Oleh: ffugm | Januari 16, 2013

LOGIKA: Pemahaman Arti Kata Nasib Yang Keliru

FACEBOOK-LogikaPemahamanArtiKataNasibYangKeliru

BANYAK orang Indonesia yang mengartikan kata “nasib” secara keliru. Ada yang berpendapat bahwa nasib seseorang itu ditentukan Tuhan (mencampuradukkan pengertian kata “takdir”). Ada yang mengatakan nasib itu terjadi karena faktor kebetulan. Ada yang mengatakan nasib itu hanya beraku pada jaman dulu dan tidak berlaku jaman sekarang. Ada yang mengatakan nasib itu bersifat spekulatif (untung-untungan).

Apakah nasib itu?

Nasib adalah usaha manusia di mana berhasil atau tidaknya usaha manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Artinya, usahanya masih di dalam batas-batas kemampuan manusia dan masih di dalam wilayah Logika Manusia.

Apakah takdir itu?

Takdir adalah usaha manusia di mana berhasil atau tiaknya usaha manusia ditentukan oleh Tuhan. Artinya, usahanya din luar batas-batas kemampuan manusia dan di dalam wilayah Logika Tuhan.

Apakah keberuntungan itu?

Keberuntungan adalah suatu kondisi yang didapatkan di luar usaha dan bahkan di luar usaha yang optimal dan dan di luar penalaran yang logis dan benar.

Contoh pemahaman keliru tentang arti kata nasib.

Seorang Facebooker menulis di dalam status Facebooknya: ” SULITKAH mencari kerja? Dulu, saya mencari kerja hanya berdasarkan buku tamu. Saya catat sekitar 300 alamat perusahaan.Kemudian saya membuat 300 surat lamaran (berupa fotokopi). Kemudian saya kirim lewat pos (jaman dulu belum ada internet). Hasilnya, dari 300 surat lamaran, ada panggilan wawancara dan tes sebanyak 50 buah. Dari 50 buah yang 10 buah menawarkan jabatan salesman (saya buang). Panggilan antara lain dari Conoco Oil Company, Bank of Tokyo, Departemen Kehakiman, dll. Dari 40 wawancara dan tes, 30 menjawab saya lulus tes. Saya pilih perusahaan komputer. Mudah, kan?”

Terus ada komentar

” Mungkin Anda ini beruntung orangnya.Tidak semua seberuntung Anda di jaman sekarang ini”.

Tanggapan

Komentar tersebut menunjukkan bahwa suksesnya seseorang ditentukan oleh keberuntungan. Tentu tidak begitu logikanya. Kesuksesan seseorang lebih ditentukan oleh usaha yang optimal. Tidak ditentukan oleh keberuntungan. Usaha yang optimal bisa berlaku sepanjang jaman, baik dulu, sekarang atau masa yang akan datang. Keberuntungan itu faktor kebetulan, sedangkan kesuksesan tidak ditentukan oleh faktor kebetulan. Banyak orang sukses bukan karena kebetulan tetapi usaha yang optimal. Tidak ada hubungannya dengan seizin Tuhan sebab Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu tidak mau mengubah nasibya.

Logika yang salah tentang nasib dan Tuhan

Ada anggapan bahwa sukses tidaknya orang mengubah nasib, tergantung Tuhan. Ini keliru. Sebab Tuhan telah berfirman, tidak akan mengubah nasib suatu umat kalau umat itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Tuhan hanya mengetahui, tetapi tidak menentukan kesuksesan seseorang. Untuk sukses tidak perlu seizin Tuhan.

Logika yang salah tentang  usaha

Ada yang mengatakan, manusia Tuhan yang menentukan. Kalimat itu benar apabila usaha yang dilakukan manusia tidak sesuai dengan keahlian yang dimiliki seseorang. Atau, usaha yang dilakukan manusia adalah merupakan hal-hal yang di luar batas kemampuan manusia. Salah besar kalau setiap kegagalan lantas dikatakan itu takdir Tuhan dan beranggapan kegagalan itu telah ditentukan Tuhan. Kegagalan bisa juga disebabkan berbagai hal, antara lain terbatasnya waktu, dana, sarana dan prasarana.

Gagal ada sebabnya sukses ada caranya

Sebaiknya kita menggunakan logika “Gagagl ada sebabnya. Sukses ada caranya”. Dengan demikian tiap kali kita gagal, misalnya gagal mencari pekerjaan, pasti ada sebabnya. Sebab-sebabnya harus dicari. Dan supaya sukses mencari kerja (misalnya) maka harus dipelajari cara-cara dan syarat-syaratnya.

Contoh sukses mencari pekerjaan

Logikanya sederhana. Semakin banyak surat lamaran yang kita kirimkan (ke perusahaan besar), maka semakin besar sukses mendapatkan pekerjaan. Misalnya, mengirim surat lamaran kerja ke 300 perusahaan besar tentu memiliki probabilitas mendapatkan pekerjaan dibandingkan hanya mengirimkan sebuat surat lamaran kerja saja.

Hanya mengirim satu surat lamaran kerja juga dapat pekerjaan

Mungkin ada yang berkilah, mengirim satu atau beberapa surat lamaran kerja, juga bisa diterima kerja, kok. Bisa juga. Tetapi jumlah orang yang sukses mencari erja seperti itu jumlahnya sedikit. Dengan cara seperti itu banyak pelamar kerja yang gagal mencari kerja. Hanya mengirim satu surat lamaran kerja juga dapat pekerjaan bisa jadi karena faktor kebetulan, suap/sogok atau nepotisme.

Logika probabilitas

Berdasar logika probabilitas, maka mengirim lamaran kerja dalam jumlah lebih banyak tentu mempunyai probabilitas lebih besar dan lebih efektif dan optimal. Jangan dihubungkan dengan faktor keberuntungan atau faktor takdir Tuhan.

Kesimpulan

Jadi, nasib baik seseorang tidak ditentukan oleh faktor keberuntungan, tetapi ditentukan oleh usaha yang optimal. Sedangkan nasib tidak baik seseorang juga tidak ditentukan oleh faktor ketidakberuntungan, tetapi ditentukan oleh usaha yang tidak optimal.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku penalaran

Sejak 1973


Kategori

%d blogger menyukai ini: