Oleh: ffugm | November 15, 2011

FILSAFAT: Layakkah Anggota DPR Pamer Mobil-Mobil Mewah?

DISKUSI yang menjadi bahan pembicaraan minggu ini adalah banyaknya anggota DPR yang menggunakan mobil mewah dengan harga di atas Rp 1 M. Menanggapi hal tersebut, tentu ada pihak-pihak anggota DPR yang “membela diri”.

Pembelaan anggota DPR:

1.Cuma sedikit
Katanya, yang punya mobil mewah cuma sedikit.
2.Sudah kaya sejak dulunya
Katanya, anggota DPR yang membawa mobil mewah sudah sejak dulunya kaya. Apalagi dia juga pengusaha besar.
3.Urusan pribadi
Katanya, mau memakai mobil mewah atau tidak itu urusan pribadi. Bukan urusan orang lain.

Analisa
1.Cuma sedikit
Iya,sih.Paling hanya sekitar 30% anggota DPR yang menggunakan mobil mewah. namun, yang dipersoalkan bukan sedikit atau tidak sedikitnya, tetapi soal pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau sedikit lantas bisa dibenarkan?

2.Sudah kaya sejak dulunya
Memang, banyak anggota DPR yang sebelum menjadi anggota DPR sudah kaya. Namun, yang dipersoalkan bukanlah sudah kaya sebelumnya atau belum kaya sebelumnya, tetapi soal pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau sudah kaya sebelumnya bisa dibenarkan?

3.Urusan pribadi
Katanya, memakai mobil mewah adalah hak setiap orang yang memiliki. Namun, yang dipersoalkan adalah pemakaian mobil mewah itu.

Apakah kalau itu hak pribadi seseorang lantas bisa dibenarkan?

Krisis penalaran
Jawaban-jawaban anggota DPR tersebut di atas merupakan indikator adanya “krisis penalaran” di sebagian anggota DPR. Tampak sekali mereka mengalami “error logic” yang tidak mereka pahami.

Pendapat dari sudut psikologi
Pemikiran psikologi mengatakan bahwa, sikap-sikap di atas termasuk sikap-sikap antisosial. Tidak ada rasa empati terhadap masyarakat. Tidak punya hati nurani. bahkan termasuk gejala adanya pengidap psikopat. Demikian pendapat Prof.Dr.Hare dalam bukunya berjudul “Without Conscience” (“Tanpa Hati Nurani”)
Pendapat dari sudut filsafat sosial
Argumentasi-argumentasi anggota DPR yang bernada membela diri itu jelas tidak berbasiskan pada penilaian sosial atau penilaian masyarakat. Mereka tak menyadari bahwa mereka hidup di lingkungan masyarakat yang faktanya masih banyak yang miskin. Seharusnya sebagai wakil rakyat mereka menunjukkan kesederhanaan agar tidak menyakiti hati masyarakat. Seharusnya memberikan contoh yang baik kepada rakyat yang diwakilinya. Jelas, pamer mobil mewah, sengaja atau tidak, tidak sesuai dengan azas kelayakan atau azas kepatutan yang berlaku di masyarakat. Dan itu merupakan “penyakit penalaran”.

Sumber foto: tmcblog.com

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.