“HA HA HA…” Pada 1980 saya cuma tertawa ketika banyak orang, terutama mahasiswa dan sarjana yang beranggapan dan berpendapat bahwa ilmu logika itu cuma silogisme. Yaitu, ada premis mayor,premis minor dan konklusi.Habis. Sayapun berpikiran, mungkin mereka cuma membaca buku “Pengantar Ilmu Logika”. Ya,iyalah. Di fakultas filsafat saja yang diajarkan juga cuma buku “Pengantar Ilmu Logika” itu. Mungkin di fakultas lain juga demikian.
Mendalami ilmu logika secara mandiri
Itulah sebabnya, saya mendalami ilmu logika secara mandiri. Tiap hari saya bongkar-bongkar dan baca-baca buku tentang ilmu di perpustakaan STF Driyarkara,Jakarta. Juga di perpustakaan LIPI,Jakarta. Juga di perpustakaan fakultas filsafat UGM dan perpustakaan lainnya. Seorang dosen saya berkomentar bahwa saya adalah satu-satunya mahasiswa yang memperdalam ilmu logika.
Buka cuma silogisme
Dari rajin membaca di perpustakaan, saya tahu bahwa ternyata logika bukan hanya silogisme. Ada logika simbolik, logika komparatif, logika kontradiksi, logika kontradiktori, logika matrik.logika bertingkat dan masih banyak lagi. Format logika ternyata jumlahnya lebih dari 1.000 variasi. Sedangkan silogisme itu merupakan “logika formal” yang hanya terbatas pada wilayah “logis” dan tidak sampai wilayah “benar.”
Contoh logika formal:
Premise mayor: Semua jururawat berbaju putih
Premis minor: Nunik berbaju putih
Konklusi: Jadi, Nunik adalah jururawat.
Konklusi itu logis dan salah.
Sebab “fakta”nya, Nunik bukan jururawat,melainkan dokter.
Dengan demikian,wilayah kebenaran adalah “fakta”.
Wilayah kebenaran ada pada logika material (epistemologi)
Sebuah konklusi harus sesuai fakta. Fakta harus didukung ilmu. Jadi, ada fakta ekonomi, fakta psikologi, fakta hukum, fakta antropologi,fakta budaya,fakta politik dan ribuan fakta lainnya. Sebuah konklusi yang tidak berdasarkan fakta adalah sebuah logika ilusi.
Syarat mempelajari logika material (epistemologi)
Sudah pasti, harus memahami banyak ilmu pengetahuan. Juga, harus didukung IQ yang tinggi. Kenapa harus IQ tinggi? Sebab proses bernalar dan berlogika menggunakan otak. Kalau IQ-nya tidak tinggi dan ilmunya sedikit, akan terjebak kepada kesimpulan yang sempit atau keliru.
Contoh logika material
Si A adalah seorang yang fanatik kepada capres A
Apapun yang dilakukan capres A pasti benar,lebih benar dan selalu benar
Manakala Si A melakukan kesalahan, maka Si A mengatakan itu bukan kesalahan, tetapi tetap kebenaran
Padahal setelah diuji melalui ilmu hukum, terbukti bahwa apa yang dilakukan capres A memang salah secara hukum.
Dengan demikian, kalau ada yang beranggapan bahwa logika itu identik dengan silogisme, maka itu adalah logika formal. Bukan logika material. Dan bukan logika seutuhnya. Logika seutuhnya ya logika formal yang harus dibuktikan melalui logika material ditambah ilmu pengetahuan yang berkaitan. Dan itu harus sesuai dengan fakta.
Sumber foto: islamthis.wordpress.com
Hariyanto Imadha
Penulis kritik pencerahan
Sejak 1973



Pak Hariyanto, saya juga tertarik utk mencari referensi mengenai ilmu logika ini. Klo boleh mhn disebutkan buku2 referensi yg bisa saya explore. Tentunya dimulai dari dr yg paling relevan utk pemula. Trm ksih sebelumnya.
TANGGAPAN:
Wah,saya kuliah tahun 1980′an. Tentu, buku2 ilmu logika saya tidak punya lagi. Apalagi dulu saya lebih suka baca2 buku2 ilmu logika di STF Driyarkara Jakarta, Fak Filsafat UGM, Perpustakaan LIPI Jakarta. Kalau saya sih tertarik buku3 ilmu filsafat moderen,filsafat yg bersifat kontemporer dan aplikatif. Filsafat masa kini.Mungkin bisa Anda dicari di Google. Dgn kata kunci “buku ilmu logika” “filsafat moderen” atau “pengantar ilmu logika”.
Oleh: Ahmad Fathillah on Mei 23, 2011
at 7:56 am