
AKIBAT sistem pendidikan yang tidak berbasiskan penalaran,maka pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak mampu bernalar secara logis dan benar. Boleh saja mereka pandai di bidang ilmunya, tapi tidak otomatis dan tidak identik mereka pandai dalam hal bernalar.
Sebagai penulis kritik pencerahan (sejak 1973) saya menyadari bahwa meluruskan cara bernalar/cara berpikir/cara berlogika yang bengkok memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Sebab rata-rata orang Indonesia sulit menerima teori baru atau pendapat baru yang dianggapnya salah.
Beberapa contoh:
1.Merasa gelar sarjananya benar
Masih banyak sarjana yang menganggap bahwa gelar Dra,Ir,MsSi,SPd,dll. merupakan gelar yang benar dengan alasan itu sesuai dengan yang ada di ijasah atau sesuai dengan keputusan kementerian pendidikan nasional. Padalah sudah ada SK baru tentang pengindonesia gelar.Demikian juga,pemakaian gelar S-1 dan S-2 sekaligus (misalnya SH,MH atau ST,MM), merupakan kesalahan bernalar yang sangat fatal.
Penyebabnya:
Sarjana tersebut tidak faham linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu hukum
2.Merasa sistem ekonomi kapitalisme itu benar
Masih banyak sarjana ekonomi beranggapan bahwa sistem kapitalisme itu benar, karena ekonomi bisa maju kalau dikuasai pemodal-pemodal besar. Padahal, kapitalisme asing telah menguasai 70% perekonomian Indonesia. Kekayaan alam lebih dinikmati kapitalisme asing daripada bangsa sendiri.
Penyebabnya:
Masih banyak sarjana ekonomi yang tidak faham filsafat ekonomi. Filsafat kapitalisme yaitu ‘memberi sedikit tetapi mengambil banyak’.Sedangkan filsafat ekonomi Indonesia yang benar yaitu ‘semua kekayaan alam demi sebanyak-banyaknya untuk kemakmuran bangsa Indonesia’
3.Latah memakai gelar H (Haji)/Hj (Hajah)
Masih banyak orang Islam yang latah memakai gelar H/Hj. Padahal gelar H/Hj itu ciptaan orang Belanda (nonmuslim) bernama Marten van Bruinessen di zaman Kesultanan Banten. Lagipula gelar H/Hj adalah gelar yang lucu karena diberikan oleh dirinya sendiri.Juga, tidak ada hadisnya.
Penyebabnya
Sedikitnya umat Islam yang faham dan menguasai sejarah Islam.
4.Asal mengucapkan Insya Allah
Masih sangat banyak umat Islam yang asal mengucapkan Insya Allah tanpa tahu kapan menggunakan istilah itu dengan tepat. Banyak yang ingkar janji tanpa konfirmasi dan meminta maaf.Seolah-olah di balik kata Insya Allah maka umat Islam merasa tidak bersalah. Padahal, kata Insya Allah harus diletakkan di dalam konteks Logika Tuhan dan tidak dalam konteks Logika Manusia.
Penyebabnya
Masih sangat banyak umat Islam yang tahu tentang agama Islam tetapi tidak faham ilmu logika/ilmu kalam/ilmu mantiq.
5.Percaya kepada ilmu semu (pseudo sicence)
Masih banyak orang Indonesia (apapun agamanya) yang percaya dengan ramalan bintang (astrologi),shio,weton,garis tangan,gugon tuhon,angka cantik (dianggap membawa berkah),kepercayaan yang menyesatkan (menaburkan bunga di makam dianggap wajib). Padahal, masalah keberuntungan itu sebenarnya ditentukan oleh Tuhan.Tidak ditentukan oleh ramalan bintang dan semacamnya.
Penyebabnya
Sedikitnya pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini akibat belum adanya budaya membaca.Akibatnya, isi otaknya terbatas dan cara berpikirnya juga terbatas.
Butuh waktu
Saya menyadari, meluruskan cara berpikir yang tidak lurus membutuhkan waktu. Masalahanya, justru kebanyakan orang yang pengetahuannya atau ilmu pengetahuannya sedikit hampir selalu merasa pendapatnya pasti benar. Padahal, benar tidaknya suatu hal, itu ditentukan oleh ilmu tentang kebenaran (epistemologi/ilmu logika/ilmu kalam/ilmu mantiq) yang harus dipelajari secara benar berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah.
Kata-kata bijak:
Tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya,tanpa mengenal batas usia, walaupun harus menyeberang ke negeri China.
Semoga bermanfaat
Sumber gambar :crayon.students-blog.undip.ac.id
Hariyanto Imadha
Penulis kritik pencerahan
Sejak 1973

