SEMUA orang memang bisa berpikir. Tetapi tidak semua orang bisa berpikir secara sarjana. Sebab, orang yang mempunyai pemikiran sarjana mempunyai pola pikir yang berbeda dengan yang cara berpikirnya bukan sarjana. Artikel ini tidak bicara tentang orang yang bergelar sarjana dan orang yang tidak bergelar sarjana, melainkan tentang cara berpikir sarjana (scientific thinking) dan cara berpikir bukan sarjana (nonscientific thinking).
A.Cara berpikir dan berbuat bukan sarjana atau non ilmiah
Pada umumnya mempunyai ciri-ciri
Tidak beretika
Cara mencapai tujuan dengan cara pikir dan berbuat yang negatif
Misalnya: Mendapatkan gelar sarjana dengan cara membeli
Tidak cerdas
Cara lambat memahami sebuah masalah
Contoh: Sudah dikatakan Indonesia adalah Negara Pancasila berdasarkan hukum positif, namun cara berpikirnya seolah-olah Indonesia negara Islam dengan hukum Islamnya
Tidak empiris
Cara berpikir dan ucapannya belum terbukti kebenarannya
Misalnya: Seseorang yang mengatakan bahwa mereka yang golput bukanlah warganegara yang baik. Padahal, pernyataan itu belum pernah teruji kebenarannya.
Tidak faktual
Cara berpikirnya tidak berdasarkan fakta
Misalnya: Kalau angka golputnya 100%, Indonesia tidak punya pemimpin,dong. Tidak faktual karena di dunia tidak ada satupun negara yang angka golputnya 100%, termasuk Indonesia.
Tidak holistik
Cara berpikirnya tidak menyeluruh.
Misalnya: Banyak sarjana yang memakai gelar salah SPd dan MPd. Mereka ngeyel gelarya benar karena tertulis diijasah dan dikeluarkan oleh kemendiknas. Padahal, kebenaran gelar sarjana ditentukan oleh ilmu bahasa (linguistik) dan logika bahasa.
Tidak integratif
Cara berpikir yang sepotong-sepotong
Misalnya: Si A adalah pelopor reuni sebuah SMA sejak 1971 hingga 2000. Namun, tiba-tiba disabotase oleh Si B. Si B hanya melihat hasil sabotasenya tahun 2000 ke atas saja, padahal itu ada hubungannya dengan reuni sejak 1971 hingga 2000.
Tidak interdispliner atau multidispliner
Cara berpikir yang berasal dari satu sudut pandang yang sempit
Misalnya: Sarjana ekonomi yang melihat persoalan ekonomi hanya dari sudut ilmu ekonomi, tanpa didukung filsafat ekonomi, hukum ekonomi, sosiologi ekonomi, matematika ekonomi, psikologi ekonomi,dll.
Tidak komprehensif
Cara berpikirtnya tidak menyeluruh
Misalnya: Ketika SBY punya ide memberikan HP kepada para TKI, lantas ada komentar bahwa seharusnya SBY memprioritaskan perjanjian bilateral dan penegakan hukum para TKI yang ada di luar negeri. Padahal, SBY di samping berrpikir preventif, juga berpikir korektif atau penanggulangannya
Tidak kreatif
Cara berpikir yang tidak lengkap. hanya bicara saja tanpa disertai perbuatan.
Misalnya: Merasa pandai, tetapi tidak pernah membuat artikel.
Tidak kritis
Cara berpikirnya tumpul. Tidak cepat tanggap atas maksud tulisan atau pembicaraan seseorang.
Misalnya: SBY mengisyarakatkan agar parpol koalisi yang merasa tidak bisa memenuhi syarat dan komitmen berkoalisi, sebaiknya mengundurkan diri saja. Lalu diambil kesimpulan SBY akan mengadakan reshuffle. Padahal, SBY tidak pernah mengucapkan rencana reshuffle.
Tidak logis
Cara berpikir yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya tidak benar.
Contoh: Si A berpendapat bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Oleh karena itu hukum yang harus diterapkan di Indonesia haruslah hukum Islam.
Tidak mampu berpendapat sendiri
Cara berpikir yang selalu bertumpu pada teori atau “text-book oriented”. Tapi, tak pernah berpendapat sendiri berdasarkan teori-teori yang pernah dipelajarinya.
Misalnya: Sarjana filsafat yang selalu berputar-putar pada ajaran Platon, Aristoteles, Herakleitos dll. Padahal, filsafat sekarang adalah filsafat kontemporer, cara berpikir yang sesuai dengan masa kekinian.
Tidak mampu berpikir analitis
Cara berpikir yang tidak analitis. Langsung mengambil kesimpulan dan kesimpulannya salah.
Misalnya: Ada artikel berjudul “Kenapa Nabi Muhammad SAW Tidak Pernah Ingin Hidup Kaya?” Di dalam artikel di jelaskan bahwa Nabi ingin kaya raya dalam bidang spiritual. Sebab kaya material di dunia belum tentu kaya spriritual di akherat. Lantas ditanggapi, sahabat Nabi kaya-kaya secara material tapi kaya spiritual dan apakah itu berarti mereka tidak berhak masuk sorga? Tentu analisanya salah, sebab konteksnya adalah kekayaan material saja dan tidak dicampuradukkan dengan pengertian kekayaan spiritual. Logikanya juga cuma sampai pada tataran logis.
Tidak memahami substansi
Cara berpikir yang tidak memahami substansi masalah
Misalnya: Si A membuat kanopi/atap motor supaya tidak kepanasan/kehujanan. Lantas Si B bilang “Kalau nggak mau kehujanan ya pakai saja jas hujan atau jaket antihujan. Padahal, maksud pembuatan kanopi/atap motor adalah agar air hujan tidak mengenai tubuh terutama bagian atas. Sebab, jika mengenai tubuh, akan terasa dinginnya dan bisa mengakibatkan menggigil, sakit flu, demam, rematik, dll.
Tidak objektif
Cara berpikir tidak pada hasdil kerja seseorang, tetapi lebih kepada orangnya
Misalnya: Si A keluar dari BUMN dengan pertimbangan tertentu. Si B langsung menyalahkan Si A tanpa menanyakan kenapa Si A keluar dari BUMN. Padahal, Si A punya alasan yang kuat, yaitu tidak ingin ikut-ikutan korupsi di BUMN dan lagipula dia sudah punya cukup modal untukwiraswasta.
Tidak punya referensi
Cara berpikir asal bicara tanpa didukung referensi-referensi yang kuat.
Misalnya: Ahmadiyah aliran Kodian beranggapan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi. Padahal, tidak ada referensi kuat yang bisa dipertanggungjawabkan.
Tidak rasional
Cara berpikir yang tidak rasional dan tidak masuk akal.
Misalnya: Ada sekolah mengaku sebagai Sekolah Berstandar/Bertaraf Internasional (SBI). Padahal, semua gurunya bahasa Inggerisnya kacau.
Tidak signifikan
Cara berpikirnya tidak ada hubungan yang kuat antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya.
Misalnya: Si A mengritik artikel filsafat yang ditulis Si B. mengritiknya dari sudut pandang yang lain yang bukan filsafat. Tentu saja tidak signifikan sebab kalau artikel filsafat maka komennya juga harus bernuansa filsafat juga.
Tidak aposteriori
Cara berpikirnya apriori. Artinya, belum benar-benar tahu dan belum benar-benar mengerti, tetapi langsung memberikan komentar atau tanggapan. Identik dengan sikap snob (sok).
B.Cara berpikir dan berbuat sarjana atau ilmiah
Pada umumnya mempunyai ciri-ciri kebalikan dari butir B di atas. Tidak diuraikan karena artikel ini bisa menjadi terlalu panjang dan tidak efisien.
Cukup beretika
Cukup cerdas
Cukup empiris
Cukup faktual
Cukup holistik
Cukup integratif
Cukup interdispliner atau multidispliner
Cukup komprehensif
Cukup kreatif
Cukup kritis
Cukup logis
Cukup mampu berpendapat sendiri
Cukup mampu berpikir analitis
Cukup memahami substansi
Cukup objektif
Cukup punya referensi
Cukup rasional
Cukup signifikan
Cukup aposteriori
Sekali lagi, artikel ini bicara tentang cara berpikir sarjana dan bukan cara sarjana berpikir. Artinya, banyak orang bergelar sarjana tetapi cara berpikirnya bukan cara berpikir sarjana (tidak ilmiah).
Sumber foto: www.antaranews.com
Hariyanto Imadha
Blogger



Tapi tentunya, tidak semua non sarjana atau pun sarjana seperti itu kan?
Salam.
JAWABAN:
Untuk Ilhamdi:
Di dalam artikel saya tidak mengatakan semua nonsarjana atau semua sarjana seperti itu. Jadi, pemahaman sebuah artikel kembali kepada kemampuan persepsi masing-masing. Pemahaman orang kan tidak sama. Sebagai penulis, tentu saya pihak yang paling faham tulisan itu.
Oleh: Ilhamdi on Maret 11, 2011
at 4:04 am
……. Padahal, kebenaran gelar sarjana ditentukan oleh ilmu bahasa (linguistik) dan logika bahasa.
Ini maksudnya apa Bos, mohon pencerahan.
JAWABAN:
Untuk Ngut’s
Gelar itu domainnya ilmu bahasa atau linguistik.
Bisa Anda baca di Blog Bahasa saya di:
http://abajakarta.wordpress.com/bahas
Oleh: Ngut's on Maret 11, 2011
at 6:09 am