SYIRIKISME memang merupakan perilaku buruk seseorang. Namun, perilaku itu lebih dipengaruhi cara berpikir yang buruk. Oleh karena itu artikel ini lebih menitikberatkan aspek pemikiran daripada aspek perilaku fisik.
Definisi syrikisme
Definisi umum “syirik” atau “syirikisme” yaitu cara berpikir yang menuhankan sesuatu selain Allah swt”. Ada syirik sosial, ada syirik narsis, ada syirik politik ,ada syirik hedonis, syirik materialis dan masih ada beberapa macam syirik lainnya.
Syirik sosial
Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang mengabaikan kepentingan rakyat demi kepentingan dirinya sendiri. Misalnya, pada saat rakyat bergelimpangan terluka, kelaparan, kedinginan dan tewas karena bencana alam, ternyata pemimpin atau wakil rakyat kita jalan-jalan ke luar negeri (ke Jerman, Italia dan lain-lain).
Syirik narsis
Yaitu sikap seorang pemimpin, wakil rakyat atau masyarakat yang menuhankan gelar haji atau gelar hajah maupun gelar akademis maupun pangkat dan jabatan. Seolah-olah mereka merasa tak dihargai dan tidak oleh orang lain kalau tidak memakai gelar, pangkat atau jabatan tersebut. Baginya, gelar haji/hajah/sarjana, pangkat dan jabatan adalah “tuhan” mereka.
Syirik politik
Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang pergi ke dukun atau paranormal dengan tujuan bisa memenangkan pemilu ataupun pilkada. Artinya, mereka menuhankan dukun atau paranormal daripada menuhankan Allah swt demi kepentingan politiknya.
Syirik hedonis
Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang menuhankan harta dengan cara melakukan korupsi, suap ataupun pemerasan ataupun melalui kejahatan kerah putih untuk memperkaya diri sendiri maupun golongannya. Termasuk syirik hedonis yaitu hidup bermewah-mewah. Mobil menteri yang mewah (padahal bisa pilih yang sederhana), gedung DPR baru yang mewah (padahal bisa memaksimalkan atau memodifikasi gedung yang sudah ada).
Syirik materialis
Yaitu sikap seorang pemimpin atau wakil rakyat yang semata-mata memanfaatkan jabatannya untuk mengejar kekayaan berpa uang, harta benda atau materi secara berlebihan. Dengan kata lain, mereka telah menuhankan uang, harta benda atau materi. Mereka menyembah harta benda atau materi. Seolah-olah mereka tidak bisa hidup dan akan menderita jika tidak hidup kaya raya secara berlebihan.
Agama dipahami hanya kulit-kulitnya saja
Pada dasarnya, mereka yang berpikiran dan berbuat syirik dilakukan oleh sebagian pemimpin dan wakil rakyat yang bermoral syirik karena agama dipahami hanya kulit-kulitnya saja. Mereka merasa suci saat mengikuti ceramah agama. Begitu selesai ceramah agama, mereka kembali ke moral syiriknya lagi.
Rajin shalat saja tidak cukup
Banyak pemimpin dan wakil rakyat merasa cukup bersih manakala shalat. Seolah-olah tak punya dosa. Seolah-olah suci. Padahal, shalat harus diikuti dengan tindakan nyata. Tidak korupsi, tidak melanggar peraturan lalu lintas dan tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Juga harus bermoral dan beretika yang baik.
Pengertian kurban yang keliru
Banyak pemimpin dan wakil rakyat beranggapan, kalau pada Idhul Adha mengurbankan kambing atau sapi, maka mereka merasa telah berkurban. Padahal, pengertian pengurbanan bagi seorang pemimpin atau wakil rakyat lebih luas. Yaitu, mereka harus rela mengurbankan kepentingan pribadi dan partai politiknya, demi kepentingan rakyat. Sampai hari ini, kita belum memiliki seorang pemimpin atau wakil rakyat seperti itu, kecuali Bung Karno yang rela dipenjara demi kepentingan negara dan bangsa. Juga kecuali para pahlawan yang rela mengurbankan nyawa demi kemerdekaan republik Indoneia.
Hanya bangsa yang benar-benar menghayati agamanya secara benar yang akan terhindar dari berbagai sikap syirik dan sekaligus akan terhindar dari berbagai macam bencana.
Sumber gambar: politik2009.blogspot.com
Catatan:
Artikel ini adalah artikel filsafat. Bukan artikel agama.
Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku pemikiran
Sejak 1973


