Oleh: ffugm | April 18, 2014

FILSAFAT: Salah Paham Tentang Definisi

FACEBOOK-FilsafatSalahPahamTentangDefinisi WALAPUN punya gelar sarjana, orang bisa saja salah paham mengenai sesuatu hal atau suatu hal. Ada yang berpendapat bahwa para penulis atau akademi membuat artikel, buku, pendapat,opini dan semacamnya tergantung definisi yang dibuatnya. Ada kesan konotasi negatif, seolah-olah kebenaran sbuah pendapat itu elatif subjektif atau “sak karepe dewe”. Padahal, sebuah definisi merupakan salah satu syarat penulisan ilmiah atau penulisan yang jelas. Pada dasarnya setiap penulis bisa saja mempunyai definisi yang sama, mirip, hampir sama, berbeda atau sama sekali berbeda. Lantas, definisi itu apa?

Apakah definisi itu? Definisi adalah serangkaian kalimat yang menunjukkan sebuat titik tolak pemikiran yang memuat garis-garis besar pemikiran yang kemudian akan dijabarkan di dalam sebuah pendapat, detail pendapat, opini, artikel, buku dan semacamnya dan antara titik tolak , proses pemikiran hingga kesimpulan merupakan kesatuan pemikiran yang sistematis, konsekuen dan konsisten.

Analogi Definisi itu ibarat garis Start pada lomba lari. Semua peserta lari tentu punya persiapan untuk memenangkan loma lari. Tentu mereka punya pemikiran dan strategi masing-masing. Untuk mencapai finish dan menang, tentu harus menjabarkan strategi yang dibuatnya.

Artikel filsafat Banyak aliran filsafat. Banyak isme. Walaupun ismenya sama, namun dalam perjalanan uraiannya bisa berbeda. Ada aliran idealisme (bermacam-macam), materialisme (bermacam-macam), theisme (bermacam-macam), eksistensialisme (bermacam-macam) dan masih banyak isme lainnya. Isme-isme itu merupakan titik tolak pemikiran. Merupakan dasar pemikiran yang harus dijabarkan secara mendetail secara konsekuen.

Bukan kebenaran subjektif-relatif Walaupun tiap penulis mempunyai definisi yang sama atau berbeda, tidak berarti kebenarannya merupakan kebenaran subjektif. Kebenarannya tetap objektif karena penilaiannya diberikan apa adanya sesuai dengan yang melekat pada objek dan fakta. Merupakan konsekuensi logis dan benar akibat penjabaran daripada sebuah definisi yang dibuat sebelumnya. Sebuah kesimpulan bisa berbeda kalau definisinya berbeda. Tidak berarti kebenaran itu bersifat subjektif-relatif, melainkan kebenarannya memang tetap objektif tapi dari sudut yang berbeda.

Macam-macam pendekatan Ada tiga macam pendekatan 1.Pendekatan mono disipliner 2.Pendekatan multidisipliner 3.Pendekatan inter disipliner

Ad.1.Pendekatan mono disipliner Yaitu pendekatan yang hanya menggunakan satu sudut pandang saja. Misalnya sebuah status di Facebook yang berjudul :”PSIKOLOGI”. Maka masalah yang dibahas hanya dari sudut psikologi saja.

Ad.2.Pendekatan multidisipliner Yaitu,berkumpulnya beberapa penulis yang mempunyai keahlian yang berbeda-beda membahas tentang sebuah objek yang sama. Misalnya masalah gempa bumi, maka ada pakar geologi, pakar sosiologi, pakar ilmu ekonomi, pakar psikologi, pakar transportasi dan beberapa pakar lainnya di mana masing-masing berbicara sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Ad.3.Pendekatan inter disipliner Yaitu seorang penulis yang membuat sebuah artikel yang menggunakan dua sudut pandang. Misalnya: ANALISA PSIKOLOGI-POLITIK”, yaitu dari sudut psikologi dan dari sudut ilmu politik

Apa jadinya tanpa definisi? Sebuah tulisan tanpa definisi atau tanpa titik tolak pemikiran, tentunya ibarat orang buta kehilangan tongkat. Uraiannya akan melebar ke sana kemari sehingga tidak jelas apa maunya. Tidak jelas apa pesan yang disampaikannya. Ibarat sebuah novel yang tidak jelas jalan ceritanya. Ngelantur kesana kemari. Definisi tidak harus ditulis yang penting antara judul dengan uraian penulisannya sistematis, konsisten dan konsekuen.

Tidak perlu diperdebatkan Karena tiap orang punya definisi yang sama atau berbeda, maka tidak perlu diperdebatkan. Yang penting kita harus bisa memahami bahwa sudut panda Si A demikian dan uraiannya demikian. Si B sudut pandangnya demikian, maka uraiannya demikian.

Positioning Kalau kita bicara dengan orang yang bicara tentang “Psikologi”, maka kitapun harus bicara pada kontek yang sama, yaitu “Psikologi”. Kalau orang bicara dari sudut pandang atau isme “Freedomisme”, maka kitapun harus bicara pada sudut pandang “freedomisme”. Perbedaan sudut pandang boleh disebut sebagai OOT (Out Of Topic) dan biasanya menimbulkan perdebatan yang tidak ada gunanya. Kecuali kalau di dalam acara “Berdebat” bolehlah masing-masing mempertahankan sudut pandang masing-masing dengan tjuan mencari kebenaran (bukan mencari kebenaran) dengan syarat sudut pandang harus jelas.

Alternativisme Orang haruslah punya wawasan yang luas. Harus selalu membuka kemungkinan-kemungkinan lain. Tidak terpaku pada satu sudut pandang sempit (seperti katak dalam tempurung). Sebuah alternatif lain juga harus didukung dengan penalaran-penalaran yang benar-benar rasional objektif. Lebih sempurna lagi kalau faktual.

Hindari ngeyelisme Banyak orang berbeda pendapat dengan cara “ngeyelisme”, padahal apa yang dikatakan orang lain benar atau lebih benar. Ngeyelisme bisa dihindakan kalau pembicara punya wawasan pengetahuan yang luas. Banyak baca buku-buku. Banyak belajar Ilmu Logika. Mempertajam daya nalarnya. Melihat permasalahan secara objektif, rasional dan faktual.

Kesimpulan Definisi atau deskripsi , judul atau subjudul itu perlu, supaya orang lain tahu adanya sebuat titik tolak pemikiran atau sudut pandang dari adanya sebuah pendapat.

Saran Jangan menjadi penulis “burung beo”

1.Seorang penulis, jangan menjadi penulis “burung beo”. Mengutip pendapat orang lain, mengutip definisi orang lain, apalagi “copy-paste”. Seorang penulis harus bisa menulis sesuai dengan sudut pandang masing-masing sejauh objektif, rasional dan sedapat mungkin faktual. Tentunya penulisannya harus sistematis, konsekuen dan konsisten.

2.Seorang penulis harus menguasai Ilmu Logika, baik Logika Formal maupun Logika Material supaya tulisan-tulisannya benar-benar logis dan benar. Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Penulis Kritik Pencerahan
Sejak 1973

Oleh: ffugm | April 17, 2014

LOGIKA: Jokowi Effect Ada Atau Tidak Ada?

FACEBOOK-LogikaJokowiEffectAdaAtauTidakAda

SESUDAH hasil pileg diumumkan, maka muncul pendapat “Jokowi effect tidak ada”. Namun pendapat lain mengatakan “Jokowi effect ada”. Ada atau tidak ada? Kita sudah terbiasa dengan mengeluarkan pendapat-pendapat tanpa didukung Ilmu Logika yang benar. Hanta berdasarkan logika-logika subjektif-spekulatif. Padahal, ada atau tidak ada harus berdasarkan objektif-faktual dan rasional.
Apakah efek itu?
Dari berbagai kamus kita dapatkan pendapat bahwa efek adalah akibat atau pengaruh. Artinya, sebuah hal atau sesuatu hal bisa ada dan bisa tidak ada pengaruhnya terhadap hal lain. Bisa efeknya positif, bisa tetap dan bisa efeknya negatif. Tentu, efek yang diharapkan adalah efek yang positif.

Analogi
Sebuah mobil harganya Rp 100 juta (nilai standar)
Kemudian diiklankan dengan harga Rp 150 juta dan bisa dinego (target)
Apa yang terjadi? Ada tiga kemungkinan:

Pertama: Mobil itu laku Rp 125 juta atau
Kedua: Mobil itu laku Rp 100 juta atau
Ketiga: Mobil itu laku Rp 75 juta

Pertanyaannya
Iklan mobil itu efektif atau tidak?

Jawabannya
1.Jika mobil itu laku Rp 125 juta, berarti ada efek (positif) di atas nilai standar
2.Jika mobil itu laku Rp 100 juta, berarti tidak ada efek (tetap) sama dengan nilai standar
3.Jika mobil itu laku Rp 75 juta, berarti ada efek negatif. Di bawah nilai standar

Artinya
Apakah sesuatu ada efeknya atau tidak, harus ada “nilai standar”-nya. Dalam hal harga mobil, maka nilai standardnya adalah Rp 100 juta. Jadi, tida dibandingkan pada angka target yang besarnya Rp 150 juta.

Bagaimana dengan Jokowi effect, ARB effect, ARB effect dan Anis Matta effect?
Kita lihat dulu “nilai standar masing-masing parpol (bukan nilai target!)

Hasil pemilu 2009 (Sumber KPU) sebagai “Nilai Standar”
PDI-P = 14,03%
Golkar = 14,45%
Gerindra = 4,46 %
PKS = 7,88%

Target maksimal pileg 2014
PDI-P = 27%
Golkar = 30%
Gerindra = 20%
PKS = Pemenang ketiga

Hasil quick count 2014
PDI-P = 18,9% > 14,3 % berarti Jokowi effect ada (positif)
Golkar = 14,3 <14,45 berarti ARB effect ada (negatif)
Gerindra = 11,8 > 4,46 berarti Prabowo effect ada (positif)
PKS = 6,9% < 7,88 berarti Anis Matta effect ada (negatif)

Andaikan angka target dianggap sebagai nilai standar
Target PDIP 27% Hasil Quick count 18,9% = Tidak ada Jokowi effect
Target Golkar 30 % Hasil quick count 14,3% Tidak ada ARB effect
Target Gerindra 20% Hasil quick count 11,8% Tidak ada Prabowo effect
Target PKS Pemenang ketiga hasil quick count = peringkat ke-8 Tidak ada Anis Matta effect

Tentu, kalau angka target dijadikan nilai standar, hampir bisa dikatakan semuanya tidak memiliki effect sebab angka target bukanlah “real number”.

Kesimpulan umum
PDI-P = Positif
Golkar = Negatif
Gerindra = Positif
PKS = Negatif

Kenapa angka target tidak dipersoalkan?
Karena target bukan anka nyata. Bukan “real number”. Yang merupakan “real number” adalah perolehan suara nyata pada Pemilu 2009. Tentunya tidak fair kalau angka target yang dijadikan nilai standar.

Logikanya, apakah kalau nilai target lebih rendah daripada hasil quick count 2014 berarti  ada effect?

Contoh:
PDI-P pemilu 2009 14,03%
Target lebih rendah, misalnya 10,03%
Hasil quick count 12,03%
Apakah berarti Jokowi effect ada? Tentunya tidak ada korelasi positifnya.

Kesimpulan khusus
-Untuk mengukur apakah ada effect atau tidak effect, bukan membandingkan nilai target dengan nilai hasil quick count, melainkan membandingkan hasil quick count dengan hasil pemilu sebelumnya. Jika hasil quick count (ataupun hasil resmi KPU) lebih tinggi dibandingkan hasil pemilu sebelumnya, berarti ada peningkatan suara yang berarti ada efek positifnya.
-Dengan demikian, Jokowi effect memang ada (positif).

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

FACEBOOK-LogikaLogikaLogikaKeblingerParaPenyerangJokowi

MENJELANG Pemilu 2014, baik pileg maupun pilpres, maka berita-berita yang menarik adalah tentang sosok Jokowi, baik yang pro maupun yang kontra. Jokowi selalu menjadi bahan berita sejak jadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi capres dari PDI-P. Serangan-serangan negatif terhadap Jokowi cukup banyak, mulai dari fitnah, caci-maki, olok-olok maupun pelecehan-pelecehan politik.  Penulis berhasil mengumpulkan bermacam-macam serangan tersebut seperti yang tertulis di bawah ini. Ternyata, serangan-serangan itu mengandung logika-logika terbalik atau logika-logika keblinger.

Pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tak mampu berlogika secara objektif

Dari sudut psikologi-politik, pada dasarnya serangan-serangan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tak mampu berlogika secara benar. Logikanya terbalik-balik dan kadang-kadang mengundang tertawa. Boleh dikatakan mereka asal njeplak tanpa didukung argumentasi atau logika yang benar.

Beberapa macam serangan terhadap Jokowi (maupun Megawati)

1.Jokowi, orang tuanya kafir dan nonmuslim

Kesalahan logikanya:
Ternyata, mereka mendapat informasi tidak dari sumbernya langsung melainkan mendapatkan sumbernya dari internet. Itupun sumber tidak resmi alias abal-abal.

2.Jokowi sewaktu jadi Walikota Solo melakukan korupsi

Kesalahan logikanya:

Menuduh orang tanpa bukti, tentunya fitnah. Lagipula, mereka membaca informasi itu dari berita-berita rekayasa yang tidak didukung fakta.

3.Jokowi merupakan hasil konspirasi Amerika dan China

Kesalahan logikanya:

Mereka percaya begitu saja melihat skema-skema dan berita-berita yang sumbernya tidak jelas. Percaya mentah-mentah tanpa didukung sumber berita yang jelas.

4.Jokowi antheknya Yahudi

Kesalahan logikanya:

Menuduh, tapi tidak dijelaskan dari mana sumbernya. Juga tidak ada argumentasinya.

5.Jokowi jadi presiden, maka konglomerat hitam akan merajalela

Kesalahan logikanya:

Bagaimana bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Hanya berdasarkan pengandaian-pengandaian saja.

6.Jokowi jadi presiden, upah buruh akan mencekik buruh se-Indonesia

Kesalahan logikanya:

Upah buruh ditentukan oleh hasil musyawarah pemerintah+pengusaha+buruh. Lho, kok Jokowi yang disalahkan.

7.Jokowi akan menjual aset-aset negara

Kesalahan logikanya:

Yang menjual aset negara (Indosat) adalah mantan Presiden Megawati. Itupun menjalankan Tap MPR yang diketuai Amien Rais. Lho, kok diambil kesimpulan Jokowi kalau jadi presiden juga akan jual aset negara. Memangnya politik itu penyakit keturunan?

8.Jokowi pantasnya jadi tukang mebel, bukan jadi presiden

Kesalahan logikanya:

Jokowi jadi tukang mebel itu kan sejarahnya. Faktanya Jokowi mampu menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Kalau tidak cocok jadi Walikota atau Gubernur, tentunya tidak akan dihargai dunia internasional.

9.Jokowi jadi presiden, Indonesia akan hancur

Kesalahan logikanya:

Justru logikanya yang hancur. Apa hubungannya Jokowi jadi presiden dengan Indonesia hancur? Berdasarkan fakta? Berdasarkan hasil survei? Berdasarkan bukti? Ternyata, logikanya hanya berdasarkan anggapan-anggapan saja.

10.Jokowi jadi gubernur saja tidak becus, apalagi jadi presiden

Kesalahan logikanya:

Kemampuan Jokowi diakui dunia internasional. Kalau ada yang mengatakan Jokowi tidak becus, tentu berdasarkan logika sirik atau logika like or dislike saja.

11.Jokowi tidak punya nasionalisme

Kesalahan logikanya:

Logika yang aneh. Jokowi berhasil mengumpulkan raja-raja se Indonesia. Berhasil menggelar pawai-pawai budaya. Berhasil menghadirkan acara-acara budaya nasional. Letak tidak nasionalismenya di mana?

12.Jokowi korupsi pengadaan bus TransJakarta

Kesalahan logikanya:

Yang melakukan pembelian bukan Jokowi. Yang melakukan mark up bukan Jokowi. Jokowipun tidak memerintahkan korupsi. Kok korupsi dituduhkan ke Jokowi. Korupsi ya harus ditujukan ke pelakukannya. Tindakan pidana tidak bisa diwakilkan.

13.Jokowi memang berhasil meningkatkan APBD DKI, tetapi dinikmati Jokowi-Ahok dan preman-preman

Kesalahan logikanya:

Tidak didukung data. Preman-preman yang mana? Siapa namanya? Berapa nilai uangnya?

14.Jokowi effect tidak ada pengaruhnya terhadap pileg

Kesalahan logikanya:

Percaya kepada pendapat pengamat abal-abal (bayaran) yang anti Jokowi. Jokowi effect pasti ada. Kalau tidak ada tidak mungkin PDI-P menjadi pemenang Pileg ke-1.

15.Jokowi popularitasnya palsu belaka

Kesalahan logikanya:

Semua lembaga survei yang mempublikasikan popularitas Jokowi. Bahkan berbagai media massa di dunia juga memberitakan Jokowi. Apa iya semua media massa di dunia membuat popularitas Jokowi palsu? Sangat tidak realistis.

16.Jokowi terkenal karena dibiayai cukong-cukong haram

Kesalahan logikanya:

Kalau ada bantuan dari pengusaha, memang iya. Tapi kalau dikatakan dibantu cukong-cukong haram, contohnya siapa? Di mana letak haramnya?

17.Jokowi presiden, maka barang-barang buatan China akan membanjiri Indonesia

Kesalahan logikanya:

Bukan hanya produk China. Produk dari berbagai negara juga akan mengalir ke Indonesia. Itu akibat normal adanya perdagangan bebas. Yang penting, produk-produk impor tidak merugikan pengusaha Indonesia.

18.Jokowi presiden, korupsi akan semakin merajalela

Kesalahan logikanya:

Jelas logika apriori. Jokowi belum kerja kok sudah divonis. Lagipula pencegahan korupsi adalah tugas KPK (di dalam membentuk sistem pencegahan korupsi). Apriori sekali.

19.Jokowi terkenal karena berita-berita bukan karena kemampuan

Kesalahan logikanya:

Kalau Jokowi tidak mampu, tentu tidak mungkin mendapatkan penghargaan-penghargaan dan pujian-pujian dari dalam maupun luar negeri.

20.Jokowi bonekanya Mega

Kesalahan logikanya:

Jokowi adalah kader PDI-P dan Megawati Ketua Umum PDI-P. Wajar kalau Megawati sering berdialog dengan Jokowi. Dan pastinya Jokowi akan melaksanakan tugas-tugas dari PDI-P. Contoh sikap bonekanya di mana? Buktinya mana? Tidak ada.

21.Jokowi antheknya Amerika dan China

Kesalahan logikanya:

Tidak ada bukti otentik. Hanya mengada-ada saja.

22.Jokowi didanai Edi Tansil

Kesalahan logikanya:

Ini lucu sekali. Menuduh tapi tidak disebutkan sumber informasinya.

23.Jokowi didukung pengusaha-pengusaha hitam yang pro upah buruh murah

Kesalahan logikanya:

Logikanya meloncat. Apa dasar pemikirannya kalau Jokowi presiden, pastilah akan kerja sama dengan konglomerat hitam dan pastilah upah buruh menjadi murah. Hanya anggapan-anggapan saja.

24.Jokowi musyrik karena menyalahkan hujan

Kesalahan logikanya:

Jokowi mengatakan bahwa salah satu penyebab hujan tentunya karena hujan. Menerangkan hubungan sebab-akibat. Namun, penyerang Jokowi menggunakan logika sirik, seolah-olah Jokowi menyalahkan hujan yang merupakan karunia dari Tuhan.

25.Jokowi,anaknya dapat limpahan rejeki dari para koruptor bus TransJakarta

Kesalahan logikanya:

Apa yang dilakukan anaknya Jokowi cuma bisnis catering kecil-kecilan dan tidak ada hubungannya dengan kasus korupsi bus TransJakarta. Hanya dihubung-hubungkan saja.

26.Jokowi tidak tegas dan tidak berwibawa kalau dibandingkan dengan Prabowo

Kesalahan logikanya:

Tentu sikap tegas tidak harus dari kalangan militer. Sikap tegas Jokowi yaitu kepastian dalam mengambil keputusan. Kalau ada bawahannya yang terindikasi korupsi langsung dimutasikan atau diganti.

27.Jokowi anti muslim

Kesalahan logikanya:

Tidak ada bukti-bukti. Hanya suudzon saja. Kalau Jokowi dekat dengan Ahok yang noinmuslim, maka pendekatannya bukan agama, melainkan hubungan profesional.

28.Jokowi bilang “rapopo”, ciri-ciri orang kalah

Kesalahan logikanya:

Rapopo artinya sikap yang realistis. Bukan sikap yang menghayal. Merupakan sikap yang bisa menerima kenyataaan. Bukan manifestasi ketakutan akan kekalahan. Kalah atau menang akan dipandang secara realistis.

29.Jokowi sebagai gubernur, tidak ada prestasinya

Kesalahan logikanya:

Memang masalah banjir, sampah dan kemacetan belum teratasi tuntas. Sebab, butuh waktu yang lama dan dana yang luar biasa banyak. Sedangkan prestasi Jokowi di bidang lainnya sangat banyak. Lebih dari 50 prestasi yang dibuat, antara lain pembenahan  waduk-waduk, pembangunan kampung deret dan lain-lain.

30.Jokowi tuh, sama Mega, yang membuat Pulau Sipadan dan Ligitan lepas dari NKRI

Kesalahan logikanya:

Kasus Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan sudah ada sejak era Soeharto dan keputusan kedua pulau tersebut masuk wilayah Malaysia adalah berdasarkan hukum internasional.

31.Jokowi atau Mega, menjual gas alam cair di Blok Tangguh, Papua dengan harga sangat murah ke China

Kesalahan logikanya:

Penjualan murah gas tersebut karena saat itu keuangan APBN sangat minimal. Pemerintahan Megawati butuh dana segera. Salah satunya menjual gas di Blok Tangguh dengan harga murah, sebab saat itu tidak ada tawaran yang lebih tinggi dari negara-negara lain. Kondisinya saat itu darurat APBN.

32.Jokowi itu pemimpin yang dipimpin dan disetir Megawati

Kesalahan logikanya:

Jokowi sebagai kader PDI-P tentu harus selalu konsultasi dengan Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P. Tentunya, apa yang dilakukan Jokowi berdasarkan hasil dialog dan musyawarah. Jokowi tentu berhak menerima atau menolak keinginan Ketua Umum apabila dianggap kurang pas.

33.Jokowi jadi presiden, akan diejek negara-negara tetangga

Kesalahan logikanya:

Apa dasar logikanya? Apa fakta yang mendukungnya? Tidak ada.

34.Jokowi jadi presiden cuma ilusi dan halusinasi

Kesalahan logikanya:

Kalau Jokowi nyapres dianggap ilusi atau halusinasi, seharusnya tuduhan itu juga harus berlaku untuk semua capres.

35.Jokowi nyapres, hanya orang bodoh yang memilihnya

Kesalahan logikanya:

Tentunya logika yang ngawur. Kesimpulan yang tidak didukung fakta. Kesimpulan yang melompat. Merupakan logika “gebyah uyah”.

36.Jokowi, cuma kebanyakan janji, realisasinya tidak ada

Kesalahan logikanya:

Para penyerang Jokowi tidak bisa membedakan mana “wacana” dan mana “janji”. Yang benar, Jokowi memang banyak wacana, tetapi wacana bukanlah janji.

37.Jokowi anak kemarin sore, tahu apa dia soal politik?

Kesalahan logikanya:

Jelas Jokowi punya prestasi saat jadi Walikota. Dan sebagai Gubernur DKI pun mendapatkan apresiasi dari dalam maupun luar negeri.

38.Jokowi elektabilitas dan popularitas tinggi, Cuma hasil survei bayaran saja tuh

Kesalahan logikanya:

Survei bayaran? Jumlah lembaga survei sangat banyak dan kalau membayar semua lembaga survei tentu butuh dana luar biasa besar. Jokowi/PDI-P tentu tak punya cukup dana. Jokowi terkenal karena aksi blusukannya dan ini merupakan publikasi gratis.

39.Jokowi mengurus Solo saja tidak mampu

Kesalahan logikanya

Data menunjukkan bahwa 95% program Jokowi di Solo berjalan dengan baik. Kekurangannya memang ada, tetapi hanya sekitar 5% saja. Kenapa justru yang 5% itu dibesar-besarkan oleh para penyerang Jokowi?

40.Jokowi nyapres, terlalu ambisius

Kesalahan logikanya:

Jokowi adalah satu-satunya capres yang diusulkan rakyat. Tidak ada bukti-bukti Jokowi berambisi menjadi presiden. Banyak komunitas rakyat yang membuat grup-grup atau komunitas-komunitas pendukung Jokowi. Jadi, Jokowi nyapres karena “amanah” dan bukan karena “ambisi”.

41.Jokowi pengkhianat perjanjian Batu Tulis

Kesalahan logikanya:

Yang menandatangani Perjanjian Batu Tulis adalah Megawati dan Prabowo. Bukan antara Jokowi dengan Prabowo. Kenapa Jokowi yang harus disalahkan? Logikanya tidak kena.

42.Jokowi penipu

Kesalahan logikanya:

Hanya tuduhan atau olok-olok saja.

43.Jokowi pembohong

Kesalahan logikanya:

Hanya merupakan caci-maki yang emosional saja.

44.Jokowi mencla-mencle

Kesalahan logikanya:

Hanya merupakan pelampiasan kebencian saja.

45.Jokowi kerjanya cuma blusukan. Tidak lebih dari itu

Kesalahan logikanya:

Jokowi blusukan adalah di dalam rangka melihat fakta secara langsung sekaligus mengumpulkan data atau fakta yang akan dijadikan kebijakannya yang segera direalisasikan. Tentu, yang merealisasikan adalah anak buahnya Jokowi.

46.Jokowi nyapres, DKI Jakarta akan dipimpin gubernur nonmuslim. Nih, akibat Si Jokowi…!

Kesalahan logikanya:

Kalau Ahok yang nonmuslim menjadi Gubernur DKI Jakarta apabila Jokowi jadi presiden, memang sesuai dengan undang-undang.
47.Jokowi memang gila cabatan. Habis walikota, ingin gubernur. Habis gubernur ingin presiden

Kesalahan logikanya:

Undang-undang memang membolehkan para pejabat publik untuk meningkatkan karir politiknya.  Dan Jokowi dari walikota ke gubernur dan dari gubernur ke capres adalah perintah organisasi. Perintah PDI-P yang dilakukan melalui Ketua Umum PDI-P. Kadi, Jokowi itu mengemban tugas.

48.Jokowi mengingkari sumpah jabatan, mengingkari sumpahnya terhadap Tuhan dan rakyat

Kesalahan logikanya:

Ingkar janji kalau demi kepentingan bangsa dan negara yang lebih luas tentu boleh saja asal ada alasan yang sangat kuat. Sedangkan program-program kerja Jokowi akan diteruskan oleh penerusnya atau wakilnya.

49.Jokowi katanya pro wong cilik. Nyatanya pro konglomerat hitam

Kesalahan logikanya:

Kalau Jokowi bersahabat baik dengan pengusaha, tidak berarti Jokowi tidak pro rakyat. Buktinya ada Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Hubungan dengan pengusaha adalah di dalam rangka mencari pengusaha yang mampu merealisasikan proyek-proyek Pemda DKI jakarta dan bukan untuk kepentingan pribadi.

50.Jokowi klemar-klemer. Gak cocok jadi presiden.

Kesalahan logikanya:

Sikap Jokowi adalah kalem dan sederhana. Bukan klemar-klemer (karena sakit). Sikap kalem memang merupakan kebiasaan dan karakter Jokowi yang tidak bisa dihilangkan dan itu bukan sikap yang buruk.

Dan masih banyak serangan-serangan berupa fitnah, caci maki, olok-olok dan pelecehan-pelecehan politik lainnya.

Kenapa ada orang-orang yang logikanya keblinger?

Antara lain:

1.Tidak memahami ilmu logika

2.Hanya menggunakan logika subjektif

3.Mengandalkan prasangka dan suudzon

4.Negative thinking

5.Menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya

6.Tidak didukung fakta yang sebenarnya

7.Asal berbicara berdasarkan “like or dislike”

8.Berdasar berita/info yang tidak jelas atau tidak resmi

9.Hanya ikut-ikutan penyerang yang lain

10.Punya kepribadian yang sirik

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

 

 

Oleh: ffugm | April 8, 2014

LOGIKA: Parpol Korup/Terkorup Kok Dipilih?

FACEBOOK-LogikaParpolKorupTerkorupKokDipilih

MENJELANG pemilu terutama pileg, di media sosial sering saling serang antara pendukung parpol A yang dianggap parpol terkorup dengan pendukung parpol B yang sebenarnya juga korup atau dengan pendukung parpol C yang merasa parpol bersih. Kelihatannya wajar-wajar saja yang mereka lakukan. Namaun melalui telaah Ilmu Logika, ternyata ada yang tidak tepat dalam proses berlogikanya. Hal inilah yang akan penulis luruskan di dalam artikel ini.

Apakah parpol itu?

Parpol atau partai politik adalah sebuah organisasi yang akan membawakan aspirasi para pendukung atau konstituennya di dalam rangka mewujudkan visi dan misi daripada parpol tersebut melalui proses pemilihan umum baik pileg maupun pilpres

Apakah caleg?

Caleg atau calon legislator adalah wakil rakyat yang duduk di DPR guna memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya melalui fungsi-funsi legislatif meliputi fungsi pengawasan terhadap eksekutif, fungsi legislasi dan hak budgeting atau anggaran. Mereka dipilih melalui pemilu legislatif atau pileg. Anggota DPR dipilih langsung oleh rakyat.

Apakah capres itu?

Capres adalah pimpinan pemerintahan sekaligus kepala negara dari sebuah negara yang merdeka yang bertyjuan mencapai tujuan dan ideologi negara sesuai dengan visi misinya yang tidak bertentangan dengan konstitusi dan ideologi negara. Diperoleh melalui pemilihan presiden atau pilpres. Presiden dipilih langsung oleh rakyat.

Siapakah pemilih itu?

Pemilih adalah rakyat, baik yang paham politik maupun yang tidak paham politik. Baik yang cerdas memilih maupun yang tidak cerdas memilih.

Kualitas capres dan caleg

Apakah kualitas capres itu jujur atau tidak, aspiratif atau tidak, bisa dipervaya atau tidak dan mampu atau tidak, tergantung oleh kualitas proses seleksinya dan tergantung kualitas pemilihnya.

Apa yang dimaksudkan proses memilih oleh parpol?

Yaitu proses memilih caleg/capres yang dilakukan oleh parpol dan ditawarkan ke rakyat. Apakah berkualitas atau tidak, tergantung berkualitas atau tidaknya proses seleksinya.

Apa yang dimaksud proses memilih oleh rakyat?

Ada dua macam rakyat pemilih. Asda pemilih yang cerdas, tahu mana caleg/capres yang tidak korup dan mana yang korup. Namun ada juga pemilih yang tidak cerdas yang memilih berdasarkan ilmu kira-kira sehingga salah pilih dan ternyata yang dipilih adalah caleg/capres korup.

Apa yang dimaksud parpol korup?

Sebetulnya ini logika yang salah, sebab di dunia ini tidak ada parpol yang korup. Yang bisa korup adalah pengurus parpol arau anggota parpol yang bernama anggota DPR atau presiden. Jadi istilah parpol korup merupakan kesalahan berlogika (Indirect Logic Error).

Anggota DPR dan presiden korup salah siapa?

Jika ada anggota DPR atau presiden korup, maka yang bersalah dan bertanggung jawab adalah pengurus parpol dan rakyat yang memilihnya, sebab pengurus parpol telah “menjual” caleg dan capresnya yang korup. Begitu juga salahnya rakyat yang asal pilih sehingga salah pilih, akibatnya yang dipilih adalah koruptor.

Pemilih cerdas

Pemilih cerdas akan melihat visi misi parpol, kualitas caleg dan kualitas capres yang ditawarkan. Pemilih cerdas pasti tahu mana caleg yang korup dan mana caleg yang tidak korup. Tahu mana capres yang korup dan capres yang tidak korup. Pemilih cerdas akan memilih parpol yang mempunyai visi dan misi yang baik dan realistis.

Contoh:

Si A memilih caleg Puan Maharani caleg dari PDI-P yang setelah dipelajari ternyata track recordnya baik

Si A memilih capres Jokowi capres dari PDI-P yang setelah dipelajari ternyata track recordnya baik.

Apa yang dilakukan pemilih cerdas?

Pemilih cerdas akan memilih caleg/capres berdasarkan kriteria profesionalitas, kapabilitas, kualitas, integritas, kompetensi, prestasi, track record, kepribadian dan kriteria lainnya yang baik.

Salahkan memilih parpol korup/terkorup?
Pertanyaan itu tentu saja salah. Sebab yang dipilih sebetulnya manusianya. Kalau kita memilih parpol, maka pengurus parpol itu yang akan memilihkan calegnya. Tapi pemilih cerdas tidak akan memilih parpolnya, melainkan memilih caleg yang tidak korup dan capres yang tidak korup.

Analogi
Anda rajin shalat di Masjid “Alhamdulillah”. Ternyata Anda tiga kali kemalingan motor. Apakah Anda akan mengatakan masjid itu sebagai masjidnya maling? Padahal, motor Anda hilang karena salah Anda sendiri karena tidak dilengkapi dengan kunci tambahan.

Contoh:

Kenapa banyak rakyat memilih PDI-P atau Partai Golkar atau Partai Demokrat, padahal PDI-P, Partai Golkar dan Partai Demokrat adalah partai korup/terkorup? Jawabannya, rakyat masih mempunyai kepercayaan terhadap parpol-parpol tersebut dan tahu kalau tidak semua politisinya korup. Anggota parpol yang baik juga masih banyak. Ini fakta. Artinya, kalau ada parpol yang sebagian politisinya korup dan sebagian lagi tidak korup, berarti pemilihnya juga ada dua macam. Yaitu, pemilih cerdas dan pemilih tidak cerdas.

Kesimpulan

1.Pemilih cerdas akan memilih caleg/capres yang berkualitas (apapun parpolnya)

2.Pemilih tidak cerdas akan memilih berdasarkan ilmu kira-kira dan bisa salah pilih.

Semoga bermanfaat.

Saran

Jangan menggunakan “Logika Gebyah Uyah”, yang menganggap semua caleg/capres adalah caleg/capres korup.

-Pilih parpol yang mempunyai ideologi yang baik
-Pilih capres yang mempunyai track record yang baik
-Pilih caleg yang mempunyai track record yang baik

Catatan

Banyaknya politisi yang korup merupakan kesalahan dan tanggung jawab parpol dan pemerintah di mana parpol tak mampu menampilkan caleg/capres yang benar-benar berkualitas dan pemerintah tak mampu menyelenggarakan pemilu yang benar-benar berkualitas.

Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku Berlogika

Sejak 1973

LOGIKA-JikaPakarLogikaBicaraTentangKebenaran

LOGIKA. Sebuah kata yang seringkali diremehkan orang. Bahkan jika ada pakar ilmu logika mengucapkan kata “logika”, maka dia akan mendapatkan senyuman atau tertawa sinis. Bahkan tak jarang ucapan-ucvapan pakar logika disalahkan. Padahal, seseorang yang benar-benar memahami ilmu logika tentu tahu, bahwa yang menyalahkan pendapatnya 100% adalah orang-orang yang tidak paham ilmu logika.

Apa beda logika dan ilmu logika?

1.Logika

2.Ilmu logika

Ad.1.Logika

Logika adalah cara berpikir yang dimiliki semua orang, bahkan termasuk hewan dan mahluk halus sekalipun. Sifatnya subjektif dan spekulatif. Hasilnya secara umum adalah kesimpulan yang lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Ad.2.Ilmu logika

Ilmu logika adalah ilmu tentang cara berpikir yang logis dan benar berdasarkan “rumus-rumus” berlogika yang telah teruji kebenarannya sejak jaman Yunani hingga kapanpun, karena bersifat objektif, rasional dan faktual. Serta, lebih banyak benarnya daripada salahnya.

Sebutkan beberapa contoh

Cukup lima contoh saja

Contoh 1:

Pakar ilmu logika:

Menerima uang money politic, walaupun tidak memilih sesuai permintaan yang memberinya, hukumnya tetap haram.

Mereka yang tidak paham ilmu logika:

Menganggap tidak haram. Menganggap itu rejeki yang tidak boleh ditolak. Toh, tidak memilih sesuai permintaan yang memberinya. Kan, sama dengan saweran.

Analisa logika:

Orang yang memberi uang money politik, tentu ada pamrihnya. Antara lain, supaya dia sebagai caleg dipilihnya. Jika uangnya diterima, walaupun tidak memilih, tetap haram hukumnya. Sebab, dia telah menipu pemberi uang seolah-olah akan memilihnya. Apalagi, menikmati uang yang bersifat batil itu.

Contoh 2:

Pakar ilmu logika:

Salah pilih caleg/capres, haram hukumnya, sebab ternyata yang dipilihnya adalah seorang koruptor.

Mereka yang tidak paham ilmu logika:

Saya memilih kan berdasarkan prasangka baik. Berdasarkan husnudzon. Kalau dia ternyata korupsi, ya bukan salah saya. Salah yang korupsi, dong!

Analisa logika:

Orang memilih itu harus didukung pengetahuan tentang hal-hal yang akan dipilih. Ibarat membeli buah durian. Karena tidak bisa membedakan mana durian yang isinya baik dan mana yang isinya busuk, maka dia asal membeli saja. Sampai di rumah, durian yang disangka baik, ternyata busuk. Salah yang berjualan? Enggaklah. Salah yang membeli durian busuk itu.

Contoh  3:

Pakar ilmu logika:

Golput belum tentu warganegara yang tidak baik

Mereka yang tidak paham ilmu logika:

Golput itu apatis,skeptis,pesimis,tidak punya kontribusi kepada bangsa dan negara,golput tidak menyelesaikan masalah,golput tidak berhak mengritik pemerintah dan lain-lain. Golput bukan warganegara yang baik.

Analisa logika:

Golput merupakan sikap yang tegas untuk tidak memilih capres/caleg busuk. Daripada salah pilih lebih baik tidak memilih. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Warganegara yang baik ukurannya banyak, antara lain membayar pajak, mematuhi peraturan perundang-undangan dan lain-lain. Justru, salah pilih bisa menghasilkan koruptor.

Contoh 4:

Pakar ilmu logika:

Memakai gelar S1 dan S2 sekaligus merupakan cara memakai gelar yang salah. Misalnya, SE, MM.

Mereka yang tidak paham ilmu logika:

Memakai gelar kan hak pribadi. Apalagi S2 didapatkan dari perguruan tinggi lain.

Analisa logika:

Memkai hak kalau tidak pada tempatnya dan salah, ya tetap saja salah. Gelar S1 dan S2 adalah gelar berdasarkan strata. Sesudah S1 naik ke S2, maka yang dipakai adalah hanya S2 saja. Ibarat di militer, sehabis pangkat LetKol, maka pangkat yang dipakai adalah Kol. Bukan LetKolKol.

Contoh 5:

Pakar ilmu logika:

Gelar H/Hj merupakan gelar yang menalahi logika.

Mereka yang tidak paham ilmu logika:

Gelar H/Hj kan sudah merupakan tradisi turun temurun. Sudah ratusan tahun. Bahkan sudah membudaya.

Analisa logika:

Gelar H/Hj bukan ajaran Tuhan, bukan ajaran Nabi Muhammad SAW, bukan ajaran Al Qur’an, tidakada hadisnya dan merupakan gelar narsis karena diberikan oleh dirinya sendiri. Memang tradisi atau budaya. Tetapi, merupakan tradisi atau budaya yang salah sebab tidak didukung norma tradisi dan norma budaya yang kuat.

Demikianlah, cukup banyak orang melakukan kesalahan berlogika karena menggunakan logika-logika subjektif-spekulatif.

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

Oleh: ffugm | Maret 19, 2014

LOGIKA: Apakah Kritik Harus Disertai Solusi?

FACEBOOK-LogikaApakahKritikHarusDisertaiSolusi

BANYAK orang berpendapat, “mengritik harus disertai solusi”. Apa iya? Kritik itu apa, sih? Solusi itu apa, sih? Memangnya kalau kritik tanpa solusi merupakan kritik yang tidak baik dan salah? Memangnya kalau disertai solusi bisa menyelesaian masalah? Memangnya kalau tidak ada solusi, tidak akan ditanggapi? Apalah solusi sama dengan gagasan atau usul? Apalah kritik yang baik harus ada solusinya? Memangnya solusi pasti sesuai dengan selera yang dikritik? Memangnya kalau dikritik pasti ada tindakan perbaikan sesuai dengan solusi yang diusulkan?
Apakah kritik itu?

Secara umum, kritik berasal dari kata “kritein” yang berarti “hakekat”, “substansi”, “inti masalah”, “pokok persoalan”. Kritik adalah sebuah usaha menunjukkan hakekat dari sebuah hal atau suatu hal dari sisi kekurangannya dengan tujuan yang baik yaitu agar segi kekurangannya itu bisa diperbaiki oleh pihak yang dikritik dengan ataupun tanpa disertai solusi.

Macam-macam kritik

Secara umum ada dua macam kritik:

1.Kritik konstruktif

2.Kritik destruktif

Ad.Kritik knstruktif

Kritik konstruktif yaitu kritik membangun dengan cara menunjukkan kekurangan agar kekurangannya diperbaiki oleh pihak yang dikritik.

Contoh:

Pemilu offline dinilai boros dan rentan dengan kecurangan. Oleh karena itu perlu diadakan pemilu offline yang bebas dari hacker dan kecurangan.

Ad.2.Kritik destruktif

Kritik destruktif yaitu kritik dengan cara menunjukkan kekurangan namun disertai saran-saran yang justru menambah besar kekurangannya tersebut.

Contoh

KPK dikritik kurang efektif. Oleh karena itu wewenang KPK perlu dibatasi. Antara lain untuk melakukan penyadapan, KPK harus meminta ijin pengadilan setempat. Dan saran-saran lain yang justru membuat kekurangan KPK semakin besar.

Sasaran kritik

Secara umum, sasaran kritik ada dua kategori

1.Subjek yang bermasalah

Yang dimaksud subjek yang bermasalah yaitu pribadi-pribadi yang perilakunya bermasalah

Contoh:

Seorang presiden yang penakut, tidak tegas, curhat melulu, hidup bermewah-mewah, boros, pesolek, mudah curiga, licik, curang dan perilaku negatif lainnya.

2.Objek yang bermasalah

Yang dimaksud objek bermasalah yaitu, ucapan ataupun kebijakan-kebijakan dari seorang pemimpin yang dianggap tidak jujur dan merugikan pihak-pihak tertentu.

Contoh:

Kebijakan pemilu yang menggunakan kotak suara dari kardus, DPT yang masih kacau, banyaknya data fiktif, larangan lembaga survei untuk melakukan quick count sebelum hasil pemilu dilaksanakan dan banyaknya saksi palsu serta indikator-indikator kecurangan lainnya.

Kritik tanpa solusi

Kritik tanpa solusi yaitu sebuah kritik yang ditujukan kepada meeka yang dianggap pandai, mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi, punya kompetensi, bisa dipercaya dan dipandang bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan dengan caranya sendiri sehingga kekurangan-kekurangan itu tidak ada lagi.

Contoh:
Seorang pemilik E-KTP mengeluh di surat pembaca, bahwa dia tidak bisa meng-update data E-KTP-nya di kantor kelurahan maupun kantor kecamatan di mana pemilik E-KTP merupakan warga pindahan.  Tanpa disertai solusi karena penyelenggara E-KTP pastilah tenaga-tenaga yang ahli dan kompeten untuk memperbaiki sistem update tersebut.

Kritik dengan solusi

Kritik dengan solusi ditujukan kepada pejabat tertentu melalui surat kabar, namun kritik pertama dan seterusnya tidak ada tanggapan. Maka, dibuatlah kritik dengan solusi. Atau, kritik ulang terhadap perbaaikan-perbaikan yang tidak sesuai dengaan yang dihaarapkan oleh pihak penulis kritik.

Contoh:

Kebijakan sterilisasi yang hanya mengandalkan sistem tilang. Ternyaata tidak efektif (walaupun sudah pernah dikritik). Maka, perlu kritik ulang yang disertai solusi agar kebijakan sterilisasi disertai kebijakan untuk meninggikan sepaarator busway, membuat palang pntu portal berumbai dan membuat polisi tidur yang hanya bisa dilalui bu TransJakarta tetapi tidak bisa dilewati kendaraan lainnya.

Apakah kritik tidak harus disertai solusi?

Apakah sebuah kritik tidak harus disertai solusi tergantung permasaalahannya. Kalau permasaalaahannya sangat sederhaana, tentu tidak perlu disertai solusi.

Contoh:

Jalan di DKI Jakarta berlobang-lobang tiap kali habis hujan atau banjir. Tidak harus disertai solusipun pihak Pemda DKI Jakarta sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Apakah mengritik harus disertai solusi?

Apakah sebuah kritik harus disertai solusi, tentunya kalau objek kritiknya merupakan kekurangan yang fatal akibatnya. Oleh karena itu perlu diberikan solusi untuk mengatasinya.

Contoh:

Sistem NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang diterapkan sekarang ternyaata bersifat NIK Daeah di mana setiap pindah kota, NIK Daerahnya pasti berubah, karena juga ada kode wilayahnya. Hal ini bisa berakibat fatal jika dijadikan dasar pembuatan DPT. Bank data kependudukan juga kacau dan bahkan bisa menimbulkan KTP Nasional atau E-KTP ganda. Oleh karena itu perlu diberi solusi, agar membuat NIK Nasional, di mana pemilik KTP walaupun bepindah-pindah kota, NIK Nasionalnya tidaak berubah. Hal ni sangat bagus buat pembuatan Bank Data Kependudukan.

Kesimpulan

-Jadi, apakah sebuah kritik harus atau tidak harus disertai solusi tergantung kualitas subjek yang dikritik dan juga tergantung daripada kualitas objek yang dikritik.

-Oleh karena itu, anggapan bahwa semua kritik harus disertai solusi merupakan anggapan yang salah.

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

 

JFKennedy-wwwthefamouspeoplecom

ORANG yang tidak memahami Ilmu Logika secara sempurna, seringkali menelan mentah-mentah kata-kata bijak, motivasi, atau pendapat yang sepintas kelihatannya benar, padahal tidak benar atau tidak sesuai dengan maksud yang sesungguhnya. Di sebuah TV Swasta  menjelang pileg (pemilu legislatif) ditayangkan berkali-kali ucapan JF Kennedy yang memberikan kesan bahwa seolah-olah mereka yang golput itu merupakan rakyat yang tidak berbuat apa-apa atau dianggap tidak punya kontribusi kepada negara. Tentu, itu merupakan logika yang sangat menyesatkan.

A.Pernyataan  JF Kennedy
Kennedy dilantik presiden pada tanggal 20 Januari 1961, dan pada saat itulah ia sangat terkenal dengan pidatonya: “Jangan tanya apa yang dapat diperbuat oleh negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kau buat bagi negara!” (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/05/28/john-f-kennedy-jangan-tanyakan-apa-yang-negara-buat-tapi-152426.html)

Kritik terhadap pernyataan JF Kennedy

Pernyataan Kennedy sebagai kutipan dari Cicero dikemudian hari mendapat kritikan, karena bahaya hilangnya peran serta eksistensi individu dalam negara dalam paham totalitarian-integralistik. Seolah warga-negara hanya tunduk dan patuh tanpa sikap kritis pada pelanggaran hukum dan konstitusi yang sebenarnyalah menjadi kontrak sosial individu dan Negara, yang sekarang tak bosan-bosannya kita mengulangi. (Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/05/28/john-f-kennedy-jangan-tanyakan-apa-yang-negara-buat-tapi-152426.html).

Kesalahan logika pernyataan JF Kennedy

1.Pernyataan JF Kennedy memberi kesan, seolah-olah rakyat tidak berbuat apa-apa. Seolah rakyat yang golput tidak punya kontribusi apa-apa terhadap negara. Padahal banyak hal dan kontribusi yang dibuat oleh rakyat buat negara, antara lain:

-Di bidang pajak

-Di bidang seni dan budaya

-Di bidang bela bangsa dan negara

-Di bidang perekonomian

-Di bidang pembangunan

-Di berbagai bidang lainnya.

Justru, rakyat yang harus balik bertanya:

-Apa yang dilakukan oleh negara atas pajak-pajak yang telah dibayarkan rakyat?

-Apa yang dilakukan negara terhadap penegakan hukum, terutama pemberantasan korupsi?

-Apa yang dilakukan negara dalam rangka kedaulatan pangan?

-Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Tidak ada hubungannya dengan pemilu

Kata bijak JF Kennedy yang ditayangkan di TV dan dikaitkan dengan pemilu memberi kesan bahwa:

-”Tidak memilih berarti tidak berbuat apa-apa”.

Ini merupakan logika yang salah san menyesatkan.

Logika yang benar
a-Tentu ini merupakan logika yang sempit, sebab berbuat untuk negara tidak harus memilih dalam pemilu. Apalagi menurut UU Pemilu, memilih adalah hak.

b-Rakyat akan menggunakan hak pilihnya kalau ada capres/caleg yang berkualitas. Sebaliknya,rakyat tidak akan memilih kalau tidak ada capres/caleg yang berkualitas.

c-Dengan tidak memilih karena tidak ada capres/caleg yang berkualitas, maka sesungguhnya rakyat telah menyelamatkan negara dan bangsa dari pemimpin yang dzolim dan korup. Justru, lahirnya seorang yang dzolim dan korup dilakukan oleh mereka yang tidak golput

d-Kualitas pemimpin tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat, tetapi ditentukan oleh berkualitas atau tidak berkualitasnya capres/caleg.

e-Ada perubahan yang lebih baik atau tidak, tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat, tetapi ditentuan oleh berkualitas atau tidak berkualitasnya capres/caleg.
f-Walaupun rakyat golput, kalau capres/calegnya berkualitas, hasilnya berkualitas juga. Sebaliknya, walaupun rakyat tidak golput, kalau capres/calegnya berkualitas, hasilnya berkualitas juga.

g. Walaupun rakyat golput, kalau capres/calegnya tidak berkualitas, hasilnya tidak berkualitas juga. Sebaliknya, walaupun rakyat tidak golput, kalau capres/calegnya tidak berkualitas, hasilnya tidak berkualitas juga.

h.Kualitas pemerintahan ditentukan oleh kualitas capres/caleg, tidak ditentukan oleh golput atau tidak golputnya rakyat.

Sumber foto JF Kennedy: http://www.thefamouspeople.com

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

FACEBOOK-LogikaKataBijakPlatoYangDitafsirkanSecaraMenyesatkan

PLATO memang pernah mengatakan :”The price good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men.”. Terjemahan bebasnya : “Ketidakpedulian Anda terhadap negara, maka hasilnya adalah Anda dipimpin oleh pemimpin yang jahat atau dzolim”. Maksudnya, kalau Anda golpu, tidak memilih pemimpin ataupun wakil rakyat, maka Anda akan dipimpin oleh pemimpin dan wakil rakyat yang jahat atau dzolim”. Orang yang tidak faham imu logika, akan bersifat “sami’ma wa atho’na”, atau “mengiyakan saja” tanpa menggunakan analisanya, tanpa menggunakan rasionya, tanpa menggunakan logikanya dan menganggap tafsir kata bijak itu benar. Benarkah demikian? Ternyata dari sudut ilmu logika, tafsir itu salah.

Kata bijak Plato

“The price good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men.”. Terjemahan bebasnya :”Ketidakpedulian Anda terhadap negara, akan membawa akibat bahwa Anda akan dipimpin oleh pemimpin yang jahat atau dzolim”.

Maksud dari tafsir kata bijak itu

Maksudnya, kalau kita golput, maka kita akan dipimpin oleh pemimpin yang jahat atau dzolim.

Mari kita berlogika

1.Apakah kalau kita tidak golput, kita akan dipimpin pemimpin yang baik?

2.Apakah kalau kita tidak golput, kita akan dipimpin pemimpin yang jahat?

3.Apakah kalau kita golput, kita akan dipimpin pemimpin yang baik?

4.Apakah kalau kita golput, kita akan dipimpin pemimpin yang jahat?

Ad.1.Apakah kalau kita tidak golput, kita akan dipimpin pemimpin yang baik?

Katakanlah, pemilu 2009 rakyat datang ke TPS untuk memilih. Dan terpilihlah SBY. Apakah hasil pilihan rakyat yang tidak golput itu menghasilkan pemimpin yang baik? Ternyata tidak. Semua orang tahu SBY tidak punya prestasi yang signifikan yang bisa dibanggakan. Justru, rakyat dibebani utang Rp 2.500 troliun. Kesimpulan: Tidak golput, ternyata tidak menghasilkan pemimpin yang baik.

Ad.2.Apakah kalau kita tidak golput, kita akan dipimpin pemimpin yang jahat?

Katakanlah,pilgub DKI Jakarta, rakyat datang untuk memilih Gubernur DKI. Boleh pilih Foke boleh pilih Jokowi. Ternyata, yang terpilih bukan Foke tetapi Jokowi. Kesimpulan: Tidak golput, ternyata menghasilkan pemilih yang baik.

Ad.3.Apakah kalau kita golput, kita akan dipimpin pemimpin yang baik?

Katakanlah,kita golput. Kita tidak memilih Atut sebagai Gubernur Banten. Apakah kalau kita tidak memilih siapa-siapa, akan muncul gubernur yang baik? Ternyata, kita golputpun menghasilkan gubernur yang tidak baik alias tersangka korupsi besar-besaran.

Ad.4.Apakah kalau kita golput, kita akan dipimpin pemimpin yang jahat?

Katakanlah, kita golput. Tidak memilih Risma Triharini sebagai Walikota Surabaya, apakah sikap golput kita akan menghasilkan Walikota Surabaya yang jahat dan dzolim? Ternyata, walaupun kita golput, tetap bisa menghasilkan walikota yang baik dan banyak memiliki prestasi nasional maupun internasional.

Kesimpulan

1.Terbukti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap golput dan tidak golput dengan pemimpin yang baik maupun tidak baik. Padahal, kebenaran sebuah logika haruslah ada korelasi signifikan antara kebenaran premise mayor dengan premise minor (kalau dari sudut silogisme). Atau, kebenaran sebuah logika haruslah sesuai dengan fakta, objektif dan rasional (kalau dari sudut epistemologi).

2.Dengan demikian, kalau ada yang menafsirkan kata bijak Plato tersebut sebagai “ Kalau kita golput, maka kita akan dipimpin oleh pemimpin yang jahat dan dzolim” adalah sebuah tafsir dan kesimpulan logika yang sangat menyesatkan.

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

FACEBOOK-LogikaJokowiNyapresDKIJakartaAkanDipimpinSeorangGubernurNonmuslim

SUDAH ada kepastian, Jokowi atau Joko Widodo dipastikan dicapreskan PDI-P maupun Megawati , sebagai capres 2014, walaupun belum ada persetujuan dari Presiden RI, SBY. Dengan asumsi Jokowi pasti terpilih sebagai Presiden RI, maka jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta akan digantikan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Namun, bagi sebagian orang, terutama sebagian umat Islam,tentu ada yang merasa kurang sreg kalau Jakarta dipimpin seorang gubernur yang nonmuslim. Masalah buat Lu?

Sumber permasalahannya

Antara lain dan terutama  dari :

-Terjemahan dari dua surah Al Quran:  Al Imran 28 dan Al Ma’idah 51.

“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Sumber: http://retakankata.com/2013/09/28/haramkah-pemimpin-non-muslim/).

Kemudian muncul persoalan haram dan tidak haramnya pemimpin nonmuslim

Ada dua penafsiran/penerjemahan.

1.Haram

2.Tidak haram

3.Haram atau tidak haram harus dilihat konteksnya

Ad.1.Haram

Secara umum, pengertian haram adalah apabila lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya

Apabila mengikuti terjemahan surah di atas (yang dianggap benar oleh sebagian umat Islam) maka:

-Memilih maupun mempunyai pemimpin (pemimpin apapun juga) yang nonmuslim haram hukumnya.

Alasannya

Kata “auliya” dalam kedua surah tersebut diterjemahkan sebagai “pemimpin-pemimpin”, terutama pemimpin politik.

 Contoh:

-Presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah/kades dan semua orang yang disebut “pemimpin” yangberagama nonmuslim.

Ad.2.Tidak haram

Secara umum, pengertian tidak haram adalah apabila lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya.

Jika mengikuti terjemah yang benar, maka memilih nonmuslim, terutama pemimpin politik di Indonesia yang nonmuslim, tidak haram hukumnya.

Alasannya:

Terjemahan kata “auliya” sebagai “pemimpin-pemimpin” tidak tepat karena yang dimaksudkan bukan “pemimpin wilayah” atau bukan “pemimpin politik”.

Contoh:

Negara-negara Islampun bisa menerima pemimpin nonmuslim

Baca selengkapnya di:
http://politik.kompasiana.com/2013/09/27/negara-negara-islam-pun-menerima-pemimpin-non-muslim-593656.html

Ad.3.Haram atau tidak haram harus dilihat konteksnya

Haram atau tidak haram, harus dilihat duduk persoalannya secara objektif, rasional dan cerdas.

Alasannya:

1-Kalau pemimpin nonmuslim itu bersikap memusuhi Islam dan dzolim dan korup, maka haram hukumnya

2-Kalau pemimpin nonmuslim itu bersikap tidak memusuhi Islam, tidak dzolim dan tidak korup, maka tidak haram hukumnya.

Ad.1.Seorang bupati nonmuslim yang mempersulit perizinan berdirinya masjid.

Ad.2.Lurah Susan, walaupun nonmuslim, tetapi dia tidak dzolim dan tidak memusuhi agama maupun umat Islam

Kebenaran Al Quran

Ada dua macam kebenaran Al Quran.

1.Kebenaran mutlak

2.Kebenaran relatif

Ad.1.Kebenaran mutlak

Al Qur’an yang tertulis dalam bahasa/huruf Arab, merupakan Al Qur’an yang benar secara mutlak hingga Kiamat Qubro

Ad.2.Kebenaran relatif

Al Qur’an berupa terjemahan atau penafsiran, bersifat relatif. Artinya, bisa benar bisa tidak benar, karena yang menerjemahkan adalah manusia yang bisa jadi mempunyai keterbatasan.

Logika

Ada dua macam logika

1.Logika dogmatis-pasif

2.Logika dogmatis-aktif

Ad.1.Logika  dogmatis-pasif (fanatik buta)

Sami’na wa-atho’na, kami dengar dan kami taat (fanatik buta).
“Fanatik -dalam bahasa Arab disebut ta’ashub- adalah sikap mengikuti seseorang tanpa mengetahui dalilnya, selalu menganggapnya benar, dan membelanya secara membabi buta. Fanatik terhadap kyai, ustadz, atau ulama bahkan kelompok tertentu telah terjadi sejak dahulu “ (Sumber: http://rumaysho.wordpress.com/2009/05/22/sami’na-wa-atho’na/

Ad.2.Logika dogmatis-aktif (fanatik rasional)

Yaitu sebuah sikap yang tidak langsung membantah atau membenarkan pendapat guru agamanya, kecuali untuk hal-hal yang diyakini pasti benar dan diyakini banyak orang pasti  salah. Namun jika ada pendapat yang belum diyakini benar atau belum diyakini salah, maka pendapat itu akan dikajinya dengan cermat berdasarkan ilmu logika yang dipahaminya secara sempurna.

Logika memilih pemimpin

Lebih baik dipimpin pemimpin nonmuslim tetapi cerdas, tegas, berani, jujur, bersih dan amanah daripada dipimpin seorang pemimpin muslim yang dzolim dan korup.

Siapakah Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama?

-Ahok adalah mantan Bupati Kabupaten Belitung Timur yang memiliki prestasi yang baik dan track record yang baik pula

-Ahok, sekarang (pada saat artikel ini ditulis) adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta yang sampai hari ini prestasi dan track recordnya culkup baik.

-Ahok beragama nonmuslim yang sejak kecil hingga sekarang tidak pernah memusuhi dan merugikan agama lain.

Kesimpulan

-Haram hukumnya memilih atau memiliki pemimpin yang dzolim dan korup, apapun agamanya

-Tidak haram hukumnya, memilih atau memiliki pemimpin yang bijaksana, cerdas, bersih, jujur, takwa, tegas, berani, amanah, apapun agamanya.

-Untuk hal-hal yang bernuansa Islam, maka wajib hukumnya dipimpin oleh seorang pemimpin yang beragama Islam atau muslim.

Saran

1.Janganlah menilai orang dari agama atau ibadahnya, tetapi nilailah perilakunya, prestasinya dan track recordnya.

2.Belajar ilmu agama, sebaiknya diimbangi belajar Ilmu Logika secara sempurna supaya tahu mana yang sesungguhnya benar dan mana yang sesungguhnya salah.

Bacaan selengkapnya di:
http://retakankata.com/2013/09/28/haramkah-pemimpin-non-muslim/

Catatan

“Nonmuslim” dan “kafir” itu dua hal atau dua konteks yang berbeda.

Hariyanto Imadha
Pecinta logika terapan
Sejak 1973

Oleh: ffugm | Maret 17, 2014

LOGIKA: Benarkah Jokowi Ingkar Janji?

FACEBOOK-LogikaBenarkahJokowiIngkarJanji

BETUL! Jokowi memang pernah berjanji akan menjadi Gubernur DKI Jakarta paling tidak selama satu periode atau lima tahun. Itupun diakui oleh Jokowi. Namun, karena Jokowi mendapat tugas dari partainya, PDI-P, untuk menjadi capres, maka Jokowipun terpaksa mengingkari janjinya. Lantas, muncullah pro-kontra soal pencapresan Jokowi. Sebagian mengatakan Jokowi ingkar janji, munafik, pengkhianat warga DKI Jakarta, tidak konsekuen, tidak konsisten, tidak bertanggung jawab terhadap DKI Jakarta serta warganya dan berbagai caci maki dan celaan lainnya. Maka, pertanyaannya adalah bolehkah Jokowi ingkar janji dan secara umum bolehkah kita ingkar janji?

Apakah  ingkar janji?

Ingkar janji yaitu apabila apa yang dikatakan, baik lisan maupun tulisan, baik atas keinginannya sendiri aupun keinginan orang lain, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan subjektif maupun objektif yang sebenarnya dengan ataupun tanpa alasan.

Beberapa macam janji

Secara umum, ada beberapa macam janji.

-Janji religi (mengatasnamakan Tuhan)

-Janji politik (saat kampanye)

-Janji bisnis (ada perjanjian)

-Janji marital (pernikahan)

-Janji yuridis (secara hukum)

-Dll.

Secara umum, kenapa orang bisa ingkar janji?
Secara umum, ada beberapa hal yang menyebabkan orang ingkar janji. Antara lain:

-Lupa

-Situasi dan kondisi tidak mengijinkan

-Sakit ataupun meninggal

-Ada tugas lain yang lebih penting

-Ada kepentingan pribadi yang mendesak

-Ditahan KPK dan semacamnya

-Diculik

-Kecelakaan lalu lintas

-Tidak mempunyai kemampuan untuk menepati janji

-Jika ditepati, justru lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya

Komentar orang terhadap ingkar janji (secara umum)

Secara umum orang punya persepsi bahwa ingkar janji merupakan sikap yang antara lain:

-munafik

-tidak konsisten (plintat-plintut)

-tidak konsekuen (mencla-mencle)

-berbohong

-tidak bisa dipercaya

-dll.

Komentar orang terhadap ingkar janji (secara khusus)

-Ingkar janji boleh saja asal ada alasan yang kuat dan rasional.

Bolehkan ingkar janji?

Ingkar janji boleh saja asal memenuhi kondisi-kondisi tertentu dan dengan alasan yang kuat dan rasional.

-Karena situasi dan kondisi yang bersifat memaksa

-Karena tugas yang lebih penting

-Demi kepentingan yang lebih luas

-Demi manfaat yang lebih besar

-Tidak merugikan bangsa dan negara

-Ada pertimbangan yang rasional

-Tidak melanggar peraturan perundang-undangan

-Ada dukungan luas dari masyarakat

-Kewajibannya untuk menepati janji bisa diwakilkan kepada orang lain

-Lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya

Bolehkah Jokowi ingkar janji?

Boleh saja Jokowi ingkar janji karena ada alasan yang kuat dan rasional seperti yang disebutkan di atas.

Apakah Jokowi benar-benar ingkar janji?

Ternyata tidak. Justru, apabila Jokowi terpilih sebagai presiden, Jokowi lebih leluasa menepati janji-janjinya. Tidak hanya mengatasi banjir di Jakarta, tetapi juga mengatasi banjir se-Indonesia. Tidak hanya mengatasi sampah di Jakarta, melainkan mengatasi sampah se-Indonesia. Tidak hanya mengatasi kemacetan di Jakarta, melainkan mengatasi kemacetan se-Indonesia. Tentu, untuk menepati janji-janji itu Jokowi mendelegasikan tugas dan wewenangnya ke seluruh aparat bawahannya.

Hariyanto Imadha
Pecinta Logika Terapan
Sejak 1973

Older Posts »

Kategori