelas tidak berbasiskan pada penilaian sosial atau penilaian masyarakat. Mereka tak menyadari bahwa mereka hidup di lingkungan masyarakat yang faktanya masih banyak yang miskin. Seharusnya sebagai wakil rakyat mereka menunjukkan kesederhanaan agar tidak menyakiti hati masyarakat. Seharusnya memberikan contoh yang baik kepada rakyat yang diwakilinya. Jelas, pamer mobil mewah, sengaja atau tidak, tidak sesuai dengan azas kelayakan atau azas kepatutan yang berlaku di masyarakat. Dan itu merupakan “penyakit penalaran”.

Sumber foto: tmcblog.com

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

SAYA sangat menghargai perbedaan pendapat. Namun kalau pendapat itu terasa kurang tepat, tentu saya berkewajiban untuk meluruskannya (sesuai dengan bidang ilmu pengetahuan yang saya fahami).

Misalnya, terlalu sering saya mendengar kalimat :

“Walaupun sistemnya baik, kalau SDM buruk, maka akan menghasilkan output yang buruk pula”.

Di dalam ilmu logika, kalimat itu dinamakan “Bias Logic Error” atau “Kerancuan Berpikir”. Sebab, kata demi kata harus dipahami dengan benar sehingga tidak akan menghasilkan kesimpulan yang bias (kelihatannya benar, padahal sebenarnya kurang benar).

Dari kata “Walaupun SISTEM-nya baik, kalau SDM buruk, maka akan menghasilkan OUTPUT yang buruk pula”, maka ada tiga substansi yang harus kita pahami semantik atau makna katanya, yaitu:

-sistem

-SDM

-output

Apakah sistem itu?

Sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.(L. James Havery).

Apakah SDM itu?

Sumber daya manusia adalah orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya atau the right man in the right place (A.F. Stoner)

SDM atau manusia merupakan bagian dari sistem sedemikian rupa sehingga mau tidak mau manusia harus mengikuti sistem itu dan bukan sistem yang mengikuti keinginan manusia.

Apakah output itu?

Output merupakan konsekuensi logis dari hasil proses sebuah awal dari sistem. Output senantiasa identik dengan warna sistemnya.

Syarat-syarat sistem:

1. Sistem harus dibentuk untuk menyelesaikan tujuan

2. Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan

3. Adanya hubungan diantara elemen sistem

4. Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi dan material) lebih penting dari pada elemen sistem

5. Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan elemen

Sehingga:

Sistem yang baik pasti menghasilkan output yang baik pula

Sistem yang buruk,pasti menghasilkan output yang buruk pula

Tidak mungkin sistem yang baik menghasilkan output yang buruk

Tidak mungkin sistem yang buruk menghasilkan output yang baik

 

Sistem yang baik pasti menghasilkan output yang baik pula

Contoh:

Mesin absensi dengan sistem sidik jari tentu akan menghasilkan output yang bisa dipercaya sebab di dunia ini tidak ada orang yang mempunyai sidik jari yang 100 persen sama. Dengan demikian tidak mungkin sistem yang baik ini akan menghasilkan output yang buruk (diwakilkan ke orang lain untuk membubuhkan sidik jarinya).

 

Sistem yang buruk,akan menghasilkan output yang buruk pula

Contoh:

Mesin-mesin ATM yang dibuat menggunakan sistem magnetik sebenarnya sudah dipahami oleh pembuatnya bahwa sistem itu mengandung beberapa kelemahan. Namun karena kebutuhan komersil, dijual juga mesin ATM itu. Hasilnya, mesin ATM itu mudah dibobol dan merugikan banyak orang.

 

Tidak mungkin sistem yang baik menghasilkan output yang buruk

Contoh:

Tuhan menciptakan wajah kita dengan sistem yang sempurna.Lubang hidung ada di bawah (bayangkan kalau lubang hidung di atas). Kedua mata kita ada di depan (bayangkan kalau satu di depan satu di belakang). Daun telinga kita menghadap ke depan. (Bayangkan kalau daun telinga kita menghadap ke belakang). Artinya, sistem wajah kita baik dan tidak mungkin menghasilkan fungsi atau output yang buruk.

Tidak mungkin sistem yang buruk menghasilkan output yang baik

Contoh:

Anda memiliki HP yang tombolnya kacau. Anda tekan A keluar huruf Z. Anda tekan huruf Z keluar huruf G. Anda tekan huruf G keluar huruf U dan seterusnya.

Fakta

Kalau sistem perpajakan kita masih bisa dibobol Gayus Tambunan, berarti bukan sistem perpajakannya sudah baik tetapi manusianya yang buruk. Sistem yang bisa diperalat manusia adalah sistem yang buruk. Kalau sistem perpajakannya sedemikian rupa (tanpa ada sedikitpun kelemahannya), maka praktek-praktek seperti yang dilakukan Gayus Tambunan tak akan terjadi.

Negara lain bisa membuat sistem perpajakan yang baik.Kalau sistem perpajakan di Indonesia bisa dibobol, berarti sistemnya buruk. Sistem yang buruk hanya bisa dihasilkan oleh menteri yang buruk pula.

Contoh sederhana

1.Untuk membuka akun Facebook, Anda harus mengikuti SISTEM login:

-Memasukkan Username (yang benar)

-Memasukkan Password (yang benar)

-Enter

Kalau akun Anda (username dan password) bisa dibajak hacker berarti sistem loginnya buruk. Oleh karena itu manajemen Facebook harus memperbaiki sistem login yang buruk itu.

2.Harga sembako naik secara tidak wajar.

Berarti sistem pemantauan dan pengendalian sembako buruk.

Harga kebutuhan pokok di Malaysia naiknya terkendali

Berarti sistem pemantauan dan pengendalian kebutuhan pokok di Malaysia baik.

 

Kesimpulan

Kata kunci:

Kalau hasilnya buruk, berarti sistemnya buruk

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

PERANG dunia dilakukan oleh siapa? Oleh orang-orang yang beragama ataupun tidak beragama. Terorisme dilakukan oleh siapa? Oleh orang-orang yang beragama dan tidak beragama. Korupsi dilakukan oleh siapa? Oleh orang-orang yang beragama dan tidak beragama. Namun, sebagian besar pelakunya adalah umat beragama.

Apakah agama?

Semua agama di dunia adalah merupakan pedoman tingkah laku. Pada dasarnya semua agama hanya mengajarkan dua hal. Pertama, melaksanakan semua perintah agama. Kedua, menjauhi semua larangan agama.

Apakah manusia?

Ketika manusia lahir, maka dia adalah seorang bayi yang suci murni. Putih bersih tanpa dosa. namun dalam perkembangannya, lingkungan akan mempengaruhi dirinya. Mulai dari lingkungan rumah, tetangga, sekolah, kampus, kantor dan bahkan media massa cetak dan audio visual juga bisa mempengaruhi watak seseorang.

Mempengaruhi cara berpikir dan berlogika

Semua lingkungan berpengaruh terhadap pola berpikir dan berlogika tiap orang. Ada pikiran positif ada pikiran negatif. Begitu banyak persoalan hidup sehingga terkadang sulit membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak.

Manusia punya iman

Jika sejak usia dini diberikan pendidikan agama yang benar, maka besar kemungkinan dia akan berkembang menjadi manusia yang baik.

Pengaruh lingkungan sangat besar

Namun, sebaik-baiknya orang, akan dipengaruhi lingkungan yang demikian dahsyatnya, sehingga orang yang imannya kuatpun kadang-kadang tergoda dan berbuat tidak baik.

Bisikan setan

Perbuatan buruk bisa saja terjadi apabila manusia mengikuti bisikan setan. Mengikuti pikiran-pikiran negatif. Akhirnya manusiapun kalah dan akan mengikuti bisikan setan. maka terjadilah watak dan perilaku yang buruk.

Watak

Watak manusia ada yang relatif permanen dan ada yang relatif tak permanen. Mengubah watak yang relatif permanen hampir tidak mungkin. Sedangkan mengubah watak yang relatif tidak permanen relatif lebih mudah.

Tergantung motivasi

Sesungguhnya yang mampu mengubah watak seseorang bukanlah agama, melainkan motivasi, niat, kemauan yang kuat atau nawaittu yang sangat kuat. Dengan motivasi yang sangat kuat, maka Tuhan akan memberikan jalan.

Bertaubat dan Hidayah

Orang yang benar-benar punya motivasi yang sangat kuat untuk mengubah watak dan perilakunya yang buruk, mau bertobat sungguh-sungguh, niscaya Tuhan akan memberikan jalan menuju hidayah. Dan atas restu Tuhan, maka Tuhanpun menyetujui perubahan watak itu. Bukan Tuhan yang mengubah watak manusia, tetapi manusia itu sendiri. Bukan agama yang mengubah watak manusia, tetapi manusia itu sendiri. Tuhan hanya merestui. Hidayah tidak bisa ditunggu, tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dimohon dengan segala keseriusan.

Catatan

-Saudi Arabia merupakan “Negara yang Paling Islam” di dunia, toh angka kejahatan di negara tersebut cukup tinggi.

-Indonesia merupakan negara yang penduduk Islamnya terbanyak di dunia, toh korupsinya paling tinggi di dunia.

 

Sumber foto: mekarbhuana.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.