SEBAGAI pengamat perilaku (sejak 1973) saya merasa sangat prihatin. Betapa banyak umat beragama, terutama Islam yang ibadahnya baik, tetapi cara berlogikanya kacau balau. Sulit untuk meluruskan logika mereka sebab format berpikiirnya kebanyakan dogmatis-pasif. Merasa pendapatnya paling benar karena sesuai dengan kata guru agamany, ulamanya atau ustadz favoritnya seolah-olah guru agama, ulama dan ustadz tak mungkin salah dan menganggap sederajat malaikat.
Cukup banyak temuan-temuan yang saya dapatkan. Namun di artikel ini hanya beberapa contoh saja yang akan saya tulis.
1.Gelar Haji
Sudah berkali-kali di FB saya memuat hal-hal yang berhubungan dengan gelar haji (H/Hj) bahwa gelar itu bukan ajaran Tuhan, bukan ajaran Nabi Muhammad SAW, bukan ajaran Al Qur’an,bukan ajaran Hadist,bukan budaya dan bukan tradisi yang rasional. Apalagi, yang membuat gelar haji adalah orang Belanda bernama Marten van Bruneissen di era Kesultanan Banten. namun kalau para haji itu saya ingatkan, mereka marah-marah dan ngeyel.
2.Pancasila
Pancasila merupakan dasar negara dan ideologi negara Republik Indonesia. Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa di mana mereka yang mengaku warganegara Indonesia harus memahami Pancasila itu apa. Namun ada yang mengatakan untuk apa Pancasila kalau perekonomian Indonesia bersifat neolib dan pro kapitalis. Ini cara berlogika yang keliru. Kalau pemerintah dianggap menerapkan perekonomian neolib, maka yang salah adalah rakyat. Mereka salah memilih pemimpin dan wakil rakyat. Ibarat agama Islam. Islam adalah agama yang baik. kalau ada orang Islam melakukan korupsi, maka saya salah adalah koruptornya. Bukan Islamnya.
3.Istilah kafir
Betapa mudahnya sebagian umat Islam di Indonesia mengatakan kafir ke sesama umat Islam ataupun nonmuslim tanpa memahami arti kata kafir dan memahami sejarah Islam. Konon, paman Nabi Muhammad SAW adalah seorang kafir. Namun, Nabi Muhammad tidak pernah mengkafir-kafirkan pamannya. Sebab, sesungguhnya hanya Tuhan yang Maha Tahu siapa yang benar-benar kafir dan mana yang benar-benar tidak kafir.
4.Salah mengartikan kata
Kata-kata kafir,murtad,musyrik, syirik, jihad dan berbagai istilah Islam lainnya sering diartikan atau ditafsirkan berbeda sehingga terjebak pada perilaku tidak Islami dan bahkan tidak mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW.
5.Langit dan seisinya diciptakan Tuhan dalam waktu 6 masa
Ada yan mengartikan langit dan seisinya diciptakan Tuhan dalam waktu 6 masa (ada yang mengartikan 6 hari, enam tahap atau 6 periode). Ini merupakan logika yang keliru, sebab Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Yang benar, Tuhan menciptakan langit dan seisinya seketika. Kun fayakun, maka jadilah (tidak tterikat ruang dan waktu). Langit dan seisinya itulah yang kemudian berproses selama 6 masa. Jadi, kata 6 masa berlaku untuk langit dan seisinya (terikat oleh ruang dan swaktu) dan tidak berlaku untuk Tuhan.
6.Gagasan negara Islam
Apakah kalau 80% penduduk Indonesia beragama Islam maka kesimpulannya Indonesia layak untuk menjadi negara Islam? Kalau logika ini dipakai, maka banyak yang terjebak pada gerakan NII (Negara Islam Iindonesia) Logikanya tidak begitu. Islam sendiri terdiri beermacam-macam “aliran”. Ada NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahir,dll. Ada Islam radikal,Islam moderat dan Islam KTP. Apalah kalau Indonesia menjadi negara Islam maka seluruh persoalan negara dan bangsa akan selesai? Malaysia juga negara Islam, namun bagaimana sikapnya terhadap perbatasan, TKI, budaya Indonesia, dll? Pancasila adalah merupakan konsep negara yang sudah sempurna. Manusianya yang belum sempurna.
7.Percaya pseudo science (ilmu semu)
Masih banyak umat Islam yang percaya ramalan bintang, ramalan suratan tangan, ramalan tahi lalat, percaya Feng Shui, pergi ke dukun atau paranormal, ramalan weton atau wuku dan semacamnya. Di satu pihak shalat, tapi di pihak lain percaya Gunung Merapi perlu “disembah”.
8.Masih salah memilih pemimpin dan wakil rakyat
Sampai pemilu 2009, sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia masih salah pilih (Ada di artikel saya berjudul “Cara Salah dan Cara Benar dalam Memilih Capres-Cawapres”). Kesalahannya antara lain memilih karena terpengaruh figur, karena fanatik terhadap parpol tertentu,dll. Iibarat membeli durian. Semua kulit durian bagus tetapi tidak tahu durian mana yang isinya tidak busuk.
9.Menyalahkan Amerika
Amerika menguasai perekonomian Indonesia? Menguasai sumber daya alam Indonesia? Menguasai politik Indonesia? Ya, semua itu tentu atas persetujuan pemerintah. Kalau pemerintahnya berani mengatakan “tidak” (seperti Hugo Chavez), maka perekonomian, sumber daya alam dan politik Indonesia tidak akan dikuasai Amerika. Jadi, yang salah adalah rakyat sendiri. Kenapa memilih pemimpin dan wakil rakyat yang Pro Amerika? Lebih cocok, pemerintah Pro Amerika yang harus disalahkan juga.
10.Lagu Indonesia Raya dan bendera merah putih
Menurut info, ada beberapa pondok pesantren yang tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan logika bahwa pengarang lagu itu beragama non-Muslim yang kabarnya kemudian pindah ke Ahmadiyah). Juga, tidak mau mengibarkan bendera merah putih karena berasal dari bendera merah-putih-biru (Belanda) di mana Belanda bukan negara Islam. Cara berlogika yang salah dan menggelikan. Seolah-olah, apa yang berasal dari bangsa,orang atau negara non-Muslim dianggap tidak baik dan haram. Padahal, Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan demikian.
Kesimpulan
1.Pokok kesalahan berlogika yaitu, hanya melihat kulit-kulitnya saja, tetapi tak memahami isinya.
2.Kesalahan lainnya yaitu, sikap dogmatis-pasif yang enggan menerima pendapat lain yang dianggapnya berbeda. Pendapat yang berbeda diangggap pendapat yang pasti salah.
3.Tidak memahami perilaku Nabi Muhammad SAW dan minimnya pengetahuan di luar agama, terutama agama Islam.
4.Semua ucapan guru agamanya,ulamanya,ustadznya dianggap benar,selalu benar dan paling benar. Seolah-olah mereka setara malaikat.
5.Tidak menguasai ilmu logika secara sempurna.
Sumber foto: bk3sjatim.org
Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku pemikiran
Sejak 1973



Sangat bagus, karena itu hrs di sosialisasikan, agar orng yg ber agama islam, bisa menggunakan logika berpikir nya.
TANGGAPAN:
Terima kasih.
Oleh: suntoro on April 28, 2011
at 4:25 pm