DI Facebook saya sering menulis kalimat “Kaya Di Dunia Miskin di Akherat”. Sebenarnya kalimat ini merupakan salah satu filsafat yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil dan Maha Bijaksana.
Miskin bukan takdir Tuhan
Sesungguhnya kehidupan di dunia ini terjadi secara terprogram dan ada maksudnya. Kalau dikatakan kebetulan, maka yang dimaksudkan kebetulan adalah situasi dan kondisinya.
Misalnya: Si A lahir dari keluarga miskin. Ayah dan ibunya miskin. Tidak berarti Si A akan miskin seumur hidup. Kebetulan, situasi dan kondisinya miskin. Dan semua itu sudah mengikuti program. Kenyataannya, banyak orang miskin yang sukses menjadi kaya. Jadi, miskin adalah sebuah situasi dan kondisi. Bukan takdir.
Kaya bukan takdir Tuhan.
BMisalnya: Si A lahir dari keluarga kaya. Ayah dan ibunya miskin. Tidak berarti Si A akan kaya seumur hidup. Kebetulan, situasi dan kondisinya kaya. Dan semua itu sudah mengikuti program. Kenyataannya, banyak orang kaya yang gagal menjadi kaya. Jadi, kaya adalah sebuah situasi dan kondisi. Bukan takdir.
Filsafat potensi
Jadi, sesungguhnya kaya atau miskin adalah sebuah potensi. Bukan sebuah takdir.Tetapi sebuah nasib yang bisa diubah. Soal nasib, Tuhan tak pernah turut campur tangan sebab semua manusia diberi otak dan “freedom” untuk memilih hidup kaya atau miskin.Tuhan tak akan mengubah nasib suatu ummat kalau ummat itu tak mau mengubah nasibnya sendiri.
Filsafat keadilan
Rumus keadilan ibarat 1+9 = 2+8 = 3+7 = 4+6 = 5+5 = 6+4 = 7+3 = 8+2 dan = 9+1
Oleh karena itu, mereka yang kaya raya di dunia, tak mungkin kaya raya di akherat. Sebaliknya mereka yang miskin di dunia, tidak mungkin miskin di akherat. Dengan kata lain, mereka yang kaya raya di dunia, akan miskin di akherat. Sebaliknya, mereka yang miskin di dunia, akan kaya raya di akherat.
Kenapa Nabi Muhammad tidak memilih kaya raya?
Sebagai seorang Nabi, beliau tentu sangat faham dengan Filsafat Keadilan di atas. Oleh karena itu, beliau memilih hidup sederhana dan banyak amal. Beliau lebih memilih kaya dalam hal takwa daripada kaya raya bergelimang harta.
Manusia sering terkecoh harta kekayaan
Memang, agama tak melarang hidup kaya raya. Namun hendaknya harus diperoleh dengan cara yang halal. Bukan dengan cara korupsi. Harus disadari bahwa harta kekayaan hanya merupakan kesenangan duniawi. Bukan kebahagiaan duniawi. Juga bukan kebahagiaan sorgawi.
Nabi Muhammad SAW mengejar kekayaan sorgawi
Itulah sebabnya, beliau tak memilih kaya raya. Sebab, kekayaan di dunia akan dibalas kemiskinan di akherat. Beliau lebih memilih kaya takwa,kaya amal,kaya doa,kaya ibadat,kaya ilmu,kaya agama,kaya moral dan kaya akhlak. Semua kekayaan inilah yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW menjadi kaya raya di akherat.
Rumus keadilan:
1+9 = Miskin di dunia kaya di akherat
9+1 = Kaya di dunia miskin di akherat
Sumber gambar: bukus.wordpress.com
Catatan:
1.Artikel ini bukan cermin isi buku yang gambarnya dimuat di artikel ini.
2.Filsafat keadilan dan rumus keadilan adalah di dalam konteks matarial (bukan spiritual).
3.Wilayah filsafat keadilan dan rumus keadilan adalah pada batas logis.
Sumber foto: yodama.wordpress.com
HariyantoImadha
Pengamat perilaku pemikiran
Sejak 1973



Benarkah anda ini lulusan Fak. Filsafat UGM? Saya melihat banyak sekali ‘kejanggalan’ dalam tulisan anda. Tapi sayang, sepertinya anda tak suka dikomentari apalagi dikritisi.
JAWABAN:
Untuk Rinaldiwati:
Apakah saya pernah menulis kalimat “lulusan Fak.Filsafat UGM?”.Tampaknya Anda kurang kritis.Siapa bilang saya tidak suka dikomentari atau dikritisi? Saya jadi penulis surat pembaca sejak 1973 dan lebih dari 5000 judul surat pembaca saya dimuat di 200 surat kabar dan tentu ada yang mengomentari maupun mengritisi.Bahkan Harian Surya, Jawa Timur memberi predikat ke saya sebagai Penulis Surat Pembaca Paling Aktif. Saya tahu, banyak alumni fakultas filsafat yang cara berlogikanya kurang kritis.Saya juga alumni Faluktas Filsafat UI (boleh dicek.
Di negara maju, artikel dibalas dengan artikel dan bukan dengan komen-komen sinis begitu.
Kirimkan artikel Anda ke e-mail saya: hariyantoimadha@gmail.com
NB:Kalau cuma komentar,bukan sarjana juga bisa.
Oleh: Rinaldiwati on Januari 24, 2011
at 5:51 pm
ngaco banget, banyak sahabat nabi yang luarbiasa kaya, apa mereka jadi miskin di akhirat?
justru dengan sedekahnya bisa menolong kaum muslimin berperang dsb
JAWABAN:
Untuk Ahmad:
Maksud dari artikel itu yaitu,kekayaan spiritual lebih penting daripada kekayaan material. Tentu, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan sedekah,dll.Kalau sahabat nabi banyak yang kaya, ya itu hak sahabat-sahabat Nabi.Rumusan kaya dan miskin iitu ada hubungannya dengan kekayaan spiritual dan material. Kaya di dunia (material) bisa saja kaya di akherat kalau dia juga kaya spiritual.Saya punya kesan kamu orangnya snob (sok tahu,sok mengerti dan sok pintar).Orang snob biasanya ilmunya sedikit dn cara berpikirnya tidak luas.
Di negara maju, artikel dibalas dengan artikel dan bukan dengan komen-komen sinis begitu.
Kirimkan artikel Anda ke e-mail saya: hariyantoimadha@gmail.com
NB:Kalau cuma komentar,bukan sarjana juga bisa.
Oleh: Ahmad on Februari 11, 2011
at 4:42 pm
masyallah, menakjubkan ulasannya. Sesungguhnya hanya Allah sahaja mengetahui pada setiap sesuatu. Teringat saya pada kejadian sejarah nabi yang seseorang datang menemui baginda untuk didoakan supaya menjadi kaya lalu didoakan beliau maka akhirnya orang itu kaya tetapi miskin kembali akibat tidak berzakat. Maksudnya nabi juga boleh kaya harta jika dia mau ya Pak ?
TANGGAPAN:
1.Betul. Kalau mau, Nabi juga bisa kaya. Cuma, beliau ingin memberikan contoh tentang “kesederhanaan”
2.Inti dari artikel itu yaitu, nabi Muhammad SAW lebih mengutamakan kekayaan sorgawi/akherati daripada kekayaan duniawi.
Oleh: faezal on Agustus 28, 2011
at 10:48 pm
ini kekayaan sahabat nabi, saya perjelas ya.
Kekayaan Umar bin Khattab
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian) seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000 x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cash
Kekayaan Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu dirham
• Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)
Kekayaan Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budak
Kekayaan Amr bin Al-Ash ra
• 300 ribu dinar
Kekayaan Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar (40 ribu dinar)
Bukan hanya sahabat utama yang kaya, namun juga rakyatnya hidup berkecukupan
Pada masa Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas),
• Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
• Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi, 2006)
TANGGAPAN:
1.Maksud dari artikel itu sudah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW lebih mengutamakan kaya sorgawi atau kaya akherati dan tidak sekadar kaya duniawi.
2.Artikel tersebut tidak boleh diartikan Nabi Muhammad tidak ingin kaya secara duniawi ataupun tidak kaya secara duniawi.
3.Artikel tersebut jelas-jelas bicara tentang Nabi nMuhammad SAW dan tidak bicara tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.
4.Semua sudah tertulis dengan jelas.
Pemahaman Anda saja yang kurang tepat.
Oleh: liluvgul on Februari 29, 2012
at 3:05 pm