SANGAT banyak orang menggunakan logika “subjektif-spekulatif”.Logika yang demikian sangat mudah terpeleset pada kesimpulan-kesimpulan yang keliru. Hal ini membuat saya merasa prihatin sebab sebuah bangsa dan negara sulit maju kalau cara berlogikanya seperti itu.
Berlogika yang benar haruslah bersifat “objektif-afirmatif” sehingga kesimpulannya pasti benar dan tidak mungkin terbantahkan.
Bukan wilayah logika
Manakala kita menggunakan kata “andaikata,apabila,mungkin,bisa jadi,siapa tahu,insya Allah,mudah-mudahan,belum tentu,barangkali,kira-kira,kalau tidak salah,siapa tahu,perkiraan,prediksi,janjinya,ramalan,rencananya,nawaitu dan semacamnya yang mengandung ketidakpastian.
Contoh:
“Pesta itu selesai pukul 24:00 WIB”
“Siapa tahu saya menang undian”
“Barangkali tertinggal di rumah”
“Rencananya pada 2010 Jakarta tidak macet”
“Insya Allah besok saya akan menemuimu di Hotel Ambhara”
“Barangkali harganya sekitar Rp 50.000 per meter”
Wilayah logika
Kebenaran logika hanya di dalam konteks fakta atau realita
Contoh:
“Pesta itu selesai pukul 00:00 WIB”
“Fakta, masih ada 1,2 juta sarjana Indonesia yang menganggur”
“Fakta, masih ada ribuan pengemis di Jakarta”
“Fakta, Jakarta masih mengalami kemacetan lalu lintas”
“Fakta, ada presiden takut pergi ke Belanda”
“Fakta, banyak koruptor dihukum ringan”
Dengan mengetahui mana yang bukan wilayah logika dan mana yang merupakan wilayah logika, maka kita bisa menganalisa ucapan atau tulisan tiap orang. Kita bisa tahu cara berpikirnya ada di wilayah logika yang benar atau di wilayah logika yang tidak benar.
Sumber gambar: benarffm.wordpress.com
Hariyanto Imadha
Penulis Kritik Pencerahan
Sejak 1973


