Oleh: ffugm | November 18, 2013

LOGIKA: Gelar S1, S2 dan S3 Bukanlah Manifestasi Kepandaian Seorang Sarjana

FACEBOOK-LogikaGelarS1S2S3BukanlahManifestasiKepandaianSeorangSarjana

DULU, puluhan tahun yang lalu, gelar sarjana memang merupakan manifestasi kepandaian seseorang. Sebab, untuk mendapatkan gelar harus memenuhi beberapa persyaratan yang sangat ketat, mulai dari jumlah SKS (Satuan Kredit Semester), aktivitas akademis dan persyaratan lainnya. Sedangkan jaman sekarang, untuk mendapatkan gelar sangat mudah. Asal bayar, asal kuliah, asal membuat makalah, asal mengikuti seminar, asal membuat skripsi/thesis/disertasi dan asal mengikuti ujian sarjana dan wisuda, maka gelar sarjanapun bisa diperoleh. Apalagi, 99% program S2 rata-rata tingkat kelulusannya 100%. Artinya, gelar sarjana sekarang ini hanyalah merupakan tanda kelulusan saja. Bahkan dengan pertimbangan politikpun seseorang bisa mendapatkan gelar Dr HC.

Gila gelar sarjana

Celakanya, sebagian besar masyarakat Indonesia masih punya persepsi bahwa gelar sarjana merupakan manifestasi kualitas pendidikan. Tentu saja persepsi demikian sudah jadul. Akibatnya, banyak orang mendewa-dewakan gelar sarjana. Orangpun berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar sarjana dengan berbagai cara, termasuk membeli. Bahkan banyak yang memperoleh beberapa gelar sarjana dan semuanya dipakai dan ditulis di kartu nama dan di mana saja supaya dia dianggap sebagai orang yang hebat.

Dengan segala cara untuk mendapatkan gelar sarjana

Sebagai konsekuensi sikap gila gelar sarjana, maka segala carapun ditempuh, antara lain:

-Menyuap dosen apabila ujian utamanya tidak lulus

-Meminta jasa orang lain untuk membuatkan makalah/skripsi/thesis/disertasi (biasanya ada jasa pembuatan karya-karya ilmiah)

-Atau menjadi seorang plagiat dengan cara mencontek sebagian dari karya ilmiah orang lain. Biasanya dimodifikasi, data dimanipulasi dan kalimat-kalimatnya diganti.

-Ada juga plagiat yang tinggal copy paste dan mengganti nama penulis karya ilmiah yang dibuat orang lain dengan memakai namanya sendiri

Perguruan tinggi gurem

Perguruan tinggi gurem yang dimaksud dalam artikel ini bukanlah perguruan tinggi yang gedungnya buruk atau bangunannya kecil. Sebab banyak juga perguruan tinggi yang gedungnya mewah tetapi kualitas pendidikannya rendah. Asal bayar, asal kuliah, asal membuat makalah, asal mengikuti seminar, asal membuat skripsi/thesis/disertasi dan asal mengikuti ujian sarjana dan wisuda, maka gelar sarjanapun bisa diperoleh.

Indikator sarjana yang tidak pandai

Secara umum ada beberapa indikator sarjana yang tidak pandai.

-Suka pamer gelar. Biasanya mereka lulusan dengan nilai pas-pasan. Sangat jarang yang IPK-nya 4.

-Salah memakai gelar. Misalnya gelar Ir, Dra, BcHk, Drs dan gelar-gelar salah lainnya

-Salah dalam cara memakai gelar. Yaitu, memakai gelar S1 dan S2 sekaligus atau memakai gelar S1,S2 dan S3 sekaligus. Padahal, seharusnya yang dipakai cukup gelar tertingginya saja.

-Tidak pernah atau sangat jarang membuat artikel di media massa, baik di media spsial Facebook, Twitter, blog/website, majalah ilmiah, surat kabar dan lain-lainnya.

-Pribadi yang narsis. Antara lain suka pamer gelar sarjana

-Menggunakan/menulis gelar sarjana tidak pada tempatnya atau tidak ada relevansinya. Misalnya, menulis gelar sarjana di undangan pernikahan atau undangan lainnya yang tidak merupakan kegiatan ilmiah.

-Cara berlogikanya dogmatis-pasif, yaitu enggan atau tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Merasa pendapatnya sendiri yang benar atau lebih benar.

-Wawasan berpikirnya kurang luas dan tidak berkembang.

-Suka menggunakan argumentasi teoritis

-Lemah dalam bernalar atau berlogika

-Biasanya miskin gagasan dan tidak mampu memecahkan masalah

Indikator sarjana yang  pandai

Secara umum ada beberapa indikator sarjana yang pandai.

-Tidak suka pamer gelar. Biasanya mereka lulusan dengan nilai tinggi. Rata-rata IPK-nya 3 hingga 4.

-Tidak salah memakai gelar. Misalnya gelar SE, MM, MH dan gelar-gelar benar lainnya

-Tidak salah dalam cara memakai gelar. Yaitu, tidak memakai gelar S1 dan S2 sekaligus atau memakai Cukup memakai satu gelar tertingginya saja. Misalnya, SE,MM,Dr, maka yang dipakai cukup Dr atau PhD saja.

-Rajin membuat artikel di media massa, baik di media spsial Facebook, Twitter, blog/website, majalah ilmiah, surat kabar dan lain-lainnya.

-Pribadi yang low profile. Biasanya tidak mau memakai gelar sarjana.

-Menggunakan/menulis gelar sarjana pada tempatnya atau ada relevansinya. Misalnya, menulis gelar sarjana di kegiatan-kegiatan ilmiah (tulisan ilmiah, diskusi ilmiah, seminar ilmiah dan sejenisnya).

-Cara berlogikanya dogmatis-aktif, yaitu mau menghargai pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Tahu pendapatnya keliru atau kurang  benar. Tahu ada pendapat lain yang lebih benar.

-Wawasan berpikirnya luas dan  berkembang dan sepanjang waktunya terus manambah pengetahuan dan ilmu pengetahuan

-Lebih menekankan argumentasi berdasarkan pengalaman daripada teori.

-Cukup kuat dalam penalaran atau dalam berlogika

-Biasanya kaya gagasan, kreatif dan mampu memecahkan masalah

Kesimpulan

Sarjana yang suka pamer gelar sarjana biasanya bukanlah sarjana yang pandai dan biasanya tingkat kelulusannya pas-pasan saja.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: