Oleh: ffugm | Mei 8, 2011

FILSAFAT: Apa Beda Takdir (Determinism) dan Nasib (Freedom)?

BETAPA banyak masyarakat kita yang tidak mampu berlogika secara “clara et distincta”. Yaitu cara berlogika yang jelas dan benar. Hal ini bisa saya maklumi karena sistem pendidikan kita tidak mengajarkan cara berpikir kecuali cara menghafal.

Beberapa contoh

1.Dulu, ketika Roy Marten ditangkap polisi karena kasus narkoba, maka isteri Roy Marten, Anna Maria (kalau tidak salah ingat) mengatakan kepada para wartawan “Ya, itu sudah takdir Tuhan. Kita terima saja dengan sabar”

2.Kemudian di MetroTV, Minggu, 11 April 2010 dalam acara Just Alvin, Emilia Contessa yang menjadi calon bupati Jember mengatakan “Menjadi presiden…dan lain-lain itu kan takdir Tuhan”.

Terus terang, saya yang beruntung pernah memperdalam ilmu logika (epistemologi) di Fakultas Filsafat merasa prihatin. Kalau ucapan-ucapan itu didengar orang awam, tentu akan ditelan mentah-mentah.

Namun sebelumnya kita kenal dulu tiga pola pikir umat Islam:

1.Pola pikir dogmatis.

Mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini merupakan takdir Tuhan.

Bahkan daun-daun yang jatuhpun merupakan takdir Tuhan.

Faham ini tentu mengabaikan pertimbangan freedom dan rasionalitas.

2.Pola pikir rasionalistis

Mengatakan bahwa semua kejadian di dunia ini merupakan bentuk kebebasan dan rasionalitas di mana semua kejadian terjadi dengan sendirinya secara rasionalitas tanpa ada campur tangan dari Tuhan.

3.Pola pikir moderat

Mengatakan bahwa ada kejadian di dunia yang merupakan takdir Tuhan dan ada kejadian yang bukan takdir Tuhan.

Kebetulan saya menganut pola pikir ini.

A.Dua macam takdir (determinism)

1.Takdir absolut

Adalah segala dan semua kejadian yang samasekali tidak bisa dihindarkan oleh kemauan atau tindakan apapun oleh manusia.

Contoh takdir yang tidak bisa diubah manusia

Kalau Anda lahir dengan dua mata, maka itulah takdir yang tidak bisa diubah oleh manusia.Dengan cara apapun Anda tidak bisa mengubah jumlah mata Anda menjadi tiga mata atau empat mata.

2.Takdir relatif.

Namun takdir ada yang bisa diubah oleh manusia.

Contoh takdir yang bisa diubah oleh manusia

Kalau putera/puteri Anda lahir dengan bibir sumbing, maka dengan kemajuan teknologi dan tersedianya dana, maka putera/puteri Anda bisa disempurnakan bentuk bibirnya, walaupun tidak 100 persen sempurna.

B.Bukan takdir atau nasib (freedom)

1.Kasus Roy Marten bukan takdir Tuhan

Soal Roy Marten ditangkap polisi karena kasus narkoba, itu adalah akibat kesalahan Roy Marten sendiri. Tidak atas perintah Tuhan. Soalnya, memakai narkoba atau tidak memakai narkoba adalah pilihan Roy Marten.

2.Kasus pernyataan Emilia Contessa bukan takdir Tuhan

Salah besar kalau dia mengatakan orang yang menjadi presiden dll itu karena takdir. Kalau memang jadi presiden, gubernur,bupati itu merupakan takdir, buat apa mengeluarkan biaya kampanye hingga milyaran rupiah? Kalau memang takdir, ya tidak usah kampanye. Seseorang menjadi presiden dll adalah karena usaha. Bukan karena takdir.

Perihal rezeki, jodoh dan kematian

Pencerahan mengenai masalah rezeki, jodoh dan kematian.

Hampir semua orang berpendapat bahwa, rezeki,jodoh dan kematian itu merupakan takdir Tuhan.Pernyataan itu benar, tetapi harus dibagi dua.

Rezeki dan jodoh

Merupakan takdir yang bisa diubah. Banyak contoh orang yang miskin bisa berubah menjadi kaya raya. Banyak contoh orang yang tidak berjodoh, karena nawaittu (niat) nya sungguh-sungguh maka dia akhirnya mendapatkan jodoh juga.

Kematian

Kematian yang tidak bisa dihindari merupakan takdir.

Kasus

-Apakah orang yang dibunuh itu takdir?

Sejauh itu tidak bisa dihindarkan, maka itu takdir (determinism)

-Apakah orang yang melakukan pembunuhan merupakan ditakdirkan Tuhan untuk membunuh?

-Tidak! Sebab perbuatan membunuh bisa dihindarkan manusia (freedom)

Catatan

-Logika terbunuh dan logika membunuh adalah dua logika yang berbeda.

Logika terbunuh adalah logika takdir atau Logika Tuhan.

Sedangkan logika membunuh adalah bukan logika takdir atau Logika Manusia. Logika ini memang termasuk logika yang mungkin cukup sulit dipahami.Namun sesungguhnya kedua logika itu memang bisa berjalan bersama-sama.

Sumber gambar: dragonate.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger


Tanggapan

  1. Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian
    Saudaraku, saya ingin ikut memperkaya pemahaman tentang takdir, Takdir yang telah ditetapkan Allah utk masing masing kita dan telah di tuliskan di kitab lauh al mahfuz saya coba pahami dengan analogi sebuah pohon, dimana takdir kita seperti sebuah pohon kehidupan. kadar rizki ditiap cabangnya telah ditentukan….setiap cabang pohon layaknya seperti pilihan yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Pada awalnya di pangkal pohon paling bawah dimana belum ada cabang orang tua kita lah yang memilihkannya untuk kita. setelah muncul cabang pertama … saat itulah kita dihadapkan pilihan hidup. ujung setiap ranting bisa dipakai untuk menganalogikan kematian.
    Sekian banyak cabang dan ranting yang telah ditakdirkan/dirancang untuk masing-masing kita…namun hanya satu jalur yang pastinya kita lalui….. hakekatnya setiap percabangan baik dari cabang pohon atau ranting adalah pilihan hidup yang menentukan seberapa besar rizki yg menyertai dan menjadi apa setiap kita, sederhananya segala sesuatunya telah Allah sediakan untuk kita namun disisakan satu yg diberikan kesetiap manusia hak prerogatifnya yakni “PILIHAN/MEMILIH”. atau bisa saya katakan 99 nama Allah itu adalah layaknya sekian banyak potensi yang di berikan kepada manusia namun satu yg disisakan dan manusia sendiri yang menentukan yakni “PILIHAN”. Al Quran dan Sunnah dapat di analogikan sebagai petunjuk, cabang mana yang baik kita lalui karena di Quran dan Sunnah ada yg memmaparkan ciri ciri jalan yang tidak boleh atau tidak baik untuk kita lalui sekaligus juga sebagai petuunjuk sepanjang melalui setiap cabang dan ranting yang kita lalui…..Rizki telah disiapkan untuk setiap ranting yang ditetapkan dalam pohon kehidupan kita…. jadi seberapa besar/banyak rizki yang kita terima merupakan konsekuensi dari pilihan jalan hidup yang kita lalui….Apakah takdir bisa diubah ?? pohon takdirnya menurut saya sudah di tetapkan namun setiap kita bisa memperbaiki setiap waktu pilihan hidup kita (seakan akan mengubah takdir tapi saya lebih cenderung mengatakannya mengubah nasib :) ). Setiap ujung ranting adalah kematian….sehingga secara sederhana dapat dikatakan kita sendiri yang memilih cara kematian kita/pilihan kita mengantar kekematian kita sendiri, tambahan catatan semuanya berjalan diatas sunnahtullah….(sunnatullah = aturan main = hukum alam = sebab-akibat)QS 48. Al Fath 23. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. mulai dari pangkal pohon sampai ujung ranting terjauh atau terdekat merupakan satu perjalanan hidup kita dan ranting atau cabang lain yang tidak kita lalui …. tetap menjadi rahasia Ilahi. Jadi panjang atau pendeknya umur kita pun dipengaruhi oleh pilihan perjalanan hidup kita… dimana masa depan tetap rahasia… jadi esensinya bukan panjang atau pendeknya tapi kesabaran mengumpulkan bekal perjalanan nanti dan syukur terhadap setiap rizki yang kita dapatkan itu esensinya dan jangan lupa Akhir lebih baik dari Awal. :)

    Namun sepertinya tidak semua pohon kehidupan orang selalu seperti pohon mangga misalnya yang lebat banyak cabang dan ranting, boleh jadi seperti pohon kelapa seperti komentar saudara kita terdahulu menanggapi tulisan ini. Sehingga boleh jadi seseorang miskiiiiiiiiin sepanjang hidupnya dan baru berubah saat menjelang akhir hidupnya seperti pohon kelapa.

    Jadi Esensinya bukan tentang apa yg kita dapatkan sepanjang perjalanan namun Sabar dan Syukur yang menjadi ukurannya.

    Jodoh, Rizki ….. menurut saya keduanya sama sama harus diupayakan…keduanya merupakan penyerta dari pilihan hidup yang kita ambil. Keduanya mensyaratkan kecocokan wadah terhadap isi yang kita harapkan/kita mintakan dalam do’a do’a kita.

    Jika wadahnya siap/jika kita cukup siap mempersiapkan diri kita maka rizki dan jodoh yang sesuai dengan wadah yang kita siapkanlah yang akan diberikan kepada kita. jadi seperti juga Doa yang boleh jadi doa/permintaan kita dibayar tunai olah Allah, hal itu karena wadah yang kita siapkan sudah cocok untuk hal yang kita permohonkan, namun boleh jadi ditunda…karena wadahnya belum siap, atau permintaan kita diganti oleh sesuatu yang lebih baik… karena memang yang itulah yang cocok dengan wadah yang kita miliki. (berlaku utk Rizki dan Jodoh karena hakekatnya menurut saya jodoh adalah bagian dari rizki)

    Sekedar tambahan untuk Hal Jodoh, dikenal istilah Kufu/ Setara konsepnya relatif sama dengan pemahaman dengan konsep wadah dan isi, artinya….. yang namanya jodoh adalah ketika keadaan dua orang manusia (laki laki dan perempuan kufu atau setara) dan bukan jodohnya ketika sudah tidak setara lagi (mohon tidak dipahami dengan terlalu sempit) sederhananya seorang pelacur tidak akan ketemu kecuali dengan yg serupa dengan itu….. perceraian terjadi ketika ke kufuan sudah tidak adalah lagi, sehingga pernikahan atau jodoh pun hakekatnya adalah hal yang harus terus menerus di upayakan ketika pengetahuan/pemahaman istri terasa tertinggal maka menjadi tugas suami menariknya sehingga bisa berdampingan lagi berjalannya…. tidak tertinggal ….. ketertinggalan salah satunya cenderung kepada perceraian….hal ini mengapa perceraian merupakan hal yang dibolehkan namun dibenci Allah yaitu itu…. sebab perceraian adalah kondisi ketidak kufuan, sehingga dapat berbahaya bagi salah satu yang baiknya, sedangkan ketidak kufuan boleh jadi karena kurang kuatnya keinginan/upaya untuk mendidik salah satunya itu sebabnya dibenci :) .

    di Al baqoroh disebutkan “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” artinya bahwa apapun yang ada dihadapan kita, hakekatnya bisa/sanggup kita hadapi dan selesaikan karena……….. yang tidak bisa kita hadapi yaaaaaaa tidak akan diberikan kepada kita gitu kan ? :) …….. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (maaf klu rada salah) esesnsinya…. itu seperti yang saya sudah jelaskan diatas tentang cabang dan ranting pohon dan pilihan hidup.

    Berikutnya, Apakah kematian manusia sudah ditetapkan Allah? jawabanya “Ya” tapi kematian dengan cara yang mana dan kematian kita yang kapan ?

    Naaaaaah….. Rasulullah bilang klu ribuan sebab kematian mengelilingi kita …. ya kan klu saya analogikan lagi dengan ujung pucuk ranting pohon itu adalah kematian bisa ada pucuk ranting yang dekat dengan pangkal batang pohon atau ada yang paling jauh dari pangkal pohon….. naaaah itu juga menjadi hasil dari pilihan hidup kita :) ….
    Setiap Pucuk pucuk ranting itu sudah ditentukan Allah untuk kita dan hanya satu pucuk ranting yang akan kita temui di akhir perjalanan hidup kita di dunia ini…. melalui sebab-sebabnya.

    Demikian yang bisa saya share untuk melengkapi pemahaman yang sudah disampaikan saudara-saudara yang lainnya.

    Berikut adalah kisah senada dengan paparan saya di atas : Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya:

    “Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”

    Umar r.a. menjawab,

    “Saya lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya
    yang lain.”

    Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih?
    Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian
    merupakan sikap ‘tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,’ “… dan kamu harus percaya kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannyasendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.

    TANGGAPAN:
    Yang harus dipahami yaitu, ada tiga logika:
    1.Logika Tuhan
    2.Logika Alam
    3.Logika Manusia

    Tanpa pemahaman ketiga logika itu, kita akan terjebak menjadi manusia beragama yang bagus “ibadahnya tetapi kacau balau logikanya”.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.