KRITIK

 

Iklan Sekolah Gratis Iklan Penggoblokan Masyarakat

Pendapat-Pendapat Yang Ngawur T entang Ilmu Filsafat

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian-8)

Hukum Karma Politik dan

Ramalan Jayabaya tentang Presiden-presiden Indonesia

Kekacauan DPT Cermin Kekacauan Berlogika

Golput Juga Warganegara Yang Baik

Logika Pemilu Online

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 7)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 6)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 5)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 4)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 3)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 2)

1000 Kesalahan Berlogika (Bagian 1)

Berbeda Pendapat Memang Perlu Persiapan Mental

Yang Mengatakan Golput Haram adalah Manusia. Bukan Tuhan!

NU Tidak Larang Golput

Lawan Bicara Anda Pandai atau Bodoh?

Tiap Orang Logikanya Terformat Oleh Lingkungan

 

 

Bias-bias Logika

FILSAFAT:

Matrik Logika: Cara Berpikir yang Benar

SAYA merasa beruntung bisa diterima di Program Sarjana Muda, Fakultas Filsafat, UGM, Yogyakarta pada 1980. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk membaca buku-buku tentang ilmu logika yang banyak terdapat di Perpustakaan FF UGM. Ini atas inisiatif saya sendiri. Maklum buku-buku tentang ilmu logika di perpustakaan di Jakarta (LIPI, British Council, FSUI, STF Driyarkara, dan lain-lain) jumlahnya sangat sedikit.

Tiap hari saya selalu mencari buku-buku tentang ilmu logika. Bahkan ada satu buku yang sangat bagus namun sulit dipahami. Dosen saya (waktu itu Ibu Endang Daruni) mengatakan bahwa buku yang sedang saya baca buku yang sangat bagus, namun sangat sulit dipahami. Untunglah saya punya latar belakang pendidikan dari Akademi Bahasa Asing “Jakarta” sehingga saya berhasil memahami buku itu.

Nah, dari berbagai buku, saya berhasil membuat Matrik Logika yang sangat membantu kita untuk berpikir yang logis dan benar. Sebab, berpikir logis belum tentu benar. Sebaliknya, berpikir benar pasti logis.

Contoh:

Ada polemik (perdebatan pendapat) tentang golput dan tentang hukuman mati di Indonesia. Ada yang pro dan ada yang kontra. Cara berpikir mana yang benar? Untuk itu harus menggunakan Matrik Logika.

Unsur-unsur matrik logika yaitu: item, premise, teori,kondisi, fakta, kesimpulan, nilai kebenaran dan rekomendasi. Itu matrik logika sederhana. Untuk matrik logika yang ruwet (sulit) tidak saya tulis di sini karena memerlukan uraian yang panjang lebar (bersifat interdisipliner).

 

MATRIK LOGIKA

Tidak golput lebih baik daripada golput

ITEM

PREMIS

TEORI

KONDISI

FAKTA

1

Tidak golput lebih baik

daripada golput

1

0

0

2

Kriteria lebih baik sangat subyektif

1

1

1

3

Kriteria obyektif tidak seragam

1

1

1

Lebih baik itu kriterianya apa? Sangat subyektif

Lebih baik itu kriteria obyektifnya apa? Tidak ada keseragaman pendapat

Kesimpulan: Pendapat yang mengatakan tidak golput lebih baik daripada golput

Merupakan pendapat yang tingkat kebenarannya sangat subyektif

 

 

MATRIK LOGIKA

Pilih capres terbaik diantara semua capres yang tidak baik

ITEM

PREMIS

TEORI

KONDISI

FAKTA

1

Misal ada lima capres.

Masing-masing punya nilai:

30,35,40,45,50 (tidak lulus)

1

0

1

2

Misal ada lima capres.

Masing-masing punya nilai:

40,40,40,40,40 (tidak lulus)

1

0

1

3

Kriteria sangat subyektif

1

1

1

Karena nilai tertinggi 50, maka Anda pilih 50 (nilai subyektif)

Kalau nilai semua capres 40, maka Anda tidak memilih/golput (nilai subyektif)

Kesimpulan: Pendapat yang mengatakan pilih capres terbaik

dari semua capres yang tidak baik

Merupakan pendapat yang tingkat kebenarannya sangat subyektif

 

MATRIK LOGIKA

Hukuman mati di Indonesia

ITEM

PREMIS

TEORI

KONDISI

FAKTA

1

Hukuman tembak menimbulkan efek jera

1

0

0

2

Pembunuhan/bandar narkoba tetap ada

1

1

1

Penjelasan: Walapun ada hukuman mati, pembunuhan/bandar narkoba tetap bermunculan

Kesimpulan: hukuman mati tidak efektif (nilai kebenaran tidak 100%)

Rekomendasi: Sebaiknya hukuman mati di Indonesia dicabut

 

 

MATRIK LOGIKA

Hukuman mati di negara Islam Saudi Arabia

ITEM

PREMIS

TEORI

KONDISI

FAKTA

1

Hukuman pancung menimbulkan efek jera

1

0

0

2

Keluarga korban memaafkan

1

1

1

3

Keluarga korban tidak memaafkan

1

1

1

Penjelasan: Dalam kondisi keluarga memaafkan, hukuman pancung dibatalkan

Dalam kondisi keluarga korban tidak memaafkan, hukuman pancung dilaksanakan

Pada kedua kondisi itu, angka pembunuhan di Saudi Arabia kecil (sedikit)

Kesimpulan: Hukuman pancung di Saudi Arabia efektif (nilai kebanaran 100%)

Rekomendasi: Hukuman pancung di Saudi Arabia perlu dipertahankan

 

Hariyanto Imadha

Pencipta Matrik Logika

FILSAFAT:

Golput dari Sudut Pandang Ilmu Logika

FILSAFAT adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku berpikir seseorang. Sedangkan ilmu logika adalah rumusan atau formula untuk berpikir logis dan benar. Dengan memahami ilmu logika formal dan logika material, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang logis dan benar.

Dari sudut ilmu logika, maka memilih bisa diberi kode A dan tidak memilih bisa diberi kode B. Prinsip ilmu logika mengatakan bahwa A adalah A dan B adalah B. A bukan B dan B bukan A. Artinya, A tidak identik dengan B dan B tidak identik dengan A.

Kalau orang mengambil keputusan memilih A atau B, maka itulah pilihan orang yang berlogika. Kenapa harus A dan kenapa harus B tentu harus ada alasannya yang rasional.

Kalau orang mengambil sikap A (misalnya, golput) tentu alasannya tidak satu. Tiap orang punya alasan sendiri. Antara lain karena lupa, apatis, tidak percaya terhadap caleg atau calon pemimpin, sakit, kebetulan di rumah ada saudara yang meninggal, karena mencari nafkah di luar kota, sebagai sikap protes, karena tidak diberi kartu pemilih, tidak terdaftar sebagai pemilih, karena menilai tidak ada calon pemimpin yang memenuhi syarat, dan masih ada ratusan alasan yang tidak bisa diterangkan semuanya di sini.

Sejauh sikap golputnya ada alasannya, maka sikap golputnya tergolong rasional, logis dan benar. Tapi kalau golput tanpa alasan, maka sikap demikian menyalahi prinsip-prinsip ilmu logika. Logika selalu membutuhkan penalaran.

Kebenaran dari sikap golput sifatnya relatif. Tidak bisa disamaratakan.Tidak bisa dimatematikakan. Oleh karena itu kebenaran sikap golput sifatnya adalah individual. Orang lain tidak bisa ikut campur sebab tiap orang punya sudut pandang sendiri-sendiri. Kalau Anda memilih makan ayam goreng, maka orang lain tidak bisa memaksa Anda untuk makan sate kambing. Sebab, orang lain juga tidak mau dipaksa makan ayam goreng kalau orang lain lebih suka sate kambing.

Oleh karena itu sikap golput atau tidak golput adalah sikap yang bersifat individual dan tidak bisa disamaratakan dan tidak bisa disalahkan.

Hariyanto Imadha

KRITIK:

Mewaspadai Iklan Politik

Pencitraan

yang memasang iklan di televisi. Tujuannya yaitu untuk membangun citra di masyarakat. Oleh karena itu yang diiklankan hanya yang baik-baik atau yang kelihatannya baik-baik atau bahkan seolah-olah baik.

Mereka antara lain Prabowo, Wiranto, Soetrisno Bachir, dan tentu saja Partai Demokrat (PD) yang kelihatannya kurang PD (percaya diri). Semua punya tujuan yang sama yaitu ingin memenangkan pemilu melalui politik pencitraan.

Pada dasarnya politik pencitraan berisi janji-janji indah yang kalau nanti menang belum tentu bisa dilaksanakan. Iklan-iklan pencitraan juga seringkali mengandung kebohongan-kebohongan dengan cara memanipulasi, memplesetkan atau memberi pesan lain terhadap fakta-fakta yang ada.

Misalnya, diiklankan bahwa pemerintah telah berhasil melunasi utang IMF. Iklannya berhari-hari. Bagi masyarakat yang bodoh tentu akan menganggap itu merupakan prestasi yang luar biasa. Padahal, utang IMF dilunasi kemudian diganti dengan utang baru bernama Obligasi Retail Indonesia (ORI). Walaupun keduanya ada perbedaan sedikit, namun utang tetap utang. Yang melunasi nanti rakyat.

KPK digembar-gemborkan oleh Partai Demokrat bahwa telah sekitar 500 koruptor ditangani KPK. Ya, iyalah. Kalau dari segi kuantitas (jumlah koruptor yang ditangkap) KPK memang hebat. Tapi dari segi kualitas (jumlah uang yang berhasil disita dari koruptor), jumlahnya masih belum signifikan. Kalau begitu, KPK sekarang ini masih merupakan Komisi Pemberantasan Koruptor dan belum sebagai Komisi Pemberantasan Korupsi.

Di televisi juga diiklankan tentang keberhasilan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) misalnya pembangunan listrik desa, pendirian gedung sekolah di desa, dan lain-lain. Di era Soeharto program demikian disebut sewbagai Program Padat Karya dan tingkat keberhasilannya cuma 20 persen.

Demikian juga iklan pencitraan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Di era Soeharto dinamakan Kredit Usaha Kecil (KUK) dan tingkat kredit macetnya mencapai 80 persen.

BLT, BOS, raskin, jamkesmas, KUR dan semacamnya pada dasarnya merupakan kebijakan bergaya sinterklas. Bagi-bagi uang yang tidak produktif. Sekaligus merupakan pemborosan uang negara.

Sejak bertahun-tahun lalu saya menulis surat pembaca bahwa yang dibutuhkan masyarakat miskin adalah pekerjaan tetap dengan upah yang layak. Inilah yang tidak bisa dilakukan pemerintahan SBY. Pemerintah akhirnya bisanya hanya bagi-bagi uang bergaya sinterklas itu dan itu dijadikan komoditas politik pencitraan

Hariyanto Imadha

KRITIK:

Memohon Izin Kok Seperti Membuat Skripsi

ENAM belas tahun yang lalu saya bermaksud mendirikan lembaga pendidikan komputer (LPK) di salah satu kabupaten di Jawa Barat. Sebagai warganegara yang baik, sayapun harus mengurus izin. Untuk itu sayapun mendatangi kantor depdiknas (dulu depdikbud) setempat.

Di kantor itu saya dipinjami contoh untuk mengurus perizinan LPK. Sampai di rumah, saya langsung mulai membuat satu-persatu persyaratan yang harus dipenuhi. Antara lain, surat permohonan izin, fotokopi KTP dan ijasah pemilik dan pengelola. Kemudian, fotokopi KTP dan ijasah para karyawan dan instruktur. Surat persetujuan tetangga yang ditandatangani tetangga depan, kanan, belakang dan kiri. Rekomendasi dari kelurahan atau kepala desa setempat. Masih ada lagi, rekomendasi dari kantor kecamatan.

Syarat lain, denah ruang kursus, denah ruangan kantor, peta lokasi. Daftar fasilitas yang dimiliki dan jumlahnya (meja, kursi, papan tulis, komputer, dan lain-lain). Juga, surat kelakuan baik dari kepolisian, kurikulum lengkap (tiap materi harus disebutkan apa saja yang diajarkan, masing-masing berapa menit per sesi, dan lain-lain). Juga melampirkan tata tertib, daftar biaya, AD ART (bagi Yayasan), dan masih banyak lagi. Setelah selesai, jumlahnya 50 lembar. Persis, membuat skripsi.

Padahal menurut saya, cukup dua lembar saja, yaitu surat permohonan izin (tinggal diisi) dan lampiran berupa daftar isian (tinggal diisi).

Menurut saya, birokrasi berbelit dan tak bermutu itu karena akibat kebodohan dan ketololan berpikir birokrat. Logika berpikirnya yaitu semua penting. Padahal logika yang benar yaitu yang terpenting. Celakanya, sampai 2008 syarat-syaratnya tidak berubah.

Bagaimana mungkin bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang pandai kalau birokratnya sendiri bodoh dan tolol?

Hariyanto Imadha

KRITIK:

Ekonom-Ekonom yang Narsis

grafikkursrupiah2GRAFIK:http://www.exchange-rates.org

 

 

SAYA cuma bisa mengelus dada kalau jubirpres Andi Malarangeng selalu mengesankan bahwa pemerintahan sekarang lebih baik daripada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Oleh karenanya empat tahun yang lalu saya menulis surat pembaca di Jawa Pos berjudul “Kabinet Megalomania”.

Megalomania yaitu orang yang punya cita-cita yang luar biasa muluk, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Lagipula keterlaluan kalau ada ekonom yang mengatakan bahwa ekonom sekarang lebih pintar daripada ekonom pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Itu merupakan pernyataan yang sombong, tidak etis dan narsis.

Padahal banyak fakta ekonomi yang bersifat negatif:

-Fakta, harga BBM naik berlipat-lipat

-Fakta, harga sembako, biaya kuliah dan biaya kesehatan menjadi mahal

-Fakta, SKB 4 menteri tentang upah buruh ditolak ratusan ribu buruh

-Fakta, nilai kurs rupiah terhadap terus anjlok,anjlok dan anjlok

-Fakta, bahwa cadangan devisa terus terkuras

-Fakta, Bank Century terpuruk

-Fakta, pemerintah gagal merealisasikan target pembangunan 100.000 rumah sehat sederhana

-Fakta, konversi minyak tanah telah mengakibatkan meledaknya 50 kompor gas dan menimbulkan korban luka, tewas dan kerusakan rumah

-Fakta, petani kesulitan mendapatkan pupuk. Andaikan ada, harganya mahal

-Fakta, cicilan utang pada 2009 membengkak dari Rp 200.000 triliun menjadi Rp 250.000 triliun

-Fakta, utang IMF dilunasi, diganti utang baru bernama obligasi retail indonesia (ORI)

-Fakta, angka inflasi mencapai dua digit

-Fakta, anggaran pendidikan 20 persen mengakibatkan defisit APBN membengkak

-Fakta, masih ada satu juta lebih sarjana (S1,S2,S3) yang menganggur

-Fakta, di Sungai Ciliwung masih ada 400.000 rakyat miskin

-Fakta, bunga kredit KPR semakin memberatkan para kreditur

-Fakta, suku bunga kredit bank membuat ekonomi menjadi lesu

-Fakta, sampai berbulan-bulan pesawat Indonesia belum boleh mendarat di Eropa

-Fakta, ganti rugi untuk korban lumpur Lapindo belum beres

-Fakta, puluhan besar meminta izin untuk mem-PHK ribuan buruhnya

-Dan masih ada ratusan fakta-fakta ekonomi dan sosial yang negatif yang bisa kita baca di berbagai media masa cetak ataupun lewat internet.

Sekali lagi saya katakan, hanya orang-orang narsis saja yang mengatakan pemerintahan sekarang lebih pintar dibandingan pemerintahan sebelumnya. Hanya ekonom-ekonom yang tidak mengerti filsafat ekonomi yang membuat kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat, terutama buruh.

Hariyanto Imadha

KRITIK:

 

Pemerintah Kita Memang Kurang Cerdas

 

Saya menulis surat pembaca (kritik membangun) sudah sejak 1973. Saya menilai banyak kebijakan pemerintah yang menyalahi Ilmu Logika dan berakibat fatal. Banyak contohnya. Namun di sini saya hanya akan berikan beberapa contoh saja.

 

Beda penanganan sembako di Indonesia dan Malaysia:

Indonesia membiarkan harga sembako sesuai dengan mekanisme pasar. Namun yang terjadi adalah mekanisme pasar yang tak terkendali. Akibatnya, tiap Ramadan, harga sembako naik dan pemerintah tidak mampu mengendalikannya.

 

Sedangkan Malaysia, untuk mengendalikan 14 kebutuhan pokok, pemerintah menerapkan mekanisme pasar terkendali. Ada batas atas harga-harga. Untuk memantau harga, Malaysia menugaskan ribuah polisi untuk memantau harga-harga tersebut. Jika melewati harga batas atas, penjual atau pengusaha akan dikenakan sanksi tegas.

 

Beda pajak mobil Indonesia dan Singapura

Di Indonesia, semakin tua usia mobil, pajaknya semakin murah. Akibatnya, jumlah mobil bertambah pesat tak terkendali sehingga menimbulkan problem sosial. Antara lain kemacetan lalu lintas, polusi,dll. Celakanya, kalau sudah kacau begini, pemerintah tidak mampu berbuat apa-apa.

 

Sedangkan di Singapura. Pemerintah menghitung berapa luas dan panjang jalan. Lantas ditentukan berapa jumlah batas maksimal kendaraan yang boleh ada. Lantas ditetapkan besarnya pajak. Semakin baru mobil/kendaraan, maka pajaknya semakin murah. Semakin tua usia mobil, semakin mahal pajaknya. Tujuannya, menggiring orang membeli mobil baru. Efeknya, kemacetan bisa dihindari, polusi bisa dikurangi.

 

Kenapa kok kita selalu mendapatkan pemimpin dan politisi yang bego-bego begitu? Pertama, dasarnya memang bego. Kedua, syarat untuk menjadi pemimpin atau politisi cuma syarat administratif. Belum pernah ada test IQ atau test kecerdasan begitu.

 

Ketika saya kuliah di UGM (sekitar 1980), ada seorang calon doktor psikologi mengadakan penelitian tentang IQ mahasiswa UGM. Hasilnya, dari sekitar 5000 mahasiswa, hanya ada 5 mahasiswa UGM yang IQ-nya tinggi. Artinya, mahasiswa yang cerdas hanya sekitar 5/5000 x 100 persen = 0.1 %. Lantas teman saya bilang “Orang Indonesia yang cerdas kira-kira cuma 0,1%. Pemimpin yang cerdas hanya 0,1%

 

Coba,kalau menteri pendidikannya bergelar MBA,itu kan logika yang kacau.Seharusnya menteri pendidikan minimal bergelar MEd (Master of Education). Kalau dulu Hatta Radjasa yang Sarjana Teknik ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan, itu kan salah. Seharusnya dia jadi Menteri PU. Dulu Aburizal Bakrie yang Sarjana Teknik ditunjuk jadi Menko Perekonomian, ya…kacau balaulah perekonomian kita.

 

Jadi,jangan heran kalau dunia perekonomian,politik,pendidikan,dll kacau balau seperti sekarang ini. Lha,wong pemimpin kita yang cerdas cuma 0.1%

 

HARIYANTO IMADHA

KRITIK:

Telah Dibuka Universitas Baru

Universitas Abracadabra

Menerima mahasiswa baru untuk fakultas/jurusan:

1.Fakultas Ekonomi

Jurusan: Lempar Batu

2.Fakultas Hukum

Jurusan: Bakar Ban Bekas

3.Fakultas Teknik

Jurusan: Lempar Bom Molotov

4.Fakultas Sastra

Jurusan: Membakar Gambar Presiden

5.Fakultas Kedokteran

Jurusan: Memukuli Satpam Kampus

6.Fakultas Filsafat

Jurusan: Tawuran

6.Fakultas Ilmu Komputer

Jurusan: Memblokir Jalan

7. Fakultas Ilmu Komunikasi

Jurusan: Merobohkan Pagar

8. Fakultas Seni Rupa

Jurusan: Menghancurkan Fasilitas Kampus

Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru

Universitas Abracadabra

Prof.Dr.Lieng Loeng Similikitik,

MBA,MSc,MM,MPd,MHum,MSi

Rektor

Hariyanto Imadha

KRITIK

Gelar Sarjana Tidak Merupakan Jaminan

SAMPAI hari ini saya masih memegang “rekor” (walaupun tidak tercatat di Muri) sebagai satu-satunya (dulu) mahasiswa yang sanggup kuliah di 6 PTN/PTS (di Jakarta dan Yogya) sekaligus dan semua matakliah lulus. Bahkan pada 1980 ketika di UGM ada calon doktor melakukan penelitian tentang IQ, maka hasilnya dari sekitar 5.000 mahasiswa UGM, hanya ada lima mahasiswa yang mempunyai IQ tinggi.

Artinya, di lingkungan kaum terpelajarpun ternyata yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi sangat sedikit sekali. Itulah sebabnya ketika setelah selesai diwisuda di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, saya langsng mencopot toga hitam dan memakai toga putih dan bertuliskan “Maaf, saya tidak butuh gelar”. Alasannya, di Indonesia ini banyak orang memakai gelar sarjana, tetapi bisanya Cuma mencari pekerjaan dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja.

Meskipun demikian, untuk menyenangkan orang tua, sayapun juga mencari pekerjaan. Di jakarta saya bekerja di perusahaan komputer dan saya adalah satu-satunya sarjana non-komputer. Saya bisa komputer karena otodidak dan bukan karena pendidikan. Seudah kedua orang tua saya meninggal, maka sayapun enciptakan lapangan kerja, yaitu membuka lembaga pendidikan komputer.

Semua instruktur saya rekrut dari sarjana komputer. Hasil rekruitmen menunjukkan bahwa tidak semua sarjana komputer berkualitas. Dari 40 sarjana komputer yang saya seleksi, hanya dua orang saja yang lulus. Itupun ketika bekerja kemampuannya rendah. Membuat diktat komputer saja tidak mampu. Memprihatinkan sekali. Walaupun saya bukan sarjana komputer, namun sampai sekarang saya telah menguasai sekitar 500 program under Windows dan Linux. Saya menilai orang bukan dari gelarnya, tetapi dari kemampuannya.

Apa iya kalau presiden Indonesia minal berpendidikan S-1 maka masalah-masalah negara dan bangsa bisa diselesaikan dengan baik? Belum tentu. SBY yang S-3 Pertanian itu ternyata tidak mampu berswasembada beras (ini fakta,lho). Sedangkan Megawati yang tidak menyelesaikan kuliah (dulu, di era Soeharto, semua anak-anak Bung Karno dipecat dari kampus. Tidak boleh kuliah), ternyata mampu berswasembada beras. Kalau presiden harus minimal S-1, apakah Anda setuju kalau presidennya S-1 Arkeologi? Lha, apa hubungannya dengan profesinya? Kok goblok banget ya anggota-anggota DPR-RI yang mengusulkan demikian. Namun saya setuju kalau S-1 nya ada hubungannya dengan profesinya sebagai presiden.

Misalnya diadakan STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan) atau STIPK (Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan dan Ketatanegaraan) dengan fokus untuk jadi walikota, bupati, gubernur, cawapres dan capres. Pengetahuan tentang imu pemerintahan, politik dan ketatanegaraan itu perlu. Soalnya, dulu Jusuf Kalla yang sarjana itu pernah mengeluarkan SK Wapres. Ha..ha..ha…itu tandanya Kalla tidak mengerti ilmu pemerintahan dan ketatanegaraan. Ini fakta lho!

Yang pasti, Nabi Muhammad saw bukan sarjana. Bahkan beliau itu dulu buta huruf. Tapi toh mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa. Mampu menjadi pemimpin negara dengan baik. Meskipun demikian, di era sekarang yang serba kompleks dibutuhkan seorang presiden dan cawapres yang memiliki kemampuan di bidang pemerintahan dan ketatanegaraan, baik sarjana ataupun bukan sarjana. Keduanya boleh jadi capres atau cawapres. Rakyatlah nanti yang akan memilih.

Hariyanto Imadha

LOGIKA

Logika Itu Apa Sih?

DULU, ketika fakultas psikologi pertama dibuka di Indonesia, maka muncul pandangan-pandangan miring. Katanya, mereka yang kuliah di fakultas tersebut adalah orang-orang yang sakit jiwa. Tentu, pandangan ini keliru dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang logikanya tumpul. Sekarang, peminat masuk fakultas psikologi tiap tahun meningkat terus. Secara umum, definisi psikologi yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku kejiwaan seseorang.

Masih dulu, ketika dibuka pertamakalinya fakultas filsafat, lagi-lagi muncul penilaian miring. Katanya, fakultas tersebut hanya cocok untuk orang-orang gila atau sakit syaraf. Bahkan teman saya yang sarjana ITB juga berpendapat demikian. Pendapat tersebut tentu saja hanya pantas dilontarkan oleh orang-orang yang logikanya miring juga. Secara umum, defisini filsafat adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku penalaran atau logika seseorang.

Itulah sebabnya, di samping saat itu saya kuliah di 5 PTN/PTS, saya juga kuliah di Fakultas Filsafat UGM, Buat apa sih? Saya secara khusus ingin memperdalam ilmu logika (logics as science). Bukan logikanya tukang becak atau logikanya sarjana nonfilsafat. Ada dua macam logika, yaitu logika formal dan logika material (epistemologi). Logika formal cara berfikirnya hanya sampai tingkat kebenaran logis (yang biasanya dianut masyarakat umum, termasuk sarjana nonfilsafat) dan logika material yang sampai tingkat kebenaran yang sesungguhnya. Buku-buku logika di Fakultas Filsafat UGM merupakan koleksi terlengkap di Indonesia. Ternyata, berlogika itu ada aturan mainnya. Tidak semua berpikir itu berlogika, tetapi kalau kita berlogika sudah pasti berpikir.

Hampir tiap hari saya menemukan orang-orang yang mengemukakan argumentasi yang menyalahi kaidah-kaidah logika. Misalnya, wacana agar capres-cawapres minimal harus lulusan S-1 (apa saja). Katanya, sarjana itu cara berpikirnya logis, kritis, lebih rasional, lebih cerdas, mampu berpikir analitis, komprehensif, integratif, holistik, signifikan, relevan, dll. Pokoknya, sarjana itu mahluk yang super pandai. Padahal sih, dari sudut ilmu logika semua itu tidak logis dan tidak benar.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan AMA (Association Management of America) sebuah asosiasi manajemen Amerika, membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kemampuan kepemimpinan dengan gelar sarjana (pendidikan). Kepemimpinan atau leadership 75% ditentukan art (bakat) dan hanya 25% pengaruh pendidikan. Karena angkanya kurang dari 50%, maka tidak ada korelasi yang signifikan antara kepemimpinan dan pendidikan. Penelitian ini dilakukan sekitar tahun 1973.

Kalau ada yang mengusulkan agar capres-cawapres minimal berpendidikan S-1 (apa saja), saya jamin orang tersebut logikanya tumpul. Cara berpikirnya dangkal dan sempit (seperti katak dalam tempurung). Sarjana yang IPK-nya tinggi adalah sarjana yang pandai secara teori. Kepandaian sesungguhnya ditentukan pada indeks prestasi kerja nyatanya (IPKN). Artinya, orang yang pandai berteori belum tentu pandai praktek.

Kesimpulannya, usul agar capres-cawapres minimal harus S-1 (apa saja) merupakan wacana yang tidak didukung fakta-fata empiris dan hanya diucapkan oleh orang-orang yang tidak mengerti ilmu logika.

Hariyanto Imadha,

KRITIK

PRESIDEN TIDAK HARUS SARJANA

 

Capres-cawapres sebaiknya berpendidikan S-1 karena

cara berpikir sarjana adesif,afirmatif,akurat,analitis,antisipasif,

bijaksana,brilian,cerdas,definitif,deskriptif,edukatif,faktual,

futuristik,globalistik,holistik,ilmiah,imaginatif,imperatif,impresif,

independen,informatif,inisiatif,inovatif,inspiratif,integratif,intelektualistis,

interpretatif,jenius,kognitif,koheren,kolaboratif,komparatif,kompetitif,

komprehensif,komunikatif,konsisten,konstruktif,kontekstual,

kooperatif,korelatif,kritis,kualitatif,kuantitatif,logis,moderat,objektif,

perfeksionis,perspektif,persuasif,pragmatik,prediktif,produktif,proporsional,

prospektif,realistis,relevan,respektif,responsif,selektif,signifikan,simplistik,

sinkretik,sistematik,solutif,superlatif,transformatif,…….dst

 

Namun ketika jadi presiden/wapres

Beras mahal (rakyat makan nasi aking), BBM mahal,pendidikan mahal,

banyak bencana transportasi,membuat PP bermasalah,pengangguran bertambah,

impor beras (pesawat terbang Indonesia ditukar beras ketan dari Vietnam),

angka kemiskinan bertambah,penanggulangan bencana alam lambat dan tidakadil,

ada wapres membuat SK Wapres…….dst.

 

KOMENTAR ORANG YANG MENGERTI LEADERSHIP

Syarat terpenting bagi pemimpin (capres-cawaprs) adalah leadership

Seorang capres-cawapres adalah pemimpin politik, bukan pemimpin akademis.

Test IQ tidak relevan. Yang relevan adalah tes LQ (Leadership Quotient)

Usul agar capres-cawapres harus berpendidikan S-1

adalah usul yang tidak realistis dan hanya

diungkapkan orang-orang yang ilmu pengetahuannya tentang leadership

sangat sempit dan dangkal

Semua buku-buku manajemen dan hasil penelitian AMA (American Management Association) mengatakan bahwa seorang pemimpin yang berhasil lebih banyak ditentukan faktor art (bakat)

dibandingkan faktor science (latar belakang pendidikan)

Di seluruh dunia, tidak ada negara yang mensyaratkan

capres-cawapresnya minimal harus S-1

 

 

 

HARIYANTO IMADHA

 

 

KRITIK:

Guru dan Pelajar Bojonegoro Masih Gaptek

DIBANDINGKAN dengan Filipina, Indonesia kalah jauh dalam hal jumlah warga yang sudah melek teknologi internet. Di Filipina hanya 27 % dari jumlah penduduk yang belum mengerti internet. Sedangkan di Indonesia baru 27% yang sudah mengerti internet. Suatu hal yang sangat memprihatinkan.

Sebagai pemilik dan pengelola warnet saya sering menemukan hal-hal yang lucu yang dilakukan orang Bojonegoro, terutama di kalangan pelajar. Nah, di bawah ini ceritanya:

1.Alamat situs

Suatu saat ada pelajar dari salah satu SMAN Jl. Panglima Sudirman datang ke warnet saya dan tanya ke operator:

“Mbak, bisa membukakann situs depdiknas Surabaya?”

Karena karyawan saya baru, maka dia tanya ke pelajar tersebut:

“Alamatnya di mana,Mas?”

Pelajar itu kebingungan. Akhirnya kembali ke SMAN-nya untuk tanya ke gurunya. Tak lama kemudian dia datang lagi..

Karyawan saya pun bertanya lagi:

“Di mana alamatnya, Mas?”

Jawab pelajar itu:

“Itu,Mbak….di…..Jl.Gentengkali….!”

2.Pentium 4

Hari yang lain, seorang pelajar dengan gaya sok tahu bertanya ke operator warnet:

“Ada komputer yang Pentium 4, Mas?”

Operator saya menjawab:

“Untuk client kita pakai Pentium III, Mas. Hanya satu yang memakai Core 2 Dua. Kalau Pentium 4 ,nggak ada”

“O, kalau begitu nggak jadi. Saya cari yang Pentium 4, lebih cepat”

Dalam hati saya tertawa. Rupa-rupanya pelajar itu tidak tahu kalau Core 2 Dua lebih cepat dari Pentium 4.

3.Browser

Suatu hari yang lain lagi, ada guru salah satu SMK datang. Diapun duduk manis di depan komputer. Beberapa saat kemudian bertanya dengan nada agak mengejek.

“Mas, kok tidak ada Internet Explorer-nya?”

Operator pun memberi tahu, bisa memakai Opera atau Mozilla Firefox.

“Wah, saya belum pernah memakai itu. Nggak jadi sajalah…”

Lagi-lagi saya tertawa. Dalam hati saya berkata:

“Kalau gurunya saja masih gaptek, apalagi muridnnya”.

4.Salah tempat

Dua orang pelajar sedang mencoba menggunakan internet. Berkali-kali dia mengeluh:

“Mas, kok nggak bisa membuka situs,sih?”

Operatorpun melihat apa yang dilakukan dua pelajar itu.

Ternyata dia mengetik alamat http://www……di Google Search (bukan Google situs,lho!)

Ya, sampai kapanpun dia tidak akan bisa membuka situs!

5.Bikin situs cuma satu halaman

Mungkin ingin dianggap hebat. Satu dua sekolah ataupun perorangan mencoba membuat situs. Saya selalu memantau perkembangannya. Wah, sampai berbulan-bulan situsnya cuma satu halaman dan tidak pernah diedit. Ada juga tombol content-nya banyak. Tapi setelah di klik…kosong. Di klik…kosong. Ya, orang Bojonegoro memang sok hebat.

 

 

Kalau gurunya saja masih gaptek, apalagi murid-muridnya

 

 

Hariyanto Imadha

KRITIK:

 

Orang Bojonegoro Memang Kemlinthi

DARI sudut antropologi budaya, sebagian masyarakat Bojonegoro mempunyai watak yang buruk. Yaitu, kemlinthi..

Pengalaman pribadi saya:

1.Orang Bojonegoro kalau kaya sedikit atau pinter sedikit, suka sekali ngenyek. Ada yang baru saja naik haji, lantas tanya ke temannya yang belum naik haji “Kapan naik haji? Biayanya murah kok. Masak, sampeyan nggak mampu?”.

2.Lain hari saya jual satu komputer Pentium 1 yang sudah bertahun-tahun sudah tidak dipakai (ada di gudang). Ada yang mau beli. Wah, ngenyangnya seperti ngenyang barang rongsokan. Menghadapi orang yang sok begitu, saya pun bilang “ Kalau mau bagus ya beli saja Pentium 4 atau Pentium D”. Nggak punya uang cukup tapi ngenyek.

3.Suatu saat ada yang datang ke warnet saya. Dia tanya saya pakai dial up atau satelit. Saya jawab pakai dial up. Orang itu langsung ngenyek. Katanya, kalau pakai satelit bisa cepat.Kalau dial up sudah kuno. Sayapun bilang, sebelum buka warnet di Bojonegoro, saya juga pernah buka warnet di Bekasi (dial up dan kemudian satelit).

4.Yang sering terjadi yaitu ada yang ngenyek, warnet saya lambat karena memakai telkomnet@instan. Sayapun bilang, warnet saya ada tiga macam kecepatan, yaitu telkomnet@instan, telkomnet@premium dan Fren (230 kbps). Kalau pilih yang lambat ya bukan salah saya.

5.Ada lagi yang ngenyek, katanya situs saya di http://www.geocities.com/indodata merupakan situs mati. Tidak pernah diedit. Saya pun bilang, itu situs dokumentasi. Apanya yang harus diedit? Orang itu nggak punya situs, tapi ngenyek. Tahu internet juga baru tahuan 2005-an.

6.Baru punya HP. Wah, kemana-mana yang dibicarakan HP. Apalagi ada kameranya. Tanpa ditanya dia ngomong sendiri “Saya beli ini harganya Rp 3,5 juta”. Lha, yang nanya ya siapa?

7.Ada lagi. Saya ketemu teman lama. Ngomong sana ngomong sini, dia bilang punya gelar MM. Bahkan ketika kirim e-mail gelar S-1 dan S-2 dipakai sekaligus. Padahal apa yang dibicarakan di e-mail tidak ada hubungannya dengan gelar yang dimiliki. Maklumlah, baru diwisuda.

8.Ketika saya masih tinggal di Jakarta, tiba-tiba sore hari teman lama dari Bojonegoro datang ke rumah saya sambil membawa mobil Honda Jazz yang baru dibelinya. Ketika saya tanya maksud dan tujuan datang ke rumah saya, dia bilang cuma mampir saja. Alaaa, bilang aja pamer mobil baru.

9.stilah kemlinthi ini khas masyarakat Bojonegoro.Artinya kira-kira sombong atau ita-itu. Misalnya, ada seorang guru SMA mengambil kursus membuat jaringan LAN. Setelah bisa dia ngomong sama teman-teman seprofesinya. Ketika temannya bertanya, kursus di mana? Maka dia menjawab “Buat apa kursus? Sorry, saya belajar sendiri”.

10.Lebaran yang lalu ada yang datang ke rumah saya. Ngomongnya gue-gue elu-elu. Setelah saya tanya, aslinya ternyata dari Kalitidu. Astaga, baru dua tahun tinggal di Jakarta, di Bojonegoro ngomongnya sudah gue-gue elu-elu. Memangnye ente orang Jakarte?

11.Ada Cina mau beli tanah saya di Bojonegoro. Ketika tahu harganya Rp 2,6 miliar, atau Rp 1 juta per meter. Katanya itu mahal. Seharusnya Rp 100 ribu per meter. Lha, memangnya tanah sawah? Sayapun bilang “Kalau yang beli PT Lapindo ya nggak mahal”. Kalau nggak mampu beli bilang sajalah terus terang. Nggak usah kemlinthi.

Semua kejadian di atas merupakan pengalaman pribadi. Apakah memang masyarakat Bojonegoro benar-benar suka ngenyek, suka pamer dan suka kemlinthi, terserah penilaian Anda sendiri.

Hariyanto Imadha

KRITIK:

 

Nge-Ban dalam Milis Sudah Kuno

 

PERTAMA kali internet masuk Jakarta, saya sudah menggunakannya, yaitu menggunakan ISP IndoNet. Itu sekitar akhir 1994 atau awal 1995. Bahkan tahun-tahun sebelumnya juga telah mencoba menangkap internet dari Malaysia.

Demikian juga dengan komputer, mulai dari komputer sebesar lemari (mainframe computer), komputer XT dan seterusnya sudah pernah saya alami. Mulai dari komputer tanpa mouse hingga mouse tanpa kabel.

Dulu saya punya pengalaman di-ban (dikeluarkan) dari milis. Tanpa alasan ataupun dengan alasan. Untunglah, dari 24 karyawan saya (semua sarjana komputer) ada yang memberikan trik-trik untuk mengatasi hal tersebut.

Misalnya, dengan menggunakan software “emailgrabber”, maka saya bisa mencatat semua alamat e-mail yang ada di milis (saya bukan anggota lagi). Syaratnya, hanya untuk anggota milis yang menggunakan alamat e-mail di Yahoo!

Kemudian, dengan menggunakan software “sendblaster” maka kita bisa mengirim e-mail hingga 1000 e-mail sekali kirim.

Di Bojonegoro, saya pernah di-ban milis bojonegoro@yahoogroups.com. Namun saya tetap bisa mengirim e-mail ke 90% anggotanya. Baru-baru ini saya juga di-ban dari milis smansabo@yahoogroups.com yang dibuat oleh seorang guru SMAN 1 Bojonegoro. Tanpa alasan apapun saya di-ban. Tentu, ini merupakan sikap arogan dari seorang guru yang kurang gaul dan tidak demokratis. Mungkin karena bisnis ISP-nya bangkrut, maka dia menyalurkan rasa frustrasinya ke saya.

He..he..he…Bagi saya tidak masalah. Sampai kapanpun saya tetap bisa mengirim e-mail ke 90% anggotanya. Bahkan dengan bantuan anggotanya, e-mail yang saya kirim bisa terkirim ke 100% anggotanya.

Bagi saya yang merupakan pemakai internet pertama di jakarta, teori-teori ban begitu saya anggap sudah kuno dan tidak bermutu. Begitu juga ancaman dari pihak-pihak yang akan merusak situs saya membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Memang, salah satu situs saya pernah dirusak. Namun dengan trik-trik tertentu, hanya dalam waktu 5 menit situs yang rusak tersebut bisa saya betulkan dengan cepat seperti sediakala.

Saya heran, kok masih ada sarjana komputer yang masih menggunakan trik-trik kuno tersebut. Itu kan sama saja menunjukkan kebodohannya sendiri.

 

Hariyanto Imadha


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.