WALAUPUN Indonesia sudah memasuki zaman internet, ternyata hampir semua orang, termasuk yang berpendidikan S-1,S-3 maupun S-3 yang masih punya pendapat ngawur tentang ilmu filsafat.
Mereka secara apriori mengatakan bahwa ilmu filsafat adalah ilmu yang tidak ada gunanya atau ilmu sampah, buang-buang waktu, tidak bisa menghasilkan uang, merupakan ilmu yang hanya pantas dipelajari oleh orang yang sakit syaraf/jiwa/gila, ilmu yang menyesatkan, bertentangan dengan agama terutama agama Islam, atheis, ilmu yang terlalu idealis dan tidak realistis, ilmu yang berbicara muluk (ndakik-ndakik) dan pendapat-pendapat miring lainnya.
Menurut saya, semua pendapat tersebut salah dan ngawur, bersifat apriori dan tidak objektif. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu filsafat sehingga cara berpikirnya salah dan kesimpulan-kesimpulannya juga salah.
Pertama kali saya belajar ilmu filsafat di Fakultas Filsafat UGM, sayapun beranggapan seperti mereka. Namun, karena rasa ingin tahu saya, maka hari demi hari semua matakuliah saya ikuti dan saya cermati. Pada awalnya saya merasa aneh membaca pendapat-pendapat Plato, Herakleitos, Aristoteles, Karl Marx, Jean Paul Sartre, dll. Mulai pendapat era Yunani hingga era zaman modern saya ikuti. Ada juga sih teman kuliah saya yang pada semester satu keluar dari fakultas tersebut dengan alasan takut sakit gila.
Memang, pendapat-pendapat yang ada di dalam semua buku-buku filsafat memang terasa aneh. Namun yang harus dipahami adalah, kenapa dia berpendapat seperti itu, apa maksudnya dan apa implikasi dari pendapat-pendapat itu. Tiap pemikiran ada alirannya dan ada ismenya.
Sebenarnya apa sih ilmu filsafat itu? Akhirnya saya memahami ilmu filsafat itu apa. Ilmu filsafat adalah ilmu yang nenpelajari tingkah laku pemikiran, mengetahui pola dan struktur pemikirannya dan segala implikasinya.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menilai cara dan pola pikir orang yang berbicara dengan kita. Kita juga bisa menganalisa pendapat-pendapat SBY, Amien Rais, Boediono, Kwik Kian Gie, dll. Kita akan mampu membedakan mana pendapat yang benar dan mana yang tidak benar secara objektif. Bahkan kita bisa menilai apakah orang yang kita hadapi termasuk orang yang pandai atau orang yang bodoh walaupun mereka bergelar S-1, S-2 dan S-3.
Contoh, Di Indonesia banyak sarjana yang memakai gelar S-1 dan S-2 sekaligus. Ini merupakan hasil cara berpikir yang salah dan ngawur. Seharusnya cukup S-2 saja yang dipakai sebab S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang atau tingkat pendidikan. Kita juga akan tahu bahwa gelar Dra, Ir, BcHk,MHum,MPd dan MSi adalah gelar-gelar sarjana yang salah dan ngawur. Bahkan istilah program magister juga salah. Semua kesalahan ini terjadi karena mereka tidak pernah belajar ilmu filsafat. Mereka bisanya Cuma ngeyel tanpa didukung penalaran yang ilmiah dan objektif. Hampir semua sarjana Indonesia cara berpikirnya masih apriori dan belum aposteriori.
Ilmu filsafat tidak bisa menghasilkan uang? Ini juga pendapat yang ngawur. Ilmu filsafat bisa diterapkan di mana saja, baik di dalam agama, ekonomi, politik, hukum, matematika, dll. termasuk di dalam bisnis. Artinya, orang yang melakukan pemikiran-pemikiran bisnis sebenarnya telah mempraktekkan filsafat bisnis.
Di dalam agama Islam kita sering menemukan kalimat “Serahkan segala urusan kepada ahlinya (yang mengerti). Jika tidak, maka kehancuran akan menimpa bangsa ini. Serahkan ilmu filsafat kepada ahlinya (alumni fakultas filsafat). Jika diserahkan kepada sarjana nonfilsafat, maka kacaulah pendapat-pendapatnya.
Berfilsafat adalah berpikir objektif,rasional, logis dan benar. Berfilsafat pasti berpikir, tetapi berpikir belum tentu berfilsafat. Jadi, jangan heran kalau di Indonesia masih banyak orang yang mengeluarkan pendapat-pendapat yang salah, tidak logis dan ngawur walaupun mereka sudah bergelar S-1, S-2 ataupun S-3.
Catatan:
Orang yang bodoh (mengerti ilmu filsafat dan ilmu logika hanya sedikit),memang seringkali merasa lebih pandai daripada pakar (orang yang benar-benar mengerti ilmu filsafat dan ilmu logika).
Hariyanto Imadha
Alumni Fakultas Filsafat
Pecinta Ilmu Filsafat Terapan



Artikel yang bagus. Aku jadi ingin mempelajari ilmu filsafat. Sepertinya itu menarik.
TANGGAPAN:
kalau kita belajar filsafat, memang terasa aneh. Bicaranya kok nggak karuan.
Namun harus dipahami bahwa ilmu filsafat adalah ilmu yg mempelajari “perilaku pemikiran” beserta konsekuensinya. Misalnya, kalau Si A punya pemiran X, apa konsekuensinya? Apa penalarannya? Dst. Dengan demikian kita bisa menilai ucapan2 ataupun tulisan2 atau pemikiran2 org lain.
Oleh: Khomsa on Februari 7, 2012
at 3:08 am