ADA logika yang salah, seolah-olah kalau naik haji maka semua dosanya akan terhapus. sampai hari ini masih ada yang menganut logika yang keliru itu. bahkan, ada yang mencatut ayat-ayat Al Qur’an dan ditafsirkan menurut versinya sendiri.
Matematika naik haji memakai uang hasil korupsi
Naik haji nilainya +100. Sedangkan korupsi nilainya –100. Dengan demikian naik haji menggunakan uang korupsi nilainya = +100-100= 0 alias NOL.
Tak menghapus dosa korupsi
Secara logika yang sehat, naik haji yang dibiayai uang hasil korupsi, tidak akan menghapus dosa-dosa korupsi.
Konsekuensi logika yang salah
Jika ada yang menggunakan logika yang salah bahwa naik haji bisa menghapus dosa-dosa korupsi, maka konsekuensinya orang-orang Indonesia yang beragama Islam akan berlomba-lomba untuk korupsi. Toh, menurut logika yang salah, semua dosa korupsinya akan dihapus.
Menggunakan analogi yang salah
Mereka berdalih, membangun masjid memakai uang korupsi boleh-boleh saja. Iya,sih. Membangun masjidnya dapat pahala, tetapi korupsinya berdosa. Pahalanya +100% dan dosa korupsinya –100%. Jadi, nilainya 0% juga.
Korupsi sama dengan kafir
Beberapa waktu yang lalu, beberapa tokoh NU dan Muhammadiyah telah sepakat mengatakan bahwa, perbuatan korupsi kadarnya sama dengan perbuatan orang-orang kafir.
Naik haji harus menggunakan uang yang halal
Tujuan yang baik, harus menggunakan cara-cara yang baik. Yaitu menggunakan uang yang halal. Antara lain dengan cara menabung. Bukan dengan cara menjual tanah/rumah pribadi, dan ketika pulang menjadi miskin karena tak punyatanah/rumah.
Saran
Naik haji sebaiknya sesuai dengan kesadaran beriman. Bukan karena ikut-ikutan atau karena ingin dihargai dan bukan karena mengejar status sosial.
Sumber foto: nagoro.wordpress.com
Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger


