Oleh: ffugm | Desember 26, 2007

ARTIKEL

Salam Cogito Ergo Sum

gambarthinkeranimasi

FILSAFAT: Tuhan Tidak Ikut Campur dalam Soal Bencana Alam?

BAGI yang tidak menguasai Ilmu Filsafat memang sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan “Adakah hubungan antara dosa dan bencana?”.”Betulkah Tuhan tidak ikut campur dalam soal bencana alam?” dan “Kenapa kita sudah berdoa namun bencana alam tetap terjadi juga?”. Terus terang ini memasuki wilayah filsafat tinggi. Bahkan saya sempat menyusun Logika Matrik” untuk menjawab pertanyaan seperti itu.

 

Untuk itu kita perlu memahami perbedaan Logika Manusia, Logika Alam dan Logika Tuhan.

1.Apakah Logika Manusia itu?

Logika manusia adalah logika yang secara umum hanya berdasarkan cara berpikir deduktif atau induktif.Kemudian ditarik kesimpulan.Ada dua macam logika manusia, yaitu logika spekulatif dan logika afirmatif.

Logika spekulatif yaitu adanya anggapan-anggapan yang dianggapnya benar, padahal itu keliru.

Misalnya: Mbah Maridjan sholat dan berdoa kepada Tuhan memohon pertolongan agar terhindar dari ancaman bahaya meletusnya Gunung Merapi. Tentu, doanya tidak dikabulkan karena saaat itu yang berlaku adalah logika alam. Gunung Merapi akan meletus sesuai hukum alam yang sudah diprogramkan oleh Tuhan.

2.Apakah Logika Alam itu?

Ketika Tuhan menciptakan dengan cara “Kun fayakun”, maka terjadilah semuanya sesuai dengan hukum masing-masing. Dan untuk alam berlaku logika alam atau hukum alam. Artinya, semua bencana alam yang terjadi di dunia akan terjadi dengan sendirinya sesuai dengan “listing program” yang diciptakan oleh Sang Maha Programmer, yaitu Tuhan. Tuhan memang tak ikut campur dalam hal bencana. Toh, manusia sudah diberi otak untuk berpikir dan agama untuk berkeyakinan. Barangsiapa yang menempati daerah rawan bencana, maka dia termasuk menantang bencana.

3.Apakah Logika Tuhan itu?

Logika ini sangat sulit untuk dipahami.Yaitu, logika rumit yang mengaitkan berbagai hukum yang berlaku.Ada hubungan antara bencana dosa atau antara dosa dan bencana. Ada bencana besar,sedang dan kecil.Ada bencana yang jarang terjadi, kadang-kadang terjadi dan sering terjadi.Ada bencana sebagai ujian/cobaan,peringatan/teguran dan hukuman/azab.Ada bencana yang terjadi di dunia dan ada bencana yang diberikan di akherat nanti.Ada macam-macam bencana:bencana ekonomi,bencana hukum,bencana sosial,bencana politik,bencana moral dan bencana-bencana lainnya.Ada macam-macam akibat bencana:luka, sakit dan meninggal.

Kesimpulan:

-Semua ciptaan Tuhan diberi kebebesan (freedom) dan takdir (determinism)

-Semua ciptaan terikat oleh logika manusia, logika alam dan logika Tuhan.

Solusi

1.Tuhan memberi manusia otak untuk berpikir.Seharusnya manusia tidak bertempat tinggal di daerah rawan bencana.

2.Seharusnya pemerintah mengubah pola pikirnya dari penanggulangan bencana menjadi pencegahan bencana. Antara lain, membangun rumah-rumah yang rawan bencana sedang (zona kuning) dengan bangunan anti gempa dan semacamnya. Merelokasi paksa bagi daerah rawan bencana berat (zona merah) ke daerah aman atau zona hijau.Aktifkan kegiatan-kegiatan simulasi pencegahan, penyelamatan dan penanggulangan bencana di zona merah dan zona kuning.

3.Dalam pemilu:pilihlah pemimpin dan wakil rakyat yang amanah,jujur dan cerdas.

Hariyanto Imadha

FILSAFAT: Banyak Orang Salah Faham tentang Mbah Maridjan

ORANG yang ilmunya sedikit, justru biasanya paling kencang bicaranya. Merasa paling tahu dan paling mengerti. Padahal untuk menilai seseorang itu ada ilmunya. Antara lain, psikologi, ilmu filsafat dan lain-lain. Walaupun sarjana psikologi atau sarjana filsafat, kalau lulusnya tidak cum laude, tentu hasil analisanya masih perlu diragukan. Andaikan Mbah Maridjan punya 10 teman dekat, belum tentu semua teman dekatnya punya penilaian yang sama.

Salah faham 1:Dikira juru kunci Gunung Merapi

Hampir semua orang,mungkin juga semua Facebooker menganggap Mbah Maridjan itu juru kunci Gunung Merapi. Sejak awal saya meragukan predikat itu. Terbukti, Sri Sultan Hamengku Bhuwono X (SSHB X) sendiri yang mengatakan bahwa Mbah Maridjan bukan juru kunci Gunung Merapi, melainkan juru kunci Kraton untuk upacara-upacara tertentu di Gunung Merapi.

Salah faham 2:Bisa membaca roh Gunung Merapi

Orang yang betul-betul faham agama tentu tersenyum mendengar kalimat itu. Tak ada satupun agama di dunia ini yang mengakui bahwa gunung punya roh. Kecuali itu faham animisme.Atau, Mbah Maridjan dianggap punya “ilmu titen”,bisa membaca gejala-gejalan Gunung Merapi dan mengabaikan hasil pemantauan BMKG.Kalau pada gempa tahun-tahun sebelumhya Mbah Maridjan selamat, bisaa saja karena faktor kebetulan.

Salah faham 3:Bisa berkomunikasi dengan Gunung Merapi

Ini juga tak rasional. Pakai ilmu apa? Pakai ilmu metafisikapun tidak mungkin.Pakai ilmu klenik tau mistik juga tak mungkin. Tuhan hanya memberikan bahasa kepaada mahluk hidup, baik itu hewan,manusia,setan maupun malaikat.Tidak kepada benda mati.Atau ada anggapan Mbah Maridjan punya indera keenam,intuisi atau firaasaat yang kuat,yang semuanya belum terbukti secara ilmiiah maupun empiris.

Salah faham 4: Menjaga keseimbangan Gunung Merapi dan Laut Selatan

Karena Keraton Yogyakarta berada antara Gunung Merapi dan Laut Selatan maka supaya Kraton senantiasa aman, perlu sosok yang bisa menyeimbangkan antara Gunung Merapi dan Laut Selatan. Padahal upacara-upacara yang dilakukan hanya merupakan simbol-simbol saja.Toh, Yogya pernah diguncang gempa dahsyat.

Salah faham 5: Menyelamatkan warga Guunung Merapi

Banyak orang mengatakan, Mbah Maridjanlah yang menyelamatkan warganya dari letusan Gunung Merapi. padahal, Mbah Maridjan tahunya Gunung Merapi akan meletus adalah dari Tim SAR atau para petugas vulkanologi.Dan yang menyelamatkan warga sesungguhnya Tim SAR dan organisasi-organisasi sosial lainnya.

Salah paham 5: Dianggap punya jasa yang luar biasa

Salah besar. Mbah Maridjan tidak punya jasa yang hebat. Bahkan Sultan HB X pun melakukan pemakaman Mbah Maridjan biasa-biasa saja. Tak ada acara khusus.

Salah paham 6: Dianggap Mati Khusnul Qotimah

Banyak yang menilai Mbah Maridjan meninggal dalam rangka menjalankan tugas dan meninggal secara khusnul qotimah karena tepat saat shalat. Kalau Mbah Maridjan benar-benar faham ajaran Islam, tentu harus mengerti bahwa menyelamatkan nyawa dari bencana hukumnya wajib (fardlu ain).Soal shalat, seharusnya menyelamatkan diri dan kemudian shalat di tempat yang aman.Bukan shalat di tempat bencana.Kematian Mbah Maridjan juga bukan karena takdir.Tapi salahnya sendiri.

Salah faham 7: Pengabdian yang luar biasa

Tidak juga. Buktinya SSHB X tidak memberikan penghargaan secara berlebihan. Kalau mengabdi sebagai juru kunci keraton itu sudah sewajaarnya dan itu banyak dilakukan para pegaawai keraton (alaupun gajinya kecil).

Salah faham 8: Menganggap Mbah Maridjan sebagai superhero

Saking nggak ngertinya tentang Mbah Maridjan, sampai-sampai ada yang mengusulkan agar Mbah Maridjan diberi gelar pahlawan. Logikanya di mana? Mbah Maridjan itu bukan pahlawan, bukan paranormal, bukan metafisikawan, bukan ahli vulkanologi, bukan ahli psikologi atau filsafat. Mbah Maridjan Cuma menjalankan tugas-tugas keraton untuk mengadakan upacara-upacara selamatan agar warga Gunung Merapi pada khususnya dan warga Yogyakarta umumnya terhindarkan dari bencana. Jadi doa-doa biasa saja. Doa-doa berdasarkan budaya Yogya.

Salah faham 9: Menganggap Mbah Maridjan konsekuen memegang teguh prinsip.

Banyak orang dekat Mbah Maridjan merasa paling mengerti soal Mbah Maridjan.Padahal untuk memahami Mbah Maridjan harus menguasai psikologi,ilmu filsafat secara paripurna. Mmegang teguh prinsip?Prinsip yang mana? Benarkah prinsipnya?

Salah fahan 10: Menganggap Mbah Marijan meninggal demi tugas dan pengabdian

Ada yang menganggap Mbah Maridjan meninggal karena konsekuen dengan tugasnya. Padahal, tugas Mbah Maridjan yang di daapat dari keraton yaitu melakukan upacara doa saja. Jadi, kalau Mbah Maridjan meninggal diserbu “wedhus gembel”, itu bukan karena karena konsekuen dengan tugasnya, tetapi adanya cara berlogika dan keyakinan yang salah.

Catatan:

-Sepuluh kesalahan berlogika di atas di daalam ilmu logikadisebut “Fanatic Logic Error”

-Saya pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM dan sekaligus melakukan survei dan mendapatkan 1.000 cara berlogika yang keliru dari masyarakat Yogya. Hal ini sudah berkali-kali saya muat di Facebook.

Sumber foto : nurdayat.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1973

FILSAFAT:

Andi Mallarangeng Bukan Politisi yang Cerdas

SEJAK 1973 saya memang punya hobi memperhatikan tingkah laku masyarakat. Tingkah laku di sini tidak hanya tingkah laku fisik, tetapi juga tingkah laku ucapan dan tulisan. Dari situ saya bisa menilai struktur logika atau pemikirannya. Itulah sebabnya sejak 1973 saya punya hobi menulis surat pembaca. Sifat surat pembaca saya yaitu memberikan pencerahan kepada pemerintah atau masyarakat tentang hal-hal yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya salah.

Salah satu politisi yang saya perhatikan yaitu Andi Mallarangeng. Di tiap tayangan televisi nada bicaranya bersifat narsis. Selalu menjelek-jelekkan pemerintahan masa lalu seolah-olah pemerintahan SBY merupakan pemerintahan yang terbaik sepanjang sejarah. Lantas menyebutkan kesuksesan-kesuksesan SBY yang sebenarnya merupakan kesuksesan semu.

Saya, sebagai alumni 4 PTN+2 PTS tentu bukan orang yang mudah dibodohi politisi. Dengan bermacam-macam imu pengetahuan yang saya miliki (multidiciplinary approach), dengan mudah saya bisa menilai apakah pendapat seseorang itu benar atau tidak benar.

Terakhir, di depan pers Andi Mallarangeng mengatakan bahwa dua pasangan capres (Mega Prabowo dan JK Wiranto) yang datang ke KPU untuk mempersoialkan kisruh DPT dianggap sebagai pasangan yang takut salah. Sebagai alumni Fakultas Filsafat uGM yang pernah memperdalam ilmu logika dan epistemologi, saya menilai logika Andi Mallarangeng ini merupakan logika yang apriori dan ngawur. Soalnya, dua pasangan capres itu memperjuangkan hak-hak konstitusional warganegara yang kehilangan hak pilihnya.

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Andi Mallarangeng bukanlah politisi yang cerdas. Semua pernyataannya mencerminkan sikapnya yang narsis, apriori dan bermain-main kata dan angka saja.

HARIYANTO IMADHA

Blogger

 

 

 

 


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.